Hay Pak Guru

Hay Pak Guru
Part 44


__ADS_3

Alana. Gadis berambut indah tersebut kini menikmati makan siangnya di kantin sekolah bersama Salsa dan anggota inti lainnya. Asik melempar canda tawa hingga kehadiran adik kelas membuat bangku yang mereka duduki hening seketika.


Adik kelas bernama Vana tersebut menundukkan kepalanya takut. Takut akan tatapan mengintimidasi Azka dan Samuel.


"Ka-k Alana." Gugup Vana.


Alana menoleh lalu melempar senyum pada adik kelasnya, melihat ketakutan di mata Vana, gadis berambut indah tersebut sontak menatap Azka dan Samuel.


"Mau gue colok mata kalian!" Ujar Alana mengarahkan jari telunjuk dan jari tengahnya pada Azka dan Samuel. "Lo buat dia takut bego." Makinya.


"Lo kali yang bego." Sangah Azka tak terima, sementara Samuel kembali menunduk menyantap makanannya.


"Kenapa?" Keenan menengahi tidak tega melihat wajah pucat Vana.


"Kak Alana di panggil pak Dirga keruangannya sekarang. Mari kak." setelah mengatakan perintah dari pak Dirga dengan langkah lebar Vana meninggalkan meja yang sangat menyeramkan tersebut.


"Lo buat masalah lagi?" Selidik Keenan.


"Nggak, enak aja." Alana mengelengkan kepalanya, ia merasa belum membuat masalah dengan pak Dirga.


Tidak ingin kelaparan, Alana menuntaskan acara makannya, lalu menemui pak Dirga di ruang guru. Sebelum masukin ruangan pak Dirga ia tidak sengaja berpapasan dengan Alvi.


"Hay pak Alvi." Sapanya sok sopan, namun Alvi belum juga bergemin di depannya, menghalangi langkah Alana memasuki kantor.


Alvi bergeming, terus memandagi Alana dengan alis terangkat, seperti bertanya ada keperluan apa gadis berambut indah tersebut ke ruang guru selain menemui dirinya, karena Alana tidak ikut organisasi apapun di sekolah.


Mengerti arti tatapan Alvi, gadis berambut indah tersebut angkat bicara. "Mau ketemu pak Dirga, pak."


"Ngapain." Lirih Alvi.


Alana mengedikkan bahu acuh mendorong dada bidang Alvi agar ia bisa masuk dan segera menemui pak Dirga. Dan disinilah ia berada di ruang pak Dirga. Guru PPKN pelajaran favoritnya, hanya di pelajaran ini nilainya tinggi, itulah mengapa ia ingin menjadi pengacara, rasanya sangat menyenangkan mempelajari pasal-pasal dan undang-undang.


"Alana Seizha? benar kan?" Tanya Dirga.


"Iya pak."


"Nilai kamu sangat tinggi di mata pelajaran saya."

__ADS_1


Senyum Alana mengembang, baru kali ini ada yang memuji prestasinya selain ayah dan bundanya walau ia tidak pernah masuk tiga besar di kelasnya.


"Makasih pak."


Gadis menarik, kesan pertama yang Dirga dapat dari gadis di hadapannya, baru kali ini ada siswa yang mempunyai minat besar dalam pelajaran PPKN, biasanya pelajaran yang diminati siswa hanya Matematika, dan Bahasa Inggris.


"Kamu mau jadi asisten saya?" Tawar Dirga tak ingin menyia-nyiakan pengetahun Alana, apa lagi saat mengetahui bahwa gadis di depannya bercita-cita menjadi pengacara.


"Huh?" Kaget Alana.


"Jadi asiten saya di sekolah, selain itu kamu bisa ikut saya jika ada klien." Tawar Dirga lagi.


Pekerjaan Dirga sebernarnya memang pengacara, guru hanyalah pengisi waktu luannya sekaligus membagikan pengalaman pada siswa-siswi yang membutuhkan.


Mata Alana berbinar mendengar tawaran mengiurkan dari Pak Dirga, sudah lama ia penasaran bagaimana sebenarnya kehidupan seorang pengacara, dan jika ia jadi asisten pak Dirga tentu saja ia akan tahu semuanya.


"Mau." Jawab Alana tanpa memikirkan apapun, bahkan ia belum meminta persetujuan pada Alvi.


***


Alana menghampiri Alvi di ruang kerjanya memeluk leher pria tersebut tanpa memikirkan bahwa Alvi sedang sibuk. Ia selalu memegang kata-kata kakek Farhan saat mengunjugi pria tua itu di rumah sakit.


