Hay Pak Guru

Hay Pak Guru
Part 99


__ADS_3

Alana dan Disya mengantar Alvi sampai di depan pintu untuk berangkat bekerja, Ia mencium punggung tangan Alvi sebelum berangkat.


"Hati-hati A."


"Hm." mengecup kening Alana, lalu mengelus rambut Disya. "Ayah pergi dulu, jangan rewel sama bunda."


"Iya ayah."


Sepeninggalan Alvi, Alana dan Disya kembali bermain, rumah yang bersih itu kini kembali berantakan akibat ulah 2 gadis mengemaskan dengan karakteristik yang sama persis. Mereka bermain hingga lelah, sampai tertidur di atas karpet sama-sama.


Merasa seseorang memanggil namanya, Alana terbangun dan mendapati bi Neneng duduk di sampingnya. Ia duduk sila mengerjap-erjapkan matanya, mengumpulkan nyawa yang entah kemana, lama ia terdiam sebelum bi Neneng kembali bicara padanya.


"Di depan ada tuan Arka nyariin Neng sama Neng Disya," ujar Bi Neneng.


"Kak Arka?" tanya Alana sembari menguap, ia meraba-raba karpet mencari benda pipih yang selalu menemaninya.


Ah pantas saja Arka sudah pulang, sudah siang ternyata, sebelum menemui Arka, Alana menyempatkan ganti baju terlebih dahulu di kamar, bisa-bisa Alvi mengamuk jika melihat ia menemui seseorang dengan pakaian seterbuka sekarang.


Ia menghampiri kak Arka tanpa Disya, tak lupa ia juga menyuruhnya masuk, di lihat dari pakaiannya lelaki itu baru pulang.


"Disya belum bangun kak."


"Nggap papa, saya sudah rindu." Arka tersenyum kearahnya. "Boleh saya masuk?" lanjut Arka.


Alana mengangguk, ia memerhatikan Arka saat mengendong Disya dengan sangat hati-hati, terlihat dari cara mengendong dan sorot mata lelaki itu, Arka sangat menyayangi anak semata wayangnya.


"Disya nggak ngerepotin kamu sama Alvi kan?"


"Nggak, malah saya sangat senang Disya main kerumah."


"Makasih ya Al."


"Sama-sama kak."

__ADS_1


Usai mengantar Arka dan Disya sampai di depan pintu, ia hendak menuju kamar, tetapi langkahnya terhenti dengan deringan telfon di genggamannya, senyumnya mengembang melihat siapa penelfon itu.


Tanpa mengucapkan salam, ia langsung nyerocos begitu saja.


"Kangen lo, sampai nelfon gue?"


"Jalan Yuk!" ajak Salsa di seberang telfon.


"Kapan?"


"Sore nanti."


"Assiap, kita ketemu di tempat biasa aja."


Setelah memutuskan sambung telfon, Ia segera bersiap-siapa walau hari masih siang, rencananya ia akan mengunjungi Alvi di kantor terlebih dahulu untuk meminta izin.


Alana memutuskan naik taksi walau sopir pribadi yang di sediakan Alvi menawarkan diri, rasanya risih dan terlalu berlebihan jika seperti itu. Sebenarnya ia ingin bawa mobil sendiri, tapi yang ada bukannya di izinin pergi Alvi malah akan memarahinya.


Senyumnya mengembang ketika taksi yang ia tumpangi berhenti tepat di depan perusahaan Anggel Fasion Group. Namun, senyum itu tak bertahan lama ketika melihat Alvi sedang berbicara dengan seorang wanita seksi, bahkan wanita itu dengan genitnya menyentuh lengan Alvi.


"Aa!" teriaknya sembari berlari kecil menghampiri Alvi yang langsung menoleh setelah ia panggil.


Teriakannya mampu mengalihkan fokus seluruh pengunjung di lobi perusahaan, tetapi ia tidak peduli. Alana langsung memeluk lengan Alvi tepat di hadapan wanita yang tengah menyodorkan segelas kopi.


"Aku datang Aa sayang." mengerjap-erjapkan matanya. "Aku rindu banget sama Aa."


Alvi menoleh kearah lain, tak sanggup melihat betapa mengemaskannya Alana, ini sebuah kejutan untuknya. Alvi mengulum senyum tak sanggup lagi menyembunyikan kegemasannya.


"Aa tahu sebesar apa rinduku?" mengoyang-goyangkan lengan Alvi.


Senyum Alana semakin lebar melepas pelukannya. "Sebesar ini." membuat lingkaran besar.


Tanpa mengatakan apapun Alvi mengamit pinggang Alana agar segera pergi dari sana, ia membawa gadisnya masuk ke lift menuju ruangan nya.

__ADS_1


Kini tinggal Hendri di lobi, laki-laki itu menyambar segelas kopi di genggaman gadis yang baru saja merusak mood Alana.


"Terimakasih kopinya cantik." mengedipkan mata, ikut menyusul sang bos lewat lift lain.


Sepeninggalan Hendri, lobi seketika heboh apa lagi di kalangan kaum hawa, mereka saling berbisik-bisik memuji bahkan meleleh melihat CEO baru mereka yang sangat dingin tersenyum hanya seorang gadis.


"Huaa mak meleleh hati adek."


"Pengen jadi Nona Alana."


"Gemes banget."


Jika Lobi sedang hebo lain di ruangan serba hitam yang terlihat menyeramkan itu. Alana tak semegemaskan tadi, kini gadis itu cemberut membelakanginya.


"Aku nggak suka Aa kayak tadi?" lirih Alana setengah merengek.


"Nggak suka gimana?"


"Nggak suka Aa dekat dengan wanita lain, aku cemburu."


Alvi mengulum senyum, memeluk Alana. "Kenapa harus cemburu hm? Aa nggak bakal tergoda sama siapapun , jika pun iya, percayalah di alam bawah sadar Aa masih ada kamu."


"Jangan tinggalin aku hanya karena aku nggak sempurna A."


Alvi melerai pelukannya, menyampirkan anak rambut Alana kebelakang telinga agar ia lebih leluasa melihat wajah cantik sang istri, ia menagkup kedua pipi cubi gadisnya.


"Jangan bahas itu lagi Al, kamu udah janji sama Aa. Percaya sama Dokter Dion, dia pasti melakukan yang terbaik."


"Istrinya dokter Dion aja lama baru hamil, gimana aku mau percaya." cibir Alana.


"Tapi sekarang kan sudah hamil sayang, jadi harapan kita itu banyak. Jangan di bahas lagi atau Aa marah."


"Iya."

__ADS_1


...TBC...


Yang penasaran sama kehidupan dokter Dion kalian boleh langsung meluncur ke Novel "Hamil tanpa Suami" karya Tita Dewahasta.


__ADS_2