Hay Pak Guru

Hay Pak Guru
Part 114


__ADS_3

Alana mengedarkan pandangannya setelah Alvi memutuskan sambungan telfon, ia senyum kikuk ketika melihat Alvi berdiri di teras depan ruangan 6 sesi dua.


Ia memperlihatkan gigi rapinya saat Alvi menatapnya dengan alis terangkat sembari bersedakap dada.


"Gue pulang bay," ujar Alana berdiri lalu menepuk-nepuk seragam bagian belakangnya, membersihkannya dari rerumputan yang ia duduki.


"Cepat banget Quen," sahut jaya partner Alana bernyanyi tadi.


"Tau satu lagu lagi boleh dong, Iya nggak El?" sahut yang lainnya.


Samuel tak menyahut dan hanya melirik pak Alvi yang lumayan jauh dari mereka.


"Arah jam tiga," Alana memberi kode lalu berjalan meninggalkan segerombolan laki-laki yang masih asik dengan duanianya masing-masing.


Semuanya memperhatikan arah jam tiga lalu mengangguk mengerti apa yang di maksud Alana barusan.


"Pantesan buru-buru ada pawangnya ternyata."


"Gery salut gue sama pak Alvi, bisa tahan satu rumah dengan Alana yang notabenanya nggak mau diam, secara pak Alvi dinginnya kayak kulkas seribu pintu." Mulai lagi Rayhan ghibahin Alana.


"Itu namanya saling melengkapi bro."


Jika seseorang sibuk membicarakan Alana, lain halnya yang sedang di bicarakan, gadis itu sudah setia berdiri di samping motor sprot merah pak Alvi menunggu sang empunya datang.


Melihat kedatangan sang suami, Alana mengembangkan senyumnya, berusaha semaksimal mungkin tidak gugup atau terlihat takut, karena ia tahu Alvi sedikit jahil belakangan ini.


Menyalami dan mencium punggung tangan Alvi sudah suatu kebiasaan untuknya jika pulang sekolah seperti ini.

__ADS_1


"Aa aku...."


"Aa nggak marah, Aa nggak larang kamu main sama teman laki-laki kamu tapi tau batasan sayang." Omel Alvi sembari memasangkan helm pada Alana.


"Jangan kayak tadi sampai di peluk Rayhan segala, dia emang sepupu kamu tapi dia juga laki-laki," lanjutnya.


Alana mengangguk patuh, walau masih ada yang menganjal di hatinya, bagaimana jika Alvi tahu bahwa dirinya memeluk Dirga tadi?


Motor sprot merah itu melaju meninggalkan sekolah SMA Angkasa membawa sepasang suami istri yang saling mencintai. Alana sedari tadi tak pernah melepaskan pelukanya dari pinggang Alvi.


Senyumnya terus terukir ketika tangan kiri Alvi sesekali mengelus tangannya.


"Aa aku mau ngomong sesuatu tapi jangan marah ya!" Alana memutuskan akan memberitahu Alvi tentang kesalahannya.


"Tergantung," sahut Alvi.


"Aa nggak dengar sayang, kamu ngomong apa?"


"Aku meluk pak Dirga tadi," ucap Alana setengah berteriak.


Cittt, suara ban motor berdecit nyaring ketika Alvi merem tiba-tiba di jalan yang cukup sepi, laki-laki itu terdiam.


"Hampir aja aku nggak bisa masuk ujian tadi kalau saja pak Dirga nggak nemuin card aku, makanya aku refleks meluk dia. Tapi cuma sebentar kok nggak lebih dari satu menit. Aku ngomong ini sama Aa karena takut ada yang lapor atau video aku." Alana menjeda. "Jangan marah ya Aa."


"Udah?" tanya Alvi.


"Iya, Aa marah?"

__ADS_1


Alvi kembali melajukan motornya tak menjawab pertanyaan Alana, laki-laki menapun akan marah jika mengetahui istrinya memeluk laki-laki yang notabenya suka dengannya. Tapi satu yang membuat Alvi tidak marah yaitu karena kejujuran Alana.


Alana tersentak ketika Alvi kembali mengelus tangannya sementara tangan satu laki-laki itu memegang setir kemudi.


"Jangan di ulangi lagi."


"Iya aku janji."


"Mau makan dulu sebelum pulang?"


Alana mengangguk.


"Jangan ngangguk, Aa nggak liat," jahil Alvi padahal ia merasakan anggukan kepala Alana di punggungnya.


"Iya Aa."


Seperti yang di katakan Alvi mereka makan siang sebelum pulang kerumah, kali ini Alana tak memaksa untuk makan di pinggir jalan karena takut Alergi Alvi kambuh jika kena debu jalanan. Usai makan Siang Alvi juga ke salon untuk potong rambut jika tak ingin di katai jelek terus-terusan oleh sang istri tercinta.


Namun, ada saja permintaan gadis itu yang tidak bisa di tolak, sedari tadi Alana merengek ingin naik motor sedikit lama. Alvi sudah mengatakan matahari semakin terik takut Alana kepanasan dan kegerahan tetap saja gadis itu ngotot ingin pergi.


...TBC...


Jangan lupa komen, like, dan votenya akak tersayang dedekšŸ¤—.


Menjadi madu dari sahabat sendiri adalah hal yang sangat menyakitkan bagi seorang perempuan, apakah Ayu sanggup bertahan dalam pernikahannya? yuk kepoin ceritanya.


__ADS_1


__ADS_2