Hay Pak Guru

Hay Pak Guru
Part 71


__ADS_3

"Dirga, ngapain lo ladenin orang gila goblok," maki Devan menarik kerah kemeja Dirga agar menjauh dari Alvi.


"Lepasin sialan!" emosi Dirga menghempaskan tangan Devan.


"Alvi mabuk asal lo tau." Perkataan Devan sontak membuat Dirga terdiam. Lelaki itu bergeming, menyesali mulut lemesnya karena berani memancing emosi Alvi. Pantas saja Lelaki jenius itu sangat brutal dan hilang kendali.


Bugh


"Aa..., pak Dirga!" teriak Alana ketika melihat Alvi mencengkram kerah kemeja Dirga.


Bugh


Dirga terjatuh ke tanah setelah mendapat pukulan terakhir dari Alvi. Alana yang melihatnya hendak menolong namun tangannya di tarik paksa oleh Alvi.


"Pulang!!!" bentak Alvi semakin erat mencengkram tangan mungil Alana, membuat gadis itu sedikit meringis.


Devan membantu Dirga bangun, mereka terus mengejar Alvi yang kini menarik paksa Alana ke dalam mobilnya. Mereka takut terjadi sesuatu pada gadis kecil itu, Alvi sangatlah gila dan tidak punya akal jika sedang mabuk. Mereka berdua sering menjadi samsak hidup ketika mengajak Alvi minum.


"Alvi, jangan bawa Alana sama Lo! gue janji bakal jauhin dia." bujuk Dirga.


"Dia istri gue kalau lo lupa!" tatapan tajam masih Alvi layangkan.


"Vi, malam ini lo nginep di rumah gue, Alana biarkan dia pulang." Devan ikut membujuk, takut Alana menjadi sasaran amukan Alvi malam ini.


"Lo juga mau rebut istri gue?" mencengkram kerah kemeja Devan.


Tak tahan lagi melihat tingkah Alvi, Dirga melayangkan tinjunya, menarik paksa Devan kemudian ia mencekram kerah kemeja Alvi. "Lo punya jaminan apa kalau malam ini nggak bakal main tangan sama Alana?"


***


Apa yang di takutkan Devan dan Dirga akhirnya terjadi juga, lelaki itu menyeret paksa Alana masuk kedalam kamarnya, mendorong tubuh munggil itu hingga terhempas ke atas ranjang, menindihnya masih dengan tatapan tajamnya.


Jangan tanyakan bagaimana takutnya Alana saat ini, ia seperti tidak mengenali Alvi, lelaki itu seperti orang lain di matanya.

__ADS_1


"Sa...kit." lirih Alana ketika Alvi mencengkram rahangnya. "Ak...aku min...ta ma...af Aa." Air mata gadis itu semakin deras, rahangnya terasa sakit akibat cengraman Alvi, lelaki itu hanya bergeming terus menatapnya tajam seperti ingin mengulitinya hidup-hidup.


"Kita bisa bicarakan ini baik-baik " pinta Alana.


"Bicarakan baik-baik!" ulang Alvi menelusuri wajah Alana dengan telunjuknya, membuat gadis itu kegelian sekaligus ketakutan.


"Jika kamu ada di posisi saya, apa kamu akan membicarakan ini baik-baik, Hm?"


"Selama ini saya sudah cukup sabar menghadapi sikap kamu Alana. Membirkanmu pergi dengan Dirga karena saya percaya sama kamu. Tapi apa yang saya dapat, Hm." Alvi kembali mencekram rahang Alana, membuat gadis itu meringis kesakitan. "Kamu bohongin saya!"


"Mau kamu apa, Hm? Saya kurang sabar apa? apa kamu kurang sentuhan hingga meminta Dirga menyentuhmu, SIAL*AN!" bentak Alvi, melahap rakus benda kenyal gadisnya, melum*atnya kasar, memaksa gadis itu membuka mulutnya. Bahkan ia tak segang-segang mengigit benda kenyal itu hingga mengeluarkan darah. Membuat bibir pink itu terasa kebas dan juga sakit.


"Maafin aku, aku salah Aa." Air mata Alana semakin deras, bibirnya bergetar menahan isakan juga sakit, ia bahkan menelan darahnya sendiri. "Sa...kit, Aa udah." mohonya, namun Alvi seakan tuli terus melukai Alana dengan caranya.


