
Alana mengantar anak-anak dan suaminya sampai di ambang pintu. Pipi wanita itu di penuhi ciuman dari orang tersayang.
"Mommy sayang, Alha pergi dulu ya." Pamit Alatha. Namun, belum juga melangkah menghampiri Agatha dan Arga yang sudah berada di dalam mobil.
"Udah lima kali," peringatan Alana membuat Alvi tertawa.
"Ih Daddy, Mommy kok nggak peka sih," cemberut Alatha. "Atha, 'kan butuh dana buat ke sekolah."
Alana tersenyum, mengelurkan dua lembar uang merah lalu menyerahkan pada putrinya yang sangat manja itu.
"Kapan Alha di kasih kartu yang warna hitam itu kayak abang?"
"Jangan malak Mommy pagi-pagi sayang."
"Nanti setelah kamu masuk SMA, Daddy bakal buatin juga, sekarang berangkat!"
"Woi kempret, buru nggak lo atau gue tinggal sama Abang!" teriak Agatha di atas mobil.
"Noh kakaknya ngamuk."
__ADS_1
"Janji ya Daddy, awas aja nggak," ancam Altha berlari menghampiri kedua kakanya, dan langsung membuka pintu samping kemudi.
Tidak ada sejarahnya seorang Alatha duduk di jok belakang, apa lagi jika yang menyetir adalah Arga.
Alana melambaikan tangannya setelah mobil yang di tumpangi anak-anaknya mulai meninggalkan pekarangan rumah. Kini ia melirik suaminya.
"Aa berangkat juga ya." Alvi membenamkan bibirnya sedikit lama di puncak kepala sang istri.
"Hati-hati Aa, pulang cepat, nggak ada lembur-lemburan."
"Iya sayang," jawab Alvi.
Ia menghela nafas kasar, melihat kondisi kamar Alatha sangat berbeda dengan kamar Arga dan Agatha.
"Mentang-mentang anak bontot, bersikap semaunya aja. Mana manja banget lagi sama suami aku," gerutu Alana.
Ia memanggil pelayan untuk membersihkan kamar Alatha. Kamar Agatha kamar yang tidak tersentuh, putrinya satu itu menuruni sifat posesifnya, tidak ingin orang asing mengunjungi kamarnya.
Merasa gerah keliling rumah juga sedikit berkebun di taman, Alana kembali ke kamarnya dan menghela nafas panjang melihat berkas di atas meja.
__ADS_1
"Mentang-mentang udah tua, pikunnya mulai kumat," cibir Alana meraih berkas di atas meja dan menyimpannya di atas tempat tidur.
Alana sengaja tidak menghubungi Alvi, karena berencana mengantar dokumen itu seorang diri. Terlebih sudah lama ia tidak berkunjung ke perusahaan suaminya. Ia juga sibuk belakangan ini mengurus firma hukum yang baru saja di resmikan beberapa bulan yang lalu.
Alvi dan Kevin tidak ingin dirinya berkerja di bawah perintah orang lain, jadilah ia diberi tanggung jawab mengelola firma hukum milik Kevin. Firma hukum awal pertemuan Ayah dan bundanya. Juga bukti cinta Ans pada Tari.
Siap dengan setelan kemeja maron dengan kacamata melekat di wajahnya, barulah wanita cantik itu menyambar tas yang telah ia siapkan juga berkas di tempat tidur.
Alana menyetir seorang diri menuju perusahaan suaminya, memarkirkan mobil tepat di depan perusahaan dan menyerahkan kunci mobilnya pada tukang parkir.
Ia melempar senyum ramah saat beberapa karyawan menyapanya. Sedari dulu dan sekarang Alana tidak berubah, baik hati dan suka menolong. Juga bar-bar dan mulutnya sangat berbahaya jika ada yang mengusik.
Mendengar suamianya ada rapat dengan karyawan sebagai pemeriksaan setiap bulannya, ia memutuskan untuk menemui Alvi di ruang rapat.
Langkahnya berhenti di ambang pintu mendengar keributan di dalam sana. Ralat, bukan keributan tapi Alvi sedang marah pada seseorang yang Alana tidak tahu karena belum membuka pintu.
Dari suaranya Alvi sangat marah, bahkan baru kali ini ia mendengar suara Alvi dengan nada sangat tinggi. Selama mereka mempunyai anak Alvi hampir tidak pernah meneriakinya seperti itu.
...****************...
__ADS_1