
Semua di luar dugaan, mereka kira gadis berambut sebahu tersebut akan menangis atau berteriak emosi, namun nyatanya Alana hanya memasang wajah datar. Berjalan meninggalkan orang-orang yang berkerumun memperhatikannya tanpa mengucapkan sepatah katapun.
Amarah yang sedari tadi ia tahan kini meluap kala mendengar ocehan tidak berfaedah keluar dari mulut ondel-ondel bernama Bela.
"Muka aja yang polos, di bawah udah los!" ujar Bela dengan nada mengejek, bersandar pada dinding kelas Ipa 2 bersama antek-anteknya.
Tangan Alana terkepal mendengar ejekan tak mendasar Bela, hanya karena lembaran murahan yang berisikan fotonya bersama pak Alvi memasuki sebuah hotel dengan tulisan besar di bawahnya Open Bo.
"Di jadiin Ratu oleh 6 pangeran, tau-tau bayarannya di gilir." Lanjut Bela membuat Alana hilang kesabaran.
Sudah cukup ia bersabar menghadapi sikap Bela, jika hanya menyangkut dirinya ia akan bersabar tapi kini Bela melibatkan para sepupunya yang tidak bersalah sama sekali. Anggota inti memang nakal tapi mereka tidak pernah membobol anak orang.
Ia bebalik dan
Plak.
Tangan indah mendarat mulus di pipi Bela. Alana lalu menarik rambut panjang Bela kemudian mendorongnya hingga tersungkur ke lantai.
"Awwh." rintih Bela di bantu berdiri oleh teman-temannya.
"Jaga mulut sialan lo itu!" tunjuk Alana penuh amarah, nafasnya naik turun berusaha mengontrol emosi yang ingin meledak dalam dirinya. "Lo bahkan lebih rendah dari gue!"
Alana berbalik, membelah kerumunan teman-teman sekolahnya dengan tatapan tajam bak elang memangsa lawanya. Berjalan menuju parkiran, tujuanya sekarang adalah rumah.
"Hamil duluan ya makanya nikah muda."
"Kasian pak Alvi dapatnya bekas."
Cibiran terus terlontar sepanjang langkahnya hingga teriakan Salsa terdengar.
"Al!" panggil Salsa berlari kearah Alana bersama Anggota inti setelah membereskan kekacauan di dalam sekolah.
"Gue pengen sendiri Sal." Alana menepis tangan Salsa sembari terus berjalan melewati gerbang tinggi SMA Angkasa, entah di mana semua guru hingga tidak ada yang mengurus kekacauan yang terjadi. Kertas yang berhasil mempermalukan dirinya di depan teman sekolahnya.
Kejadian hari ini tidak akan pernah ia lupakan seumur hidupnya.
__ADS_1
"Gue antar pulang." Keenan berlari menuju parkiran mengambil motor sport hitam miliknya.
"Gue pengen pulang kerumah Ken." lirih Alana menyadarkan pipinya pada punggung kekar Keenan, lalu tangannya ia lingkarkan di pinggang wakil Avegas tersebut.
Diam itulah yang di lakukan Keenan, hanya mengangguk kecil menyetujui permintaan sepupu kesayangannya. Keenan tahu sekarang Alana sedang menangis terbukti dengan seragam bagian belakangnya basah.
Alana bukanlah gadis kuat seperti yang kalian pikirkan, ia hanyalah gadis manja yang benci terlihat lemah di depan orang lain.
Keenan hanya bisa memandangi rumah mewah yang sering ia masuki tersebut, tak bisa berbuat apa-apa karena tuan rumah sendiri yang mengusrinya. Ia menelepon pak Alvi sebelum pergi, mengabari apa yang terjadi di sekolah hari ini.
Kembali pada gadis berambut indah tersebut Ia melampiaskan seluruh amarahnya dengan melempar semua barang yang ia punya hingga kamarnya seperti kapal pecah.
Brak!!!
Prang!!!
Brug!!!
"Gus benci...gue benci terlihat lemah!" teriaknya.
"Gue nggak ngelakuain apapun, kenapa semua orang-orang hanya percaya dengan apa yang mereka lihat." Ia mulai terisak.
Tubuh Alana merosot kelantai, bersandar pada kaki ranjang, memeluk kedua lututnya lalu menyembunyikan kepalanya di kedua lipatan tangan. Menangis itulah yang Alana lakukan hingga perasaannya benar-benar legah.
