Hay Pak Guru

Hay Pak Guru
Part 65


__ADS_3

"Beneran nggak papa Aa tinggal sebentar?" Ragu Alvi, tak ingin meninggalkan gadisnya seorang diri di rumah sakit, takut membutuhkan sesuatu. Namun ia juga harus pergi untuk memenuhi tanggung jawabnya sebagai guru.


Sebagai wali kelas XII Ipa 3, Alvi mempunyai tanggung jawab besar, sebentar lagi para siswanya akan menghadapi ujian Akhir. Di mana ia tidak boleh bersantai, izin tidak masuk begitu saja. Bagaimana dengan nasib para siswa jika ia terus izin? memberi tugas tanpa di jelaskan? sama saja rokok tanpa api, tidak akan bisa di gunakan.


Gadis berambut indah tersebut mengembangkan senyumnya, sembari menganggukkan kepala. "Nggak papa Aa, cuma beberapa jam doang. Kasian teman-teman aku, mana pelajaran Aa kimia lagi."


"Sudah jam sembilang." peringatan Alana.


Mendapat izin dari sang istri, Alvi bangkit dari duduknya, mengendong sang gadis kembali ke brangkar mendudukkannya perlahan-lahan. Memperbaiki posisi kaki gadisnya agar tidak kesakitan.


"Udah nyaman?"


"Iya."


Alvi mengacak-acak rambut indah Alana. "Aa pergi dulu, janji setelah pulang langsung kesini."


Alana hanya mengangguk.


"Nggak usah nunggin Aa, kalau lapar makan aja."


"Assiap kapten." kekeh Alana memberi hormat pada Alvi. "Pulangnya jangan lupa bawain laptop sama ponsel aku ya A." pintanya, sebenarnya ia tidak ingin Alvi pergi, belum lagi ia akan merasa kesepian tanpa benda pipih di sampingnya.


Alvi merongoh saku celananya, memberikan benda pipih pada sang gadis. "Iya. Sekarang pakai ponsel Aa aja dulu, takutnya ada apa-apa."


"Aa pakai Apa?"


"Tau no ponsel bisnis Aa kan? kamu telfon itu aja kalau ada apa-apa."


Alana hanya mengangukkan kepalanya, tersenyum sembari melambaikan tangannya ketika Alvi akan membuka pintu. "Dah Aa, hati-hati di jalan, jangan lirik cewek lain, ntar aku ngambek," ucapnya ngasal.


Tidak jadi membuka pintu, lelaki itu malah berbalik, kembali berjalan ke arah brangkar membuat Alana mengernyit heran.


"Kenapa?"


"Aa lupa sesuatu," jawab Alvi mengaruk tengkuknya.


"Lupa?" beo Alana mengedarkan pandangannya ke samping kiri dan kanan, ikut mencari. "Memangnya Aa...."


Cup

__ADS_1


Setelah mengecup dan sedikit mengu*lum bibir tipis istrinya, barulah lelaki itu benar-benar pergi.


Lain halnya dengan gadis di atas brangkar, ia terus memengangi bibirnya, ini bukan yang pertama, ia sering melakukannya, tapi hari ini terasa sangat berbeda, lelaki yang menciumnya sudah pergi. Namun, sensasinya masih sangat terasa.


"Baperkan aku." Alana menutup wajahnya dengan kedua tangan, mengeleng-geleng tidak jelas, salting sendiri padahal lelaki yang menciumnya sudah pergi.


"Pengen lagi," gumamnya.


***


Memastikan tidak ada orang di ruangannya, Alana nekat turun dari ranjang, ia ingin segera sembuh agar tidak menyusahkan orang-orang di sekitarnya.


Perlahan-lahan ia menjejakkan kakinya ke lantai, rasa sakit dan nyeri yang ia rasakan tak membuatnya putus asa. Alana mulai berjalan dengan tangan bertumpu pada brangkar, saat ini gadis itu hanya mengelilingi brangkar.


"Ssstttt." Disisnya menahan sakit. "Lo pasti bisa Al." semangatnya pada diri sendiri, ia harus mengerakkan kakinya sesering mungkin, agar tidak kaku.


Ceklek


Pintu ruangan rawat Alana terbuka menampilkan pria paruh baya yang sangat tampan. Acuh, satu respon yang langsung di keluarkan Alana, gadis itu masih kesal dengan kejadian kemarin.


"Kenapa kamu berdiri seperti itu? di mana Alvi?" tanya Ayah Kevin, mengedarkan pandanganya ke segala penjuru mencari sosok menantu yang sering membuatnya uring-uringan sendiri.


Ayah Kevin membantu Alana kembali duduk di brangkar, gadis itu menurut tetapi belum mengeluarkan suara.


"Ngapain ayah nyariin suami aku? mau di pukul lagi, iya?" tanya Alana.


