
Alvi melirik ponselnya di atas meja, siapa kira-kira yang menganggunya di waktu penting seperti ini. Lelaki itu mengulum senyum mengetahui siapa si penelfon. Ia meraih benda pipih itu di atas meja lalu mengangkat tangannya pertanda presentasi di hentikan sejenak.
"Hendri!" panggil Alvi kemudian keluar dari ruang meeting.
Tahu keinginan sang Ceo, Hendri ganti posisi duduk di kursi kebesaran Alvi, memimpin rapat hari ini untuk ia laporkan pada sang boss.
Sementara lelaki itu kembali keruangannya untuk menjawab panggilan dari gadisnya, baru saja di jawab suara indah itu terdengar nyaring di telinganya.
"Aa nggak ngizinin!" tegas Alvi ketikan Alana izin pergi bersama Dirga.
"Bentar doang, cuma ketemu klien nggak berdua kok ada asisten asli pak Dirga juga."
"Jangan buat Aa marah Al!"
"Aku nangis nih." Ancam Alana di seberang sana, suara isakan mulai terdengar, namun Alvi tetap bergeming tak mengizinkan Alana pergi dengan Dirga untuk kedua kalinya.
"Sayang boleh ya"
"I Love You suamiku Alvino Vernando...muach."
Sudut bibir lelaki itu terangkat mendengar ungkapan sang istri, ah kenapa jantungnya berdebar lebih cepat seperti ini?
"Mungkin jika mendengarnya sekali lagi, Aa bisa goyah," ujar Alvi.
"Aa tampan suamiku, aku cinta sama kamu, aku sayaaaaaaang banget, boleh ya."
Lelaki itu menggigit kepalan tangannya, gemes mendengar suara istrinya yang terus menggungkapkan rasa cinta.
"Baiklah, tapi berangkatnya bareng Aa."
"Meng okey!" Riang Alana. "Aa masih di kantor? aku kesana ya, di rumah pasti sepi."
"Hm, Aa jemput kalau gitu."
"Nggak usah!"
Setelah bertelfonan dengan Alana, Alvi menyuruh sekretarisnya, memesan makanan yang baru saja di sebutkan gadis itu, mereka akan makan siang di kantor.
Pintu ruangan terbuka menampilkan gadis mungil dengan senyuman khasnya.
"Ruangan Aa jauh lebih seram dari ruangan Ayah ternyata." perotes Alana tanpa mengucapkan salam, memperhatikan setiap sudut ruangan kebesaran Alvi. Ruangan yang di dominasi warna hitam, hanya cahaya lampu dan sinar matahari dari luar membuat ruangan ini lebih hidup.
__ADS_1
Gadis itu menghampiri Alvi, mencium punggung tangan lelaki itu. Tanpa di minta Alana duduk di pangkuan suaminya.
"Mau di renovasi?" tawar Alvi.
Alana mengeleng mengalungkan tangannya di leher Alvi. Biarkan ruangan yang mereka tempati ini tetap seperti itu, ia tidak ingin menghilangkan ciri khas dari seorang Alvi. Sudah cukup kamar mereka saja, yang membuat mata Alvi sakit karena di penuhi gambar manusia laut kotak berwarna kuning.
"Aa, aku cantik banget ya?" tanya Alana tiba-tiba.
Alvi hanya mengangkat salah satu alisnya terus menatap wajah cantik sang istri yang semakin hari semakin mengemaskan dengan pipi mengembung, tapi ia tidak berani memuji pipi itu. Devan pernah berpesan padanya, jangan sekali-kali membahas tentang tubuh wanita yang terlihat berisi, mau memuji atau apapun jika tidak ingin bertengkar.
"Sangat." mengecup pipi Alana.
"Pantesan para karyawan Aa menatap aku sampai segitu nya, aku jadi pusat perhatian loh di lobi." Pede Alana. "Mungkin mereka mengira aku sugar Baby Aa." Ia terkekeh semakin erat memeluk leher lelakinya, membuat wajah mereka begitu dekat, saling merasai nafas masing-masing.
Ia perlahan-lahan menutup matanya, ketika merasakan benda kenyal Alvi mendarat di bibirnya, mengulum, ******* bibir tipisnya. Tak ingin kalah ia membalas ******* itu, mengikuti permainan sang suami.
Sesapan yang semakin dalam, mambuat Alana melengguh mengeluarkan suara yang begitu indah di telinga Alvi, membuat gairah lelaki itu semakin terbakar, menyesap lebih dalam mengabsen setiap rongga mulut gadisnya.
