Hay Pak Guru

Hay Pak Guru
Part 34


__ADS_3

Alvi memandangi mata sembab Alana, serta hidung yang masih terlihat merah kini terlelap di dalam mobil, setelah acara perpisahan dengan orang tuanya di bandara. Melihat kedekatan Alana dengan Kevin dan Anin membuat Alvi bisa merasakan bagaimana tidak relanya Alana di tinggal keluar negeri oleh orang tuanya dengan waktu cukup lama.


Padangan Alvi turun ke bibir merah Alana, bibir yang beberapa hari ini sering mengusik pikirannya, mungkin karena dia sudah merasakan betapa manisnya bibir tersebut saat resepsi beberapa hari yang lalu.


"Alana." panggil Alvi namun tak ada sahutan dari Alana.


Baiklah karena tidak ada respon, Alvi semakin mendekatkan diri lalu melepaskan sabuk pengaman yang Alana gunakan, berniat mengendong gadis berambut idah itu. Namun belum selesai dia melepas sabuk pengamanya sang empunya tubuh mengeliat dan membuka matanya.


Hampir tertangkap basah, membuat Alvi salting sendiri, buru-buru dia turun dari mobil meninggalkan Alana sendiri di dalam sana.


Berada dalam satu ruangan dengan pak Alvi dengan status yang tentu saja berbeda membuat Alana cangung secangung-canggungnya. Tidak ada yang membuka suara setelah mereka sampai di apartemen, Alvi sedari tadi diam saja, sementara Alana sibuk meremas tas yang dipakainya hanya untuk menghilangkan kegugupan.


"Saya."


"Pak...maksud saya Aa."


Alvi beralih menatap Alana dengan wajah datarnya.


"Kenapa?"


Alana mengeleng sebagai jawaban. Alvi bangkit dari duduknya sembari berkata. "Saya mandi dulu." ujar Alvi kemudian masuk kedalam kamar.


Bukan apa-apa yang membuat Alana gugup di dekat Alvi. Dia malu jika mengingat betapa agresifnya dia saat resepsi, tanpa meminta persetujuan pemilik bibir tebal tersebut, Alana langsung mencium bibir Alvi di depan semua orang. Alana refleks memegangi bibirnya, sembari menutup matanya.


"Jangan malu...jangan malu, Alvi suami lo Al." gumam Alana.


Untuk menghilangkan kegugupan, Alana maraih remot di atas meja, menyalakan Tv, mencari siaran yang pas untuk pengalihan. Dia bedecak sebal kala mendapati salah satu siaran Tv menayangkan sepasang panda tengah bercuiuman, dan itu kembali mengigatkannya pada kejadian ah sudahlah.


Siaran selanjutnya, lebih parah dari sebelumnya, di mana aktor favoritnya Devan, tengah berciuman di salah satu film yang dia perankan.

__ADS_1


"Apaan sih, pada ngeledekin gue." kesal Alana memutuskan mematikan Tv berbarengan suara pak Alvi terdegar di belakangnya.


"Sana mandi, saya akan kekamar setelah kamu mandi."


Belum juga Alana melangkah, Alvi kembali bersuara. "Malam ini kita akan melakukan apa yang belum di lakukan."


Glek, kenapa perkataan Alvi begitu ambigu di telinganya, ah sudahlah, buru-buru Alana masuk kedalam kamar untuk membersihkan dirinya. Dan benar apa yang di katakan Alvi, setelah dia mandi Alvi masuk kedalam kamar.


"Sudah?" Alvi menghampiri Alana yang kini duduk di pingir ranjang memeluk sebuah boneka. Alana hanya menjawab dengan anggukan.


"Kita lakukan sekarang saja." Alvi mengu lum senyum kala melihat kegugupan di wajah Alana, baru kali ini Alvi melihat gadis berambut indah itu gugup saat berhadapan dengannya.


"Sekarang?" cicit Alana semakin erat memeluk boneka yang ada di pangkuannya.


"Cepat atau lambat kamu akan menghadapinya, jadi kenapa tidak sekarang saja."


"Kamu tidak akan siap jika tidak mencobanya sekarang!" Alvi tetap pada pendiriannya.


