
Alana. Gadis itu terpaku di atas sajadah setelah melaksanakan sholat subuh, kebiasaan yang selalu Alvi berikan kini tiba-tiba hilang, lelaki yang selalu mencium keningnya usai sholat malah langsung berdiri tanpa menyapanya terlebih dahulu.
"Sebenarnya aku salah apa?" lirih Alana sembari melipat sajadah bekas Alvi dan juga miliknya, lalu menyimpannya ke dalam lemari.
Gadis itu sengaja tidak tidur usai sholat subuh, takut bangun kesiangan. Sembari menunggu matahari terbit, Alana membantu bi Neneng menyiapkan sarapan pagi untuk dirinya dan juga Alvi.
"Bi." Panggil Alana. "Bahan-bahan dapur apa saja yang habis? bantuin saya buat daftarnya ya, sekalian sama yang lain."
"Mau belanja bulanan Neng?"
"Iya bi, mumpung hari libur, Aa juga kayaknya nggak kerja."
Setelah membantu bi Neneng, Alana kembali ke kamar dan mendapati Alvi baru saja keluar dari kamar mandi. Gadis itu menghampiri Alvi.
"Sini aku bantu keringin." Meminta handuk untuk mengeringkan rambut Alvi. Namun, lelaki itu malah berjalan ke arah lemari sembari menggosok rambutnya yang basah.
"Nggak usah." Cuek Alvi.
"Aa kenapa?"
"Aku kenapa?" tanya Alvi balik.
"Belakangan ini cuek banget sama aku. Aku ada salah? jangan gini, aku nggak suka."
"Aa!"
"Apa?"
Alana mengeleng, ia mengurungkan niatnya mengajak Alvi keluar hari ini ketika melihat lelaki itu berpakaian rapi lengkap dengan kemeja kerjanya.
"Aa masuk kerja?"
"Hm."
"Sesibuk itu ya? sampai hari libur aja masih masuk?"
"Hm."
Alvi terus fokus merapikan jas nya di depan cermin, menghiraukan keberadaan Alana yang terus bertanya padanya. Rasa kecewanya terlalu dalam melihat Alana pulang dengan Dirga. Sementara dirinya dibuat menunggu selama beberapa jam.
Kali ia ia ingin menjera Alana, sampai gadis itu menyadari kesalahannya. Walau begitu, ia tetap memperhatikan gadisnya.
"Aa marah kenapa? bukannya yang harus marah itu aku? suami macam apa yang nggak ingat sama sekali dengan hari lahir istrinya, jangan kan memberi hadiah, ucapan selamat aja nggak."
"Penting banget? bukannya orang-orang tersayang kamu sudah memberi selamat?"
"Tapi aku cuma nunggu ucapan dari Aa."
"Ucapan dari aku nggak penting buat kamu."
"Aa kenapa sih? kalau ada masalah itu di bicarain baik-baik Aa, bukan malah di diemin. Aku bukan dukun, peramal ataupun Tuhan yang bisa baca pikiran dan hati seseorang."
"Aa yang harusnya nanya, mau kamu apa sebenarnya? Pergi dengan Dirga dan membuat Aa menunggu di rumah."
"Aku nggak pergi dengan pak Dirga Aa."
__ADS_1
Alvi senyum sinis, sampai kapan Alana akan berbohong padanya? "Jika kalian tidak pergi bersama, kenapa Dia bisa ngantar kamu pulang? sampai pegangan tangan segala."
"Aa salah paham, aku pulang sendiri, dan kebetulan bertemu pak Dirga di depan rumah, dia ngembaliin ponsel aku."
"Bisa kebetulan gitu."
"Dahlah , terserah Aa mau percaya atau nggak, yang penting aku udah jujur. Aa tahu sendiri aku nggak suka orang bohong, otomatis aku nggak bakal bohong, apa lagi menyembunyikan sesuatu sama Aa."
Tak ingin berdebat di pagi hari, gadis itu mengalihkan perhatiannya pada benda pipih serba guna tersebut. Namun hati dan pikirannya tidak sejalan, ego dan pikirannya mengatakan biarkan saja, namun hatinya tetap merasakan sakit mendapat perlakuan dingin dari Alvi, ia tidak sanggup hidup serumah dengan orang cuek yang seakan-akan tidak mengigikan keberadaannya.
"Ngapain masih si sini? sana pergi!" usir Alana.
"Nggak usah nangis."
"Siapa yang nangis? orang air matanya keluar sendiri." sahut Alana mengusap bulir-bulir bening yang membasahi pipinya. Tak ada niatan untuknya menangis, namun air matanya keluar begitu saja.
"Jangan lupa sarapan." ujar Alvi sebelum keluar dari kamar.
"Nggak usah sok perhatian!" teriak Alana.
Sama seperti kemarin, hari ini Alana mengurung dirinya di dalam kamar hingga siang hari, lupa makan karena sibuk maraton drakor.