***
Mendapat kabar dari Keenan, bahwa Alana di permalukan disekolah, Alvi meninggalkan pekerjaannya begitu saja di kantor. Sekarang pikirannya di penuhi oleh gadis berambut indah tersebut, Alvin berharap Alana tidak berbuat nekat menyakiti dirinya sendiri.
"Alana!"
Hening tak ada jawaban dari dalam kamar membuat Alvi semakin panik. Beberapa kali ia memanggil namun tetap saja tak ada jawaban, membuatnya nekat mendobrak pintu kamar mewah Alana. Urusan pintu soal belakang, sekarang yang terpenting adalah Alananya.
Pemandangan pertama yang Alvi saksikan yaitu seorang gadis tengah memeluk lututnya. Alvi menghampiri Alana lalu menangkup kedua pipi gadis berambut indah tersebut.
Baru kali ini Alvi melihat Alana serapuh ini, gadis yang biasanya menebar senyum dan selalu ceria kini menangis tak berdaya. Alvi berjanji akan membuat pelaku nya membayar mahal semua perbuatannya.
__ADS_1
"Menangislah!"
Alvi menarik Alana kedalam pelukannya, membiarkan gadis berambut sebahu itu mengelurkan segala keresahan hatinya.
"Aa mereka bilang saya hamil duluan," adu Alana pada Alvi tanpa melepaskan pelukannya.
Alvi tidak mengucapkan apapun, hanya mengeratkan pelukannya, mencoba memberi kenyamanan pada gadisnya.
Dengkuran halus mulai terdengar di indera pendengaran Alvi, mungkin karena terlalu nyaman membuat Alana tertidur di pelukan suaminya. Alvi mengangkat tubuh mungil Alana menuju ranjang, menyelimutinya hingga pinggang.
Duduk di pinggir ranjang memperhatikan wajah sembab Alana. Alvi menyingkirkan anak rambut yang menghalangi wajah cantik gadisnya, lalu mencium mata sebab tersebut tanpa sepengetahuan empunya. Sudut bibirnya sedikit terangkat, entah persaan apa ini, tapi ia tidak tega jika melihat Alana menangis, hatinya juga ikut terluka.
Alvi meraih ponselnya di atas nakas lalu berjalan kearah balkon, ia harus menyelesaikan kekacauan yang terjadi dan memberi pelajaran pada pembuat onar tersebut. Alvi tidak akan mengampuni siapapun yang berani membuat gadis cerianya menangis dan bersedih.
"Cari pelakunya hingga ketemu, lalu tuntut dia dengan kasus pencemaran nama baik!" perintah Alvi.
"......."
"Serahkan semuanya pada Dirga!"
Dirga pengacara pribadi sekaligus saingan Alvi dari segala aspek, mau itu tentang wanita, dan prestasi. Namun mereka tidak benar-benar bermusuhan walau sering berselisih.
Alvi kembali duduk di samping ranjang Alana kemudian mengelus lembut tangan lentik gadis berambut indah tersebut, hal yang hanya berani ia lakukan jika sang empunya sudah tertidur.
Alvi menyeringai. "Apa saya harus membuat kamu hamil seperti yang mereka katakan?" tanya Alvi, walau ia tahu gadis berambut indah tersebut tidak akan mendengarnya.
Entah bagaimana respon yang akan di keluarkan Alana jika mendengar pertanyaan Alvi. Apa ia akan tersipu malu, atau malah menari saking senangnya?
Alvi mencium kening Alana sebelum pergi. "Tidur yang nyenyak." ujarnya kemudian berjalan pergi, masih banyak pekerjaan yang harus Alvi selesaikan.
Sebelum pergi dari kediaman Alana, Alvi menyuruh bi Ijah membereskan kekacauan di dalam kamar Alana. Tidak lupa Ia menyuruh bi Ijah menyiapkan makan siang untuk Alana karena ia yakin gadisnya belum sarapan tadi.
Sepertinya menyembunyikan pernikah mereka bukanlah pilihan yang tepat, tebukti sekarang malah menimbulkan masalah. Alvi kini berubah pikiran tentang pandanganya, ia tidak akan menyembunyikan pernikahannya pada siapapun lagi.
...TBC...
__ADS_1
Yang penasaran dengan kisah Azka dan Salsa bisa mampir sini