Ayah Kevin terdiam, baru kali ini putri kesayangannya berkata ketus padanya.


"Alana tahu ayah melakukan ini karena sayang sama Alana dan tidak ingin Alana terluka. Tapi apa ayah tahu? secara tidak sengaja orang yang membuat Alana terluka itu ayah."


"Kamu cinta sama Alvi?" selidik Ayah Kevin. "Apa Alvi juga cinta sama kamu?"


Glek, Alana diam membisu, jika pertanyaan ia mencintai Alvi atau tidak, ia bisa dengan mudah menjawabnya. Tapi tentang Alvi yang mencintainya? ia belum yakin, perlakuan Alvi memang hangat tapi lelaki itu tidak pernah mengungkapkan cinta padanya.


"Iya Alana cinta sama Aa Alvi," jawabnya yakin.


Sudut bibir Kevin terangkat. "Bagaimana dengan Alvi?"


"Te...tentu saja Aa juga cinta." Ragu Alana. "Nggak mungkin kita menikah jika tidak saling mencintai."

__ADS_1


Tangan Alana terasa sangat dingin melihat tatapan dan raut wajah serius Ayahnya, apa yang sebenarnya di ketahui pria paruh baya di depannya?


"Bukannya kalian menikah demi keuntungan masing-masing? kamu menikah karena tidak ingin di jodohkan, sedangkan Alvi, demi memenuhi permintaan kakeknya." Tatapan Ayah Kevin semakin tajam, jika saya ia tahu dari awal, pernikahan antara Alvi dan Alana tidak akan terjadi. Sayangnya ia baru tahu setelah sebulan pernikahan putrinya.


Alana semakin meremas jari-jari tangannya, akhirnya apa yang selama ini ia takutkan terjadi, salahkan dirinya karena terlalu meremehkan sang Ayah.


Melihat ketakutan sang putri, ayah Kevin meraih tangan Alana mengengamnya, memberikan kehangatan. "Ayah tanya sekali lagi, kamu cinta sama Alvi atau tidak?"


"Aku cinta sama Alvi ayah." lirih Alana, takut Ayahnya nekad memisahkan mereka, ia tahu betul bagaimana sifat otoriter sang ayah.


"Jangan bohongin ayah, ayah tidak akan maksa kamu menikah dengan Azka."


"ALANA CINTA SAMA ALVI!" suara Alana naik satu oktaf. "Jika ayah sayang sama Alana. Alana mohon jangan pisahin aku sama Aa." tangis gadis berambut indah tersebut pecah.


"Sayang." panggil Ayah Kevin selembut mungkin, mengelus punggung bergetar putrinya, ia tidak punya maksud membuat Alana menangis apa lagi berniat memisahkan mereka dengan paksa. Ia hanya ingin memastikan putrinya menjalani rumah tangga atas dasar cinta. Ia tidak ingin masa lalunya terulang lagi pada putri kesayangannya.


"Jangan nangis, ayah cuma ingin memastikan apa Alvi cinta sama kamu atau tidak? apa dia tidak punya pacar sebelum kalian menikah?"


"Aa cinta sama Aku, dan dia tidak punya pacar, jadi jangan pisahin aku sama suami aku." lirih Alana.


"Jika itu permintaan putri ayah, ayah akan melakukannya. Tapi untuk menerima Alvi Ayah butuh waktu." jujur Ayah Kevin, sebelum pernikahan terjadi ia menyukai karakter Alvi yang tegas dan pemberani, itulah sebabnya ia merasa di khianati, karena Alvi masuk ke kehidupan putrinya dengan kebohongan dan Kevin benci penghianatan.


"Kenapa?" Alana mencoba menatap mata elang Ayah Kevin.


"Kamu tahu jawabannya, kamu duplikat Ayah."


"Maafin aku sama Aa karena bohongin ayah." sesal Alana.


"Maaf di terima." Ayah Kevin mengecup kening putrinya.


"Bunda tahu?"


"Tentu saja prinses, ayah nggak pernah nyembunyiin hal sekecil apapun sama bunda." Ayah Kevin menyentil cuping hidung putrinya. "Kejujuran dan kebohongan adalah?" Ayah Kevin mengantung kalimatnya, menunggu sang putri melanjutkan.


"Kunci kesejahteraan dan kehancuran." jawab Alana.


"Jadi tahu maksud ayah?"


"Iya ayah, Alana harus selalu jujur sama Ayah dan suami Aku, dan jangan menyimpang kebohongan walau sekecil biji kurma."

__ADS_1


...TBC...


Ingatkan hari ini hari apa? Vote pasti masih amanlah🤭, jangan lupa lempar buat Aa Alvi biar semangat ngambil hati ayah Mertua.


__ADS_2