
Kedatangan Alvi dirumah utama menjadi pertanyaan besar bagi kakek Farhan, lelaki itu sangat anti berkujung, tapi sekarang pagi-pagi buta Alvi sudah ada di rumahnya.
"Kenapa kamu kesini? mana menantu kakek?" tanya Kakek Farhan tanpa menyambut dengan hangat kedatangan cucu tersayangnya.
Alvi nyengir tanpa dosa, mengaruk tengkuknya yang tidak gatal, lelaki itu ikut duduk di samping kakek Farhan.
"Alana masih tidur Kek makanya aku nggak ajak, Kakek kalau kangen sama Alana telfon aja suruh kesini, dia nggak sibuk, sekolahnya juga nggak belajar kerena persiapan perseni."
"Kalau perlu suruh nginep aja pasti dia mau."
Mata Kakek Farhan berbinar mendengar tawaran terakhir Alvi, selama ini cucu menantunya tidak pernah tinggal lama-lama karena ulah Alvi yang tidak ingin menginjakkan kaki di rumah utama, dan sekarang cucunya sendiri yang memberi jalan agar Alana nginep di rumahnya.
"Mau kemana?" tanya kekek Farhan ketika Alvi bangkit dari duduknya, merapikan jas yang sedari tadi ia tenteng.
"Alvi mau kerja Kek, kesini cuma ngasih tau itu."
Tanpa Kakek Farhan sadari, Alvi tersenyum lebar keluar dari rumah utama, akhirnya rencananya berjalan lancar, kakek Farhan tidak benyak bertanya. Bisa di pastikan jika Kakek Farhan tahu bahwa ia bertengkar dengan Alana, kakek tua itu tidak akan membelanya.
Benar kata Devan, gadis berambut indah tersebut datang hanya sekali panggilan dari Kakek Farhan. Kini Alana berada di rumah utama, berbincang dan bersenda gurau di taman belakang dengan Kakek Farhan.
Gadis itu sontak berbalik ketika mendengar suara tak asing mengucap salam, Ia memalingkan wajahnya ketika Alvi berjalan semakin dengan sembari mengedipkan mata. Entahlah selama mereka bertengkar, tingkah Alvi benar-benar berubah, terkesan genit dan suka menggoda, mode kulkas dua pintunya benar-benar hilang.
"Wah pada ngumpul ternyata," ujar Alvi sok tidak ada yang terjadi mengulurkan tangannya tepat di depan Alana agar gadis itu menciumnya.
Tak enak dengan Kakek Farhan jika melihat mereka bertengkar, Alana meraih tangan Alvi lalu mengecupnya, berusaha bersikap biasa-biasa saja walau dalam hatinya ingin memaki dan marah. Ia pasrah ketika Alvi mengecup keningnya di depan kakek Farhan.
Melihat kemesraan kedua cucunya hati Kakek Farhan menghangat, mungkin jika ia meninggalkan Alvi lebih cepat, lelaki itu bisa bangkit dan lebih tegar dengan keberadaan Alana di sampingnya.
Kakek Farhan mengkode suster di sampingnya, mengisyaratkan agar membantunya berpindah ke kursi roda.
"Kakek mau kemana? biar Alana temenin," tawar Alana berusaha menghindari Alvi.
"Kakek mau minum obat dan tidur siang Nak," jawab kakek Farhan. "Kamu sama Alvi dulu."
Sepeninggalan kakek Farhan, Alana berjalan ke ruang keluarga tanpa memperdulikan Alvi yang terus nengekor di belakangnya.
"Alana, Aa lapar banget belum makan," Manja Alvi bersandar di pundak Alana, tatepi gadis itu menghiraukannya, fokus pada buku novel yang ia pengang.
__ADS_1
"Alana!" rengek Alvi memeluk tubuh gadis yang selama ini ia rindukan, tapi tetap saja Alana bergeming.
Alvi kini tidur di pangkuang Alana, meraih tangan lentik gadis itu lalu meletakkan di atas kepalannya, sementara tangan kiri Alana yang terluka, Alvi mengenggamnya dan sesekali menciumnya.
Rasa kantuk tiba-tiba menyerang Alvi ketika tidur di pangkuan Alana, padahal semalam lelaki itu susah tidur. Alvi menyembunyikan wajahnya di perut gadis itu, memeluk pinggang Alana seerat mungkin.
"Maafin Aa. Aa nggak bermaksud bohongin kamu apa lagi nggak percaya sama kamu. Kamu gadis penyayang, Aa tahu itu. Hari dimana Aa mengetahui kabar bahagia kehamilan kamu, Aa sangat bahagia dan ingin menceritakan hal menyenangkan itu bersamamu."
Alvi berhenti sejenak, memandangi wajah gadisnya, Alana tak sekalipun meliriknya, gadis itu lebih memilih memerhatikan layar lebar di hadapannya, apa segitu kecewa dan marah Alana padanya? hingga menatap atau mengajak bicara saja tidak?