"Neng!" panggil Bi Neneng sembari mengetok pintu kamar Alana.
Mendengar panggilan bi Neneng, Alana bangun kemudian membuka pintu kamar. "Kenapa Bi?
"Makan dulu Neng."
Alana menepuk jidatnya, merasa konyol dengan dirinya sendiri, selalu saja ia lupa makan jika keasikan nonton. "Aku mandi dulu bi."
"Bibi mau buang sampah?"
"Iya Neng."
"Sekalian sampah di depan kamar ya bi, nggak ada yang terlalu kotor kok, cuma kertas dan bungkusan cemilan." pinta Alana tak enak.
Sesuai perintah Alana, bi Neneng mengambil sampah di depan kamar majikannya. Saat akan mengikat kantong sampah, ia tak sengaja melihat kotak berwarna biru, karena kepo bi Neneng mengambilnya.
Bi Neneng memberikan kotak berwarna biru itu pada Alana.
"Dari siapa bi?" tanya Alana.
"Nemu di tempat sampah neng."
Alis Alana terangkat, di tempat sampah? kapan ia membuang kotak hadiah? karena penasaran Alana membuka kotak berwarna biru itu. Gadis itu terganga melihat isinya, hanya 4 lembar kertas berwarna, namun harganya lumayan fantastis.
"Aa!" teriak Alana.
"Kenapa Neng?" kepo bi Neneng.
Alana mengeleng, terus memandangi empat lembar kertas itu, dua lembar di antaranya sudah hangus jam 4 subuh tadi. Dan dua lembar lagi akan hangus 6 jam yang akan datang.
Perasaan gadis itu nano-nano, antara bahagia dan juga sedih. Bahagia mengetahui bahwa Alvi menyiapkan kejutan untuknya, namun sedih karena tidak bisa menggunakannya lagi.
"Hua hampir aja keinginan aku terwujud, kenapa Aa harus salah paham sih. Kan sayang uangnya." sedih Alana memanyungkan bibir pink nya.
__ADS_1
"Emang harganya mahal banget ya Neng?" kepo Bi Neneng.
"Banget Bi, mana enteng banget di buang ke tempat sampah." menatap nanar 2 tiket penerbangan ke Soul dan 2 tiket konser Astro.
Harga satu tiket pesawat 12 juta lebih, belum lagi harga tiket konser 2,4 juta lebih. Dan semua hangus tanpa di pakai.
Tanpa menghabiskan makan siangnya, Alana berlari menuju kamarnya, ia akan mencari apapun yang mungkin Alvi sembunyikan karena salah paham padanya. Ia membuka Freezer depan kamar, Freezer yang belum pernah ia buka beberapa hari ini. Di sana ada dus kue lumayan besar.
"Aku kira Aa lupa." lirih Alana, memandangi kue tar yang sangat mewah, di sana terlukis wajahnya dan juga ucapan manis dari Alvi.
Merasa bersalah akan sikapnya tadi pagi, Alana menurunkan egonya, ia menghubungi Alvi lebih dulu, bagaimanapun ia yang mengusir Alvi pagi tadi.
"Aa maafin aku."
Read
Gadis berambut indah tersebut menghela nafas panjang, kenapa Alvi susah sekali di bujuk jika sedang marah? tak ingin putus asa, Alana terus mengirim pesan pada Alvi hingga pria itu membalasnya.
"Iya aku salah."
"Pulang jam berapa?"
"Jangan terlalu malam ya, aku takut sendirian."
"Aa."
Lagi-lagi pesannya hanya di lihat oleh Alvi, baiklah jika dengan cara halus Alvi tak ingin membalas, ia akan memakai cara licik.
"Aku cuma mau bilang, nggak usah pulang! malam ini aku nginep di rumah bunda."
Senyum Alana mengembang ketika melihat status Alvi, sedang Typing.
"Aa di jalan menuju rumah." Isi pesan Alvi.
"Nah kan, makanya nggak usah sok ngambek kalau nggak mau tidur sendiri." seru Alana ketika membaca pesan Alvi.
Gadis itu tak membalas lagi, ia bersiap menyiapkan sesuatu untuk suaminya, agar guru kimia itu tidak salah paham lagi dan memaafkannya.
...TBC...
Hay...hay dedek gemes balik lagi nih, ada yang kangen sama Aa Alvi nggak ya🤔, kalau ada jangan lupa ramaikan komen, biar dedek gemes semangat up untuk besokðŸ¤ðŸ¤—🤗.
Oh iya dedek gemes bawa novel nggak kalah seru, bisa di baca sambil nunggu Aa Alvi up. Dedek gemes bawa sekaligus tiga nih.
Mampir yuk di novel kakak online aku @Aveiiii
Ada lagi nih karya kakak online aku Lagi @Zain wushi
Eh satu lagi hampir lupa, Novel calon besan Aa Alvi nih, @Ntamelia. Jangan lupa mampir, di jamin seru, vampire nya suka nyosor🤣🤣
__ADS_1