Lelaki itu merobek dress yang di kenakan Alana, melempar dengan kasar. Gadis itu sekuat tenaga mendorong tubuh kekar di atasnya, namun tak mampu membuat tubuh itu bergerak. Bahkan kini tangannya di angkat keatas oleh Alvi, mencengkramnya dengan sebelah tangan di atas kepala. Malam ini ia seperti diperko*sa oleh suaminya sendiri.


"Jangan perlakukan aku seperti ini Aa, pukul aku, tampar aku, tapi jangan seperti ini," mohon Alana namun Alvi tak mendengarkannya.


"Bunda tolongin Alana!!!" teriak Alana. "Aa jahat sama aku, dia nggak sayang lagi sama aku." Gadis itu terus menangis di bawah kungkungan Alvi.


"Sakit Aa, udah." Mohon Alana kesekian kalinya.


"Maafin aku, aku salah, udah...sakit." Suara gadis itu semakin melemah berbarengan dengan Alvi melepaskan diri darinya.


Sepeninggalan Alvi, Alana menarik selimut menyembunyikan tubuhnya yang di penuhi bekas merah yang terasa perih. Meringkuk di atas ranjang, menangis hingga ia terlelap.


Prank


Tinjuan Alvi berhasil menghancurkan kaca kamar mandi, lelaki itu sedikit tersadar ketika mendengar rintihan terakhir gadisnya. Darah segar mengalir pada kepalan tangannya, namun ia hiraukan. Menguyur tubuhnya dengan air dingin, mencoba meredam amarah dan juga kadar alkohol dalam dirinya. Selalu saja seperti ini, ia tidak bisa mengendalikan diri setelah minum, ia sadar namun tak bisa mengendalikan emosinya.


Ia seperti tidak mempunyai keberanian untuk menemui istrinya, membayangkan rasa sakitnya saja sudah membuat hatinya sakit.


Seandainya ia menuruti perkataan Devan tadi, semua ini tidak akan terjadi, ia tidak mungkin menyakiti istri yang sangat ia cintai.

__ADS_1


Usai membersihkan diri, Alvi mendekati ranjang memerhatikan gadisnya yang sudah terlelap namun masih mengeluarkan suara isakan. Lelaki itu bersujut di samping ranjang, memerhatikan bibir bengkak Alana karena dirinya.


"Maafin Aa Al," lirih Alvi.


Alvi membuka laci nakas mengambil salep untuk ia oleskan pada bekas gigitannya. Lagi ia meringis melihat bekas gigitannya di tubuh Alana, warna biru keunguan yang bisa di pastikan sangat perih.


"Hiks...hiks...hiks....sakit bunda." Igau Alana, air mata itu kembali mengalir di sudut matanya.


"Maafin Aku. Aku salah...."


"Jangan siksa aku Aa, sakit."


Alvi tak kuasa membendung air matanya, mendengar igauan Alana yang begitu menyayat hati.


"Maaf."


Lelaki itu terus mengucapkan kata maaf, mengenggam tangan mungil istrinya, menciumnya berkali-kali. Ia takut gadisnya akan trauma dengan kejadian malam ini. Ia takut Alana membencinya, dan meninggalkannya.


Bagaimana jika Ayah mertuanya tahu, mungkin saja ia akan menjadi samsak hidup, atau mengambil kembali putrinya. Ia tahu orang tua mana pun tak ingin jika anaknya di siksa terlebih Alana anak satu-satunya yang begitu di cintai.


"Maaf karena Aa cemburuan, Aa cuma takut kamu ninggalin Aa karena Dirga."


"Jangan tinggalin Aa ya."


Gadis itu tersentak ketika Alvi menyentuh sudut bibirnya. Alana menghindar agar Alvi tidak menyentuhnya, menyambunyikan diri di dalam selimut.


"Aku mohon jangan siksa aku." menyatukan kedua tangannya, memohon agar Alvi tidak lagi berbuat kasar padanya. "Aku akan berubah." lirihnya di akhir kalimat.


"Alana Aa minta Maaf." Alvi berdiri hendak meraih tubuh Alana untuk ia peluk, namun gadis itu lagi-lagi mengelak, menatapnya penuh ketakutan.


"Jangan siksa aku lagi, aku janji nggak bakal gitu lagi, aku akan pergi jika itu mau kamu, tapi jangan siksa aku..., sakit."


...TBC...

__ADS_1


__ADS_2