"Tapi saat itu kamu tidak ingin punya anak karena ingin mengejar cita-cita terlebih dahulu, itulah mengapa Aa tidak memberitahumu. Aa takut kamu stres. Dan saat Aa ingin menceritakan semuanya kamu terjatuh dari tangga, mengakibatkan kaki kamu patah dan...." Alvi menelan salivanya kasar tak sanggup mengatakan hal mengerikan itu. "Keguguran." lirih Alvi.
"Karena tidak ingi kamu semakin bersedih, Aa memutuskan menyembunyikan itu semua dari kamu."
Lama Alvi bicara sendiri tanpa Alana meresponnya, hingga laki-laki itu terlelap di pangkuan sang istri. Bangun-bangun lelaki itu sudah tak mendapati Alana, dengan rambut acak-acakan lelaki itu mengelilingi rumah mewah nan besar itu mencari keberadaan sang istri, senyumnya kian melebar ketika gadisnya sedang berdiri di tepi pantai belakang rumah utama.
"Kakek, lihat ada kepiting!" seru Alana ketika melihat kepiting berjalan di pinggir Pantai, gadis itu melepas pengannya dari kursi roda sang Kakek, berlari menghampiri kepiting itu, saking gemasnya tanpa pikir panjang ia menangkapnya.
"Auw." Ringis Alana katika kepiting itu mencapit tanganya.
"Hati-hati tangan kamu bisa luka," ujarnya setelah mengecup tangan Alana.
Lagi dan lagi Alvi menghela nafas panjang ketika Alana berdiri tanpa meliriknya sedikitpun. Ia mengacak-acak rambutnya memperhatikan gadis itu berlari di pinggir pantai menghampiri kakek Farhan yang lumayan jauh darinya.
Ia harus melakukan apa lagi agar Alana mau mengajaknya bicara?
Alvi bergeming di tempatnya, lelaki itu memutuskan duduk di atas pasir, memerhatikan gadisnya dari jauh. Entah apa yang Alana dan Kakeknya bicarakan , hingga gadis itu bisa tertawa lepas.
Ia mengambil ponselnya, mengabadikan setiap momen yang di lakukan Alana di pinggir pantai, saat gadis itu berusaha menekan Dressnya saat agin bertiup, saat gadis itu berteriak kergirangan ketika mendapat batu karang dan sejenisnya.
Alvi berjalan mendekat ketika Alana duduk selonjoran di atas pasir putih, lelaki itu duduk tepat di samping gadisnya.
"Senjanya indah ya." Alvi memulai pembicaraan.
Alana tak menyahut, gadis itu fokus memerhatikan senja yang sebentar lagi akan terbenam.
"Bi!" panggil Alvi ketika melihat salah satu asisten rumah tangga Kakek Farhan lewat.
__ADS_1
"Iya Tuan." mendekat sembari menunduk.
"Tolong ambilkan jaket musim dingin di kamar saya!"
"Baik Tuan."
"Setelah ini kita pulang kerumah ya!" ajak Alvi.
"Aku masih pengen sendiri," sahut Alana cuek, berdiri meninggalkan Alvi di pinggir pantai, gadis itu masuk ke taman belakang berjalan menyusuri kolam renang menuju rumah utama.
Alana berusaha tersenyum ketika melihat kakek Farhan di ruang tamu, gadis itu menghampiri pria tua tersebut.
"Kakek, malam ini kita makan apa ya enaknya?"
"Seafood?"
"Boleh, kerang gimana Kek? duh jadi ngilerkan aku."
"Kamu ngidam?" tanya Kakek Farhan dengan wajah berbinar, berharap cucu menantunya itu menjawab, Iya.
Seketika Alana terdiam mendengar pertanyaan kakek Farhan, pertanyaan sederhana tapi entah mengapa begitu menyakitkan di pendengarannya. Hampir saja ia menangis jika saja Alvi tidak datang dan mengalihkan topik sebelum Kakek Farhan membahas tentang anak.
"Kakek mau makan seafood kan? tunggu di sini! Alvi akan buat dengan Alana. Iya kan sayang?" merangkul pundak gadis itu lalu membawanya menjauh dari Kakek Farhan.
"Jangan di pikirkan! Sekarang kamu ke kamar, mandi! biar Aa yang buat makanan buat kalian." mengelus lengan mulus Alana.
Ia menarik dagu Alana ketika gadis itu terus menunduk. Alvi mengecup kedua mata gadisnya yang memerah.
"Jangan nangis sayang!"
...TBC...
Hay! Dedek cuma nyapa doang, biar nggak di bilang sombongš¤, sehat² ya readers tersayang dedek.
Dedek bawa novel lagi nih buat nemenin kegabutan kalian.
__ADS_1