Satu persatu kancing kemeja gadis itu terbuka, memperlihatkan gunung yang sangat indah, yang selalu menemaninya setiap malam.
Ceklek
"Aa sesak."
"Jangan bergerak!" perintah Alvi, kemeja bagian depan gadisnya terbuka sempurna, bergerak sedikit saja maka Hendri akan melihatnya.
Kenapa gadisnya sangat ceroboh, masuk tanpa mengunci pintu.
"Kau!" Alvi menatap tajam Hendri. "Apa lagi yang kau tunggu, sana pergi! kau ingin melihat tubuh istriku!"
Glek, Hendri menelan salivanya kasar. "Maaf pak, sudah terbiasa," ujar Hendri menunduk tak berani menatap kedepan di mana bosnya sedang memeluk tubuh seorang gadis.
"Mulai hari ini hilangkan kebiasaanmu itu!" tekan Alvi.
"Baik pak." Hendri menutup pintu rapat-rapat kemudian menatap tajam sekretaris Alvi.
"Kenapa kau tidak memberitahuku bahwa pak Alvi kedatangan istrinya!"
"Is...istri!" Kaget Runi. "Saya kira dia adik pak Alvi." lirihnya.
Kedatangan Alana ke kantor mengegerkan karyawan Anggara Grup, baru kali ini ada seorang gadis yang berhasil memasuki ruangan CEO mereka. Lelaki anti wanita itu secara tiba-tiba menyuruh resepsionis mengizinkan seorang gadis menemuinya.
__ADS_1
"Pentesan bisa masuk." lirih Runi, dirinya saja sudah bekerja hampir dua tahun, namun tak pernah menginjakkan kaki di ruangan yang entah bagaimana bentuknya. Hanya karyawan laki-laki di bolehkan masuk, membuat para karyawan berpikiran tidak-tidak.
Kembali pada sepasang pengantin yang sedang di mabuk asmara tersebut. Setelah kejadian Hendri yang tiba-tiba masuk keruangannya, Alvi tidak lagi melanjutkan kegiatan yang membuatnya malu, kini mereka pindah posisi duduk di sofa dengan makanan di atas meja. Lelaki itu sedikit tekejut melihat porsi makan gadisnya.
"Makannya pelan-pelan." peringatan Alvi.
"Aku lapar banget A, padahal dah makan tadi, aneh kan?" tanya Alana, ia juga merasa aneh dengan tubuhnya sendiri, semua yang ia lakukan di luar dari kebiasaannya.
"Belakangan ini aku sering lapar." adu nya. "Dan...huek!" Ia menutup mulutnya, mual kembali ia rasakan.
"Toilet Aa!"
Tanpa banyak bicara Alvi mengendong tubuh mungil Alana masuk keruangan pribadinya, ruangan tempatnya istirahat yang tak kalah jauh menyeramkan dari ruang kerjanya. Lelaki itu terus memijit tengkuk istrinya, ikut meringis melihat Alana tersiksa, makanan yang baru saja masuk keluar tanpa tersisa.
"Udah?" Lembut Alvi menyeka keringat di kening gadisnya, wajah pucat kembali ia dapatkan.
"Lemas Aa, aku nggak sanggup lagi." lirihnya mencengkram kuat-kuat lengan Alvi.
Brugh
Dengan sigap Alvi menangkap tubuh mungil yang hampir saja terjatuh.
"Alana, bangun sayang!" Alvi menepuk-nepuk pipi cubi gadisnya namun tak ada respon dari Alana, mata gadisnya itu perlahan-lahan tertutup.
"Bercanda kamu nggak lucu Al, bangun!" Lelaki itu terus mengucang tubuh dalam dekapannya.
"Hendri!!!!" teriak Alvi sembari mengendong tubuh Alana ke atas ranjang, membaringkannya perlahan-lahan.
"Pak!" panggil Hendri di balik pintu.
"Panggil dokter wanita sekarang!"
Walau bingung dengan perintah sang atasan, Hendri tetep melaksanakannya.
Sementara Alvi, terus menciumi tangan gadisnya, sesekali menyeka keringat dingin yang tak henti-hentinya keluar di pelipis Alana.
"Bangun sayang, jangan buat Aa khawatir." lirih Alvi.
...TBC...
Masih hari selasa, vote nya masih aman kan? kalau gitu lempar buat Alana ya, semoga bucinnya Aa Alvi nggak papa.
__ADS_1