Hay Pak Guru

Hay Pak Guru
Part 168


__ADS_3

Sesuai perjanjian Alana dan Dave, mereka ke pusat perbelanjaan berdua saja. Mengelilingi Mall mencari apa-apa saja yang di perlukan. Langkah Alana terhenti di sebuah toko jam tangan khusus laki-laki.


"Kak, masuk sini dulu nggak papa kan?" tanya Alana takut Dave keberatan menunggunya.


Mendapat persetujuan, Alana melangkah masuk dengan senyuman bahagia, di bayangannya saat ini adalah senyuman menawan sang suami. Ia memilih beberapa jam tangan yang cocok untuk Alvi, sesekali meminta pendapat pada Dave.


"Yang ini gimana kak?" tanya Alana.


"Untuk siapa?"


"Suami gue," sahut Alana.


Dave senyum kecut di balik tubuh Alana, sebucin itukah gadis di depannya? sampai hal sekecil apapun pasti Alana mengigat suaminya. Bolehkah Dave meminta duplikat Alana versi seiman dan tentu saja masih sendiri?


Dave mengambil sebuah jam tangan lumayan menarik dari yang lainnya, setelah Alana memperlihatkan foto Alvi juga perkejaannya.


"Kayaknya ini cocok buat suami lo,"


"Nona, bagaimana kalau yang ini," tawar pelayan memperlihatkan jam tangan couple.


Mata Alana berbinar mendengar tawaran sang pelayang, ia juga memilih satu jam tangan coupel.


***


Satu hari sebelum hari H semuanya sudah siap, semua panitia di izinkan istirahat di rumah, untuk hadir di pesta besok malam. Merasa gerah setelah lari pagi di sekitar komplek, gadis itu memutuskan untuk mandi.


"Ah segarnya," gumam Alana mengosok rambutnya dengan handuk kecil sembari berjalan keluar dari kamar mandi. Tanpa memperhatikan sekitar, ia melepas handuk yang melilit tubunya, hingga memperlihatkan lekukan tubuh polos yang sangat seksi.


Orang yang sedang duduk santai di sofa menelan ludahnya dengan kasar, matanya tak berkedip memindai tubuh polos itu dari atas sampai bawah. Apa lagi saat melihat buah mengantung itu. Gelenyar aneh mulai menyebar di seluruh tubuhnya, ia sudah biasa menikmatinya, tapi melihatnya seperti ini rasanya sangat berbeda.


"Yah di tutup," keluh Alvi.

__ADS_1


Mendengar suara seseorang Alana sontak berbalik dan terkejut melihat suaminya duduk anteng di sofa dengan kemeja bagian atas sudah terlepas. Buru-buru ia meraih handuk lalu melilit tubuhnya, ia hanya memakai pakaian dalam belum yang lainnya.


"Jangan senyum gitu," cicit Alana menunduk wajahnya memerah menahan malu apa lagi melihat senyuman Alvi.


"Sini sayang, nggak kangen sama Aa, Hm?" panggil Alvi menepuk tempat di sampingnya.


Alana mendekat setelah berpakaian lengkap, ia meraih tangan Alvi lalu menciumnya. Duduk di pangkuan sang suami lalu mengecup pipinya.


"Kebiasaan kalau datang nggak pernah ngabarin," gerutu Alana. "Untung aku nggak jantungan."


"Pestanya belum lewat kan?" tanya Alvi.


Laki-laki itu sengaja ke Boston sebelum ke London hanya untuk menemani sang istri ke pesta Dansa. Mendengar nada kekecewaan Alana malam itu membuat Alvi tak tega.


"Belum, Aa mau nemenin aku?"


"Tentu saja, Aa nggak mau kamu di peluk sama orang."


"Makin cinta deh sama Aa, sayaaaaang banget,"


"Kenapa, Hm?"


"Aa sakit?"


"Nggak, kepala doang agak pusing."


"Ini dari minggu lalu? Aa kok nggak dengerin aku sih? aku udah bilang ke dokter dan istirahat, ini malah ngunjungin aku, mana jauh banget pula." omel Alana tak suka Alvi tidak mendengarkannya.


"Marah kalau nggak di dengerin. Giliran dia, nggak mau dengerin orang," gerutu Alana turun dari pangkuan Alvi, sementara yang di omeli hanya diam. Bukan tanpa alasan, tapi Alvi sangat suka melihat Alana mengomel.


Alana menyerahkan pakaian santai pada Alvi. "Ganti baju dulu!"

__ADS_1


"Cuma efek kangen sayang, meluk kamu juga pasti sembuh,"


"Cimi ifik kingin, bintir jigi simbih," cibir Alana. "Gitu aja terus sampai mati, terus aku jadi janda banyak yang deketin, nikah lagi dan lupain Aa," cerocos Alana tiada henti memberikan obat juga air pada Alvi.


"Cuma demam biasa, nggak bikin orang mati Al,"


"Ngejawab aja terus," sinis Alana.


Alvi langsung terdiam, melihat tatapan mematikan sang istri, ia merangkak naik ke tempat tidur, membaringkan tubuhnya lalu nenarik selimut.


"Iya...iya...Aa istirahat, udah ngomelnya sayang."


Alana masih mencibir tanpa suara, membereskan pakaian Alvi di sofa.


"Alana cantik istrinya Aa Alvi. Sini sayang!" panggil Alvi mengoda takut Alana benar-benar marah.


"Napa?"


"Cium." Memajukan bibir tebalnya.


Cup


"Peluk." Merentangkan tangannya lebar-lebar.


Alana mengelengkan kepalanya, sepertinya kabel kulkas dua pintuanya rusak, jadilah hangat seperti ini. Ia merangkak naik ke tempat tidur, membaringkan tubuhnya di samping sang suami. Memeluk Alvi begitu erat, mengelus rambut lebat Alvi yang kini menyembunyikan wajahnya di antara dua gundukan kenyal yang hanya terhalang kain tipis.


"Jangan pernah berubah ya A," gumam Alana. "Aku nggak tau gimana hidup aku tanpa Aa. Jangan jadikan kekurangan aku sebuah alasan untuk pergi."


"Tidur Al, nggak usah ngelantur gitu,"


...****************...

__ADS_1


Jangan lupa Like, komen, dan Vote.



__ADS_2