Alvi mencondongkan tubuhnya mengambil sesuatu di belakang Alana lalu menyerahkannya pada gadis berambut indah itu.


"Untuk apa?" tanya Alana bingung.


"Buat nyangah pinggang kamu, agar lebih nyaman saat kita melakukannya."


Glek, ingin rasanya sekarang Alana menghilang dari kamar yang terasa sangat panas ini, keringat dingin mulai menghinggapi kening juga tangannya. Alana tersendak kala Alvi menyeka keringatnya.


"Belum melakukan saja kamu sudah keringatan seperti ini."


"Kita akan melakukannya di sofa, ranjang tidak terlalu nyaman." ujar Alvi menarik tangan Alana untuk duduk di sofa yang ada di dalam kamarnya, kemudian meletakkan bantal yang di pegang Alana di belakang punggung gadis berambut indah itu.

__ADS_1


Alana mendesah pasra, kenapa dia merasa kecewa saat pak Alvi malah memberikannya beberapa lembar soal matematika, bukan melakukan apa yang ada di pikirannya. Apa Alana sekarang sudah gila?


Jadi yang yang di maksud Alvi? menyanggah pungungnya agar nyaman saat mengerjakan tugas-tugas Matematika, tidak di rumah, tidak di sekolah Alvi tetaplah Alvi selalu ambisi tentang nilai.


Bukannya mendengarkan penjelasan Alvi, Alana malah memandangi objek yang sangat menarik untuknya, yaitu bibir tebal yang terus bergerak di hadadapannya, ingin rasanya Alana bediri lalu melahap bibir manis tersebut.


Alvi yang menyadari tatapan Alana menghentikan penjelasannya, kemudian membalas tatapan Alana. "Kenapa? kecewa karena pikiran kamu tidak sejalan dengan pikiran saya?" tanya Alvi dengan nada meledek.


"Nggak." jawab Alana kembali fokus pada tugas-tugas yang di berikan pak Alvi.


Alvi mengulum senyum melihat wajah tak berdaya Alana. Tentu saja saja dia sengaja membuat Alana berpikiran yang tidak-tidak, itu pembalasan karena berani bermain-main dengannya. Berani mencuri ciumannya di depan orang banyak. Lagi pula Alvi sudah bertekad akan membimbing Alana hingga lulus nanti agar bisa masuk ke universitas yang di idam-idamkan gadis berambut indah tersebut.


"Saya beri waktu sampai jam 10 malam untuk menyelesaikan semuanya." ujar Alvi. "Satu lagi, kurangi pikiran mesum mu itu." lanjut Alvi sebelum menghilang dibalik pintu kamar menuju ruang kerjanya, tak ingin menggangu konsentrasi istri kecilnya.


"Kita lihat aja nanti, siapa yang akan berpikiran mesum nantinya." seringai licik tecetak jelas di bibir Alana. Baiklah, keputusan Alana membeli baju tidur syar'i batal, Alana akan menguji sampai di aman batas kemapuan Alvi mengendalikan iman nya.


Jangan pernah main-main dengan anak K-popers dan Drakor lovers. Otak mereka sudah tidak polos sejak mengenal drama.


Tak terbiasa belajar hingga larut membuat Alana terlelap dengna pulpen yang masih ada di gengamannya. Alana hanya mengerjakan 23 dari 50 soal yang di berikan Alvi padanya.


Bagi Alvi itu sudah lebih dari cukup, untuk pemula. Alvi akan memulai dari mata pelajaran yang tidak di kuasai Alana terlebih dahulu. Alvi membereskan buku paket dan yang lainnya, kemudian mengendong Alana menuju ranjang karena tak tega membangungkannya.


Bukannya ikut tidur Alvi malah memeriksa hasil pekerjaan Alana, dia mendesah tak percaya melihat jawaban yang di berikan Alana. Hanya 15 dari 23 soal yang terjawab benar. Sudut bibir Alvi terangkat membaca tulisan yang terdapat di ujung kertas.


Saya tahu jawabannya kok, cuma malas aja ngerjainnya, takut Aa jatuh cinta sama saya. Kan repot urusannya.


Alana cantik istri Aa Alvi.


...TBC...

__ADS_1


__ADS_2