Hay Pak Guru

Hay Pak Guru
Part 124


__ADS_3

Membujuk Alana bukanlah hal yang sulit bagi Alvi, terbukti sekarang gadisnya sudah bersikap biasa-biasa saja, menyiapkan segala keperluannya untuk pergi bekerja hari ini.


Alvi membenamkan bibirnya di kening Alana begitu lama setelah mengikat simpul dasi untuknya. Alana juga mengantar Alvi sampai di depan pintu, menyiapkan bekal untuk suaminya.


"Aa pergi dulu, kalau mau jalan-jalan izin sama Aa dulu ya!" pamit Alvi mengelus rambut indah gadisnya yang masih bergelayut manja di lengannya.


Alana mengangguk lucu melepas tautan tangannya di lengan Alvi. "Kalau pulang beliin aku batagor di depan sekolah!"


Titip Alana, pasalnya Alvi ada kelas hari ini.


"Iya sayang."


"Yang banyak tapi."


"Hm."


Alvi melambaikan tangannya sebelum keluar dari pekarangan rumah meninggalkan istrinya.


"Bekalnya jangan lupa di makan Aa!" teriak Alana.


Usai makam siang, Alana mengunjungi rumah Arka si Duda tampan anak satu itu, ia sangat merindukan Disya, hampir sebulan mereka tidak saling menyapa karena tidak ada waktu padahal rumah mereka bersampingan. Yang membatasi hanya pagar yang sangat tinggi.

__ADS_1


Mengucapkan salam adalah hal pertama yang di ucapkan Alana hingga sosok laki-laki tampan berbalut baju kaos putih celana pendek membuka pintu. Alana melempar senyum sama halnya dengan Arka.


"Disyanya ada kak?"


"Ada," jawab Arka.


Lelaki itu menoleh kedalam berteriak memanggil nama anaknya, hingga gadis mengemaskan itu keluar mengendong boneka warna pink dengan rambut di kepang dua.


"Bunda Cantik." girang Disya membuang boneka yang ia gendong lalu merentangkan tangannya.


"Anak bunda." Memeluk Disya dengan sayang.


"Bunda ayo masuk!" menarik tangan Alana.


Arka bersujud mensejajarkan tingginya dengan Disya. "Bunda nggak boleh masuk ke rumah sayang, Nany nggak ada, takut Ayah Alvi marah." Jelas Arka memberi pengertian pada putri kecilnya. "Mau ayah Alvi marah?"


Disya mengeleng.


"Maaf ya Al nggak nawarin kamu masuk."


"Santai aja kak. Demi kebaikan bersama juga."

__ADS_1


Arka tak ikut bermain, ia hanya memerhatikan Alana dan Disya dari kursi teras depan rumahnya. Senyuman tak pernah hilang melihat putrinya begitu bahagia. Seandainya istrinya mau menerima Disya layaknya Alana memperlakukan putrinya mungkin sekarang mareka sangat bahagia. Sayangnya wanita itu lebih memilih karirnya dari pada Ia dan Disya.


"Disya liat! bunda bawa apa buat kamu," Alana membuka paper bag yang ia sembunyikan sedari tadi. "Ta-da..."


Mata Disya berbinar melihat mainan di hadapannya. Sebuah tas berwarna pink jika ia memencet salah satu tombol, tas itu akan terbuka dengan sendirinya menampilkan sesuatu yang sangat menarik. Walau gadis kecil mengemaskan itu tak tahu apa kegunaannya, tetap saja Disya sanga bahagia.



Rasa kepo seketika mengerogoti otak Disya, gadis itu menghamburkan semua isi tas mencari apa saja demi memenuhi keingin tahuannya.


***


Alvi tatep fokus mengerjakan proposal pengajuan proyek penelitian ilmiah yang akan di langsungkan di bandung, tanpa memperdulikan suasana di sekitarnya yang sedikit gaduh dengan kehadiran guru baru yang entah siapa ia tidak peduli.


"Nama Saya Tania Mahardika, semoga kedatangan saya di terima dengan baik."


Fokus Alvi seketika terganggu mendengar nama dan suaraa tak asing itu, ia memutar kursinya menghadap ke pintu dan mendapati perempuan cantik yang selalu mengejar-ejarnya dahulu berdiri di sana.


Suatu kebetulan yang tidak di sengaja, kenapa Tania harus menjadi guru di SMA Angkasa? padahal masih banyak sekolah terkenal lainnya.


"Mohon bimbingannya para senior." Menunduk tetapi lirikannya tertuju pada Alvi.

__ADS_1


...TBC...


Jangan lupa vote, komen, dan likenya. Karena dukungan dari kalian Mood bosteer buat dedek.


__ADS_2