
Ayah Kevin yang baru saja selesai mandi, mencari sang istri yang entah pergi kemana, ia mengembangkan senyumnya ketika melihat Anin berdiri tak jauh dari taman. Ia melingkarkan tangannya pada pinggang ramping sang istri.
"Liatin apa, Hm?" mengecup pipi Anin dari belakang.
"Liat deh mas," sahut bunda Anin, memegang tangan Ayah kevin yang kini melingkar di pinggangnya. Ia menunjuk sepasang suami istri yang tengah asik bercanda di taman belakang rumah mereka. "Alana keliatan bahagia banget sama Alvi." Bunda Anin mengantung kalimatnya, sedikit menoleh ke samping, membuat Ayah Kevin dengan mudah mengecup bibir tipis itu.
"Princes kita nggak salah milih suami," lanjut Anin terus memperhatikan bagaimana putrinya tertawa lepas bersama Alvi.
"Mereka menikah karena kesepakatan, kalau kamu lupa." Suara Ayah Kevin mulai terdengar dingin, rasanya ia belum menerima pernikahan putrinya.
Bunda Anin menghela nafas panjang, kenapa suaminya begitu keras kepala? "Itu dulu mas. Sekarang lihatlah! apa mas nggak liat bagaimana Alvi memperlakukan Alana? sudah jelas dia sangat mencintai putri kita."
"Azka dan Alana memang dekat, tapi belum tentu dia bisa mengimbangi sifat manja dan egois Alana. Tapi lihat Alvi, dia begitu sabar menghadapi sikap kekanak-kanakan Alana, pikirannya juga sangat dewasa," ujar Bunda Anin lagi.
"Tapi dia itu pria dingin, Mas nggak suka. Mas takut kesalahan mas, di masa lalu terulang di kehidupan Alana." Bukan tidak ingin menerima Alvi, tapi Kevin hanya takut kesalahan di masa lalu di balas lewat anak semata wayangnya. Menyakiti istrinya demi wanita lain.
"Alvi memang dingin, tapi dia tidak Arogan seperti mas, dia juga nggak serakah ingin memiliki semuanya," sahut bunda Anin sekaligus menyindir suaminya.
"Itu masa lalu Anin, jangan di bahas lagi."
"Mas yang mulai."
"Hm, baiklah mas yang salah." Pasrah Kevin.
"Emang."
"Mas, ngantuk pengen tidur."
"Masih sore mas."
"Nggak tidur beneran, cuma tidur-tiduran." bisik Ayah Kevin membuat bunda Anin bergidik ngeri.
Beralih pada sepasang kekasih yang tidak menyadari sedari tadi ada yang memperhatikan aktivitas mereka. Alvi dengan sabar menuntun Alana berjalan, walau sering ikut meringis ketika melihat gadisnya meringis setiap kali mengerakkan kaki. Wajar saja masih sakit, patah tulangnya baru beberapa hari, tapi Alana tetap nekat ingin berjalan.
"Sudah, jangan terlalu di paksain nanti tambah parah."
"Tapi Aa..."
"Udah sayang," ujar Alvi selembut mungkin, mengendong Alana kembali duduk di bangku taman. Memperbaiki posisi kaki Alana di atas meja, kemudian ia tidur di pangkuan sang istri.
"Sakit nggak kalau Aa tidur gini?" tanyanya.
Alana mengeleng sembari tersenyum. "Nggak, malah aku suka."
Alvi ikut tersenyum, meraih salah satu tangan gadisnya, lalu meletakkanya di atas kepala. "Elus Aa ngantuk." Membimbing tangan mungil itu mengelus rambutnya.
Cup.
__ADS_1
Alana mencium sudut bibir Alvi. "Biar tidurnya nyanyak."
"Lagi."
"Katanya mau tidur."
"Cium lagi." rengek Alvi, membuat Alana tertawa. "Alana!" panggilnya.
"Apa Sayang?"
"Cium." Alvi semakin mengerucutkan bibir tebalnya membuat tawa Alana semakin pecah, melihat betapa mengemaskanya lelaki di pangkuannya.
Muah
Muah
Muah
Alana sengaja mengeluarkan suara ketika mencium seluruh wajah suaminya, terakhir ia melum*at bibir tebal itu dan sedikit mengigitnya sakin gemenya.
"Mulai nakal ya kamu."
"Nakal sama suami sendiri kan berpahala Aa " Alana berkedip genit.
"Ke kamar yuk." seringai Alvi, namun di balas gelengan oleh gadisnya, karena sangat ngantuk ia tidak membalas lagi, melainkan menutup matanya.
