
12 Tahun kemudian
Tak terasa hari begitu cepat berlalu, anak-anak Alvi tumbuh dengan baik dan sangat cantik. Sifat yang berbeda-beda membuat Alana dan Alvi sedikit kewalahan menghadapi anak-anaknya yang kini beranjak remaja dan dewasa.
Sifat Arga yang friendly pada semua orang membuatnya di gilai oleh para wanita. Di cap kang ghosting kerena sering memberi harapan pada gadis-gadis di sekolahnya. Seperti Alana, Arga sekolah di SMA Angkasa, laki-laki itu besar di bawah asuhan Rayhan dan Devan, jadi tidak heran jika sifatnya hampir sama.
Sementara si kembar, mempunyai sifat yang bertolak belakang. Agatha tumbuh menjadi gadis pintar dengan segudang prestasi yang ia miliki. Namun, sikapnya yang terkesan cuek turunan Daddynya membuat laki-laki takut mendekatinya, apa lagi saat Agatha sudah melayangkan tatapannya yang sangat tejam. Walau cuek, Agatha mempunya sifat dewasa dan menyayangi keluarga terlebih pada adik kembarnya.
Gadis itu sedikit bar-bar saat bersama teman-temannya, tapi tidak dengan orang asing. Berbeda dengan Alatha yang hampir keseluruhan mencopy sifat Alana. Bar-bar, manja, egois, juga cengeng. Semua itu melekat pada diri Alatha.
***
Hari senin adalah hari di mana kesabaran Alana di uji di pagi hari. Saat membuka mata ia sudah harus menampung stok sabar sebanyak-banyaknya. Suami maupun anak-anak kesayangannya masih betah bergelung di balik selimut.
"Aa bangun ih, makin tua bukannya makin waras malah tambah gila!" omel Alana menarik Alvi agar duduk walau mata pria itu masih terpejam.
"Lima menit lagi sayang!" bujuk Alvi kembali tidur dan mengulung tubuhnya kedalam selimut.
Lelah akan sikap Alvi, akhirnya Alana berjalan keluar kamar untuk membangungkan yang lainnya. Wanita cantik itu bukan menuju kamar anak-anaknya, tetapi menuju dapur dan memencet alarm kebakaran, hingga suara bising terdengar.
Ia menyeringai, kemudian bekacak pinggang tepat di depan pintu lift.
__ADS_1
"Hua kebakaran!" teriak Alatha mengendong boneka beruangnya, berlari keluar kamar dan bertabrakan dengan Agatha yang juga keluar dari kamar dengan mara setengah terbuka.
"Pasti ulah Mommy!" gumam Agatha berjalan santai masuk kembali ke kamarnya.
Berbeda dengan Arga, Alatha dan Alvi yang panik seperti orang ke setanan.
Ketiga manusia berbeda generasi dan gender itu menunduk lesu setelah keluar dari lift dan mendapati Alana berkacak pingang.
"Ibu kanjeng ratu berulah," gumam Arga.
"Mommy sayang, jangan cemberut gitu, ntar jeleknya ilang." Alatha langsung menghampiri Alana demi menghindari amukan wanita yang sering mengomel itu.
"Kalau jelek Mommy hilang, Alha ada saingan," cengirnya tanpa dosa.
"Otw Mommy!" teriak ketiga manusia itu berlari ke kamar masing-masing untuk bersiap-siap jika tidak ingin telinganya pecah di pagi hari.
Sembari menunggu suami dan anaknya selesai bersiap-siap, Alana membantu anak bi Neneng yang beranama Rani.
Rani menggantikan ibunya karena sudah tua, Rani satu sekolah dengan Arga kerena permintaan Alana.
"Sudah nak, sebaiknya kamu juga siap-siap ke sekolah," perintah Alana.
__ADS_1
"Baik Nonyonya!" Sopan Rani menunduk.
"Rani!" tegur Alana.
"Maaf ibu," lirih Rani sedikit tak enak jika memanggil Alana dengan sebutan ibu.
"Selamat pagi Mommy sayang." Agatha langsung memeluk Mommynya dan mendaratkan ciuman di pipi.
"Pagi anak Mommy!" Alana membalas ciuman Agatha, anak paling waras di antara yang lainnya.
"Daddy Aa, liat tuh abang Arga jahilin Alha," adu Alatha pada Daddynya saat Arga mengacak-acak rambutnya yang telah rapi.
"Alha, ingat cuma Mommy yang boleh manggil Daddy Aa," peringatan Alana.
"Iya Mommy posesif."
...****************...
Hehehe, sambil nunggu cerita baru Agatha yang akan publish, kita nikmati masa remaja mereka dulu di siniðŸ¤, karena otor bakal ceritain kisah Agatha pas kuliah nanti😘.
Semoga kalian suka, tapi tetap aja di sini masih fokus Alana Alvi ya, nggak kemana²ðŸ¤.
__ADS_1
Kalau ramai bakal di lanjut, kalau nggak, boncapnya mungkin mentok sampai 10🤗