Alvi yang mendapat serangan tiba-tiba hanya bisa memegang lengah putih Alana yang setia melingkar di lehernya dengan kepala gadis tersebut bersandar pada bahunya.


"Aa aku punya kabar bahagia." Alana juga menganti nama panggilan dirinya dengan aku, merasa terlalu formal jika menggunakan kata saya jika hanya berdua seperti sekarang.


"Apa?" Tanya Alvi meletakkan berkas yang ia pegang di atas meja, lebih memilih mendengar cerita gadis kecilnya ketimbang mengerjakan urusan perusahaan.


"Aku jadi asistennya pak Dirga, hebat bukan." girang Alana.


Sontak genggaman Alvi pada lengan mulus Alana terlepas, wajah yang tadinya teduh kini kembali datar mendengar nama Dirga keluar dari mulut Alana.


Dirga, pengacara pribadinya sekaligus saingannya sejak SMA, walau ia selalu menang dari segala aspek. Tapi tidak menutup kemungkinan Dirga akan merebut Alana darinya. Jika itu terjadi ia tidak akan membiarkannya. Alana hanya miliknya dan akan tetap seperti itu selamanya.


"Aa."


"Hm."

__ADS_1


"Ih kok responnya gitu aja." Kesal Alana, melepaskan rangkulannya pada laher Alvi lalu berjalan keluar menuju kamarnya.


Kesal karena Alvi sepertinya tidak berniat mendengarkan ceritanya, kesal Alvi tidak ikut bahagia saat ia merasa bahagia.


Gadis tersebut memandangi dirinya lewat pantulan cermin di dalam kamar mandi, mengembungkan pipinya setelah itu tersenyum, itu ia lakukan berulang kali.


Alana mendengus kala melihat Alvi ikut masuk kedalam kamar mandi lalu berdiri di belakangnya. Alvi semakin maju membuat Alana ikut maju menempelkan tubuhnya pada wastafel.


"Mau ngapain?" ketus Alana.


"Sikat gigi." Singkat Alvi, tangan kanannya meraih sikat gigi sementara tangan kirinya meraih odol membuat lengan kekar tersebut melingkar sempurna di tubuh mungil Alana.


Alvi menatap Alana lewat pantulan cermin. "Selamat!" ujarnya tulus menumpu dagunya pada pundak gadis berambut indah tersebut.


Sontak senyum Alana merekah, kalimat ini yang ia tunggu sedari tadi. Ia berbalik lalu mengalungkan tangannya di leher Alvi, sementara Alvi menumpu tangannya pada wastafel.


"Selamat." ulang Alana sembari memandangi jakung Alvi naik turun yang terlihat sangat mengoda, dengan nakal telunjuk lentik tersebut menyentuh jakung Alvi, mengerakkan telunjuk indahnya seiram dengan jakung pria tersebut.


Mambuat sang empunya sesak nafas di buatnya.


"Aa mengijinkanku?"


"Apapun yang membuatmu bahagia."


"Jadi makin cinta." Alana menubruk tubuh kekar Alvi yang kini panas dingin akibat kelakuannya tadi.


Deg. Jantung Alvi berdetak lebih cepat dari biasanya. Apakah ini yang di katakan jatuh cinta? beginikah rasanya? sangat mendebarkan, dan baru kali ini Alvi merasakannya.


Lain halnya dengan Alana yang kini mengembangkan senyumnya, menikmati detak jatung Alvi seirama dengan detak jantungnya yang juga ikut berdebar.


Alana tidak butuh pengakuan dari Alvi ia hanya ingin pembuktian karena ia tahu, Alvi bukanlah pria romantis yang pandai merangkai kata seperti drama yang sering ia tonton. Alvi sosok pria kaku dengan sejuta daya tarik di dalamnya.


Gadis tersebut melerai pelukannya, meletakkan tangan lentiknya pada dada bidang Alvi. "Aa tahu, detak jantung ini yang selalu aku tunggu sejak kita menikah, dan baru kali ini aku merasakannya."


"Aku..."


Belum sempat Alana menyelesaikan kalimatnya, Alvi manarik tengkuk gadis tersebut, menyatukan bibir mereka, perlahan-lahan Alvi mulai melu*mat mengigit kecil bibir tipis Alana. Mambut sang gadis melenguh kemudian membuka mulutnya. Memberi Alvi akses menelusuri, menyesap mulut yang terasa sangat manis itu.

__ADS_1


...TBC...


__ADS_2