Bagaimana reaksi pasangan kamu jika memanggil nama tanpa embel-embel apapun, cek.
"Alvi," panggil Alana dengan intonasi sedikit tinggi, namun Alvi bergeming masih menutup matanya.
"Alvi aku lapar." Rengek Alana.
"Alvino ke kamar yuk bikin dedek gemes." Tetap saja Alvi tak menyahut, membuat Alanan cemberut, sepertinya rencanya gagal, ia di tinggal tidur begitu saja.
"Aa beneran tidur?" menggerakkan kakinya yang tidak sakit.
"Kenapa, Hm?"
"Aku manggil dari tadi, kok Aa nggak nyahut? sengaja apa emang tidur?" cerocos Alana.
"Kamu manggil siapa? teman? adek? Aa suami kamu, jadi nggak merasa di panggil." balas Alvi, ia mendengar panggilan Alana tadi, ia sengaja tidak menyahut, karena di panggil dengan nama. Lelaki itu sudah pernah mengatakan tidak suka di panggil nama jika hanya berdua saja.
"Kulkas dua pintu aku mana? kok makin hari, makin hilang?" sindir Alana.
"Dah rusak, di rusak sama dede gemes." mencubit pipi Alana.
Alana merengut, ia tidak ingin Alvi berubah hangat, bagaimana kalau suaminya hangat ke semua orang? kan bisa berabe.
__ADS_1
"Kenapa cemberut, Hm." mencolek dagu Alana.
"Aku takut Aa kayak gini juga ke cewek lain."
"Kulkasnya rusak pas di dekat kamu aja." Perkataan Alvi mengundang senyum di bibir Alana. Gadis itu mengendus-endus tubuh lelaki yang kini duduk di sampingnya.
"Pulang ngajar Aa pasti nggak langsung pulang, Iya kan?" todong Alana.
"Kamu ngomong apa Al?"
"Aa pasti habis ketemu kak Devan," tebak Alana.
"Tau dari mana?"
Bukannya menjawab Alana malah memeluk tubuh kekar di sampingnya. "Tau lah, Aa kalau pandai nge gombal kayak gini pasti habis ketemu kak Devan," ujarnya. "Kalau aku pergi jangan dekat-dekat sama kak Devan!" lirih Alana.
"Kamu mau pergi kemana, Hm?" Alvi merapikan rambut Alana lalu menyelipkannya kebelakang telinga, agar tidak menghalangi wajah cantik sang gadis.
"Kan mau kuliah di luar Negeri kalau Aa lupa." mendongak menatap mata Elang Alvi.
"Aa kan ikut sayang."
Alana nyengir tanpa dosa, iya juga ya, mereka sudah sepakat akan tinggal di luar Negeri jika sudah lulus nanti.
***
Waktu begitu cepat berlalu, sebulan lebih lamanya sejak kejadian Alana terjatuh. Gadis itu sudah bisa beraktivitas normal, mereka juga sudah pulang kerumah. Pertama kali Alana pindah, ia sedikit bingung karena tidak mendapati tangga di dalam rumahnya.
Saat bertanya pada Alvi, lelaki itu hanya menjawab.
"Aa nggak suka ada tangga di rumah ini."
Awalnya ia bingung dengan jawaban Alvi, tapi ketika melihat benda berbentuk kotak di sudut ruangan, barulah ia mengerti ternyata Alvi menyingkirkan tangga dan malah memasang lift di rumah mereka, padahal rumah yang mereka tinggali hanya 2 lantai.
"Aa ada Reuni sama teman SMA malam ini, kamu ikut ya," ajak Alvi ketika mereka berjalan keluar rumah, untuk berangkat sekolah bareng.
"Wah." mata Alana berbinar mendengar kata Reuni, apa lagi Reuni SMA suaminya. Angkatan Alvi masih menjadi topik hangat di SMA Angkasa. Lulus sudah puluhan tahun, namun foto-foto angkatan Alvi masih tersimpan rapi di SMA Angakasa dengan lulusan terbaik. Bukan hanya prestasi, tapi angkatan suaminya banyak cogang-cogang.
"Kenapa?"
"Banyak Sugar Daddy tampan pasti." cengir Alana.
"Aa kurang tampan?" tanyanya sembari memasang seat belt Alana dan juga dirinya.
Alana mengeleng. "Aa terlalu tampan, makanya aku harus galak, biar Aa nggak di ambil orang."
...TBC...
__ADS_1
Jangan lupa, like, komen, dan Vote.😁