Hay Pak Guru

Hay Pak Guru
Ekstra Part 7


__ADS_3

Tak terasa hari begitu cepat berlalu. Perut Alana  semakin  hari semakin besar. Hubungan mereka pun perlahan membaik seiring berjalannya waktu. Alana tak lagi ketus pada Alvi, dan kembali manja pada laki-laki itu, begitupun sebaliknya. Keluarga bahagia yang Alana impikan kini terwujud. Mempunyai suami yang sangat mencitai dan menyayanginya, mempunyai putra yang sangat tampan dan sebantar lagi akan melahirkan anak kedua mereka. Karena bagi Alana, Arga tetap anak pertamanya sampai kapanpun itu.


Hari ini mereka ada jadwal pemeriksaan kandungan Alana, sekalian akan menjenguk kakek Farhan di rumah sakit. Mereka berjalan beriringan di lorong rumah sakit. Sebelah tangan Alvi mengendong Arga, sebelahnya lagi mengenggam tangan sang istri begitu erat. Sebelum menjenguk kakek Farhan,  mereka terlebih dulu menemui dokter kandungan.


Walau rumah sakit yang mereka kunjungi adalah rumah sakit milik Dokter Angga sabatnya, Alvi dan tak memakai kekuasaa  itu untuk menerobos para antrian ibu-ibu hamil di depan ruangan dokter kandungan karena keinginan Bumil itu sendiri.


Alvi memapah Alana duduk di salah satu kursi lalu memberi air minum pada gadisnya.


"Kenapa sayang?" tanya Alvi saat melihat  Alana meringis.


"Paha sama kaki aku pegal dan terasa nyeri gitu," jawab Alana.


Alvi menurunkan Arga lalu mendudukkanya di samping Alana. Ia berjongkok di depan sang istri, melepas sepatu gadis itu lalu memijat  kakinya secara perlahan. "Gini enak?"


"Berdiri Aa, nggak enak di liat sama yang lain," pinta Alana merasa malu di pandangi oleh ibu-ibu hamil lainnya. Ia memindahkan tangan Alvi agar tidak menyantuh kakinya.


"Katanya tadi pegal."

__ADS_1


"Udah nggak papa, kata dokter ini normal bagi ibu hamil, nggak usah berlebihan Aa."


Setelah mengantri cukup lama, akhirnya tiba nama Alana yang di sebut.


Alana mendudukkan diri di hadapan dokter Yuni, di ikut Alvi di sampingnya.


"Ada keluhan satu bulan terakhir, Nona?" tanya dokter Yuni.


"Istri saya sering mengeluh, nyeri ulu hati juga paha dan kaki, Dok," jawab Alvi cepat. "Belakangan ini nafsu makannya juga menurun," lanjutnya.


"Baiklah, kita periksa kesehatan umum dulu sebelum USG ya," ujar dokter Yuni ramah.


"Doktel, jangan sakiti Mommy Alga," tegur Arga.


Dokter Yuni tertawa melihat ekspresi mengemaskan Arga "Dokter bukan nyakitin Mommy kamu sayang. Dokter sedang mengobati, agar Dedek sama Mommy kamu sehat selalu," jawab dokter Yuni.


"Benelan, Daddy?"

__ADS_1


"Iya sayang."


Usai memeriksa tekanan darah, suhu tubuh dan berat badan. Barulah Alana melakukan  USG untuk memastikan kondisi janin juga ia ingin mengetahui jenis kelamin calon anak mereka.


Alvi berdiri di samping brangkar mengenggam tangan Alana yang terasa dingin, sesekali ia melempar senyum pada sangat istri. Wajah bahagia keduanya tak bisa di sembunyikan.


"Dokter, jenis kelamin anak saya?" tanya Alana tak sabar.


Dokter Yuni yang sedang sibuk memeriksa kondisi janin lewat layar USG itu tersenyum ramah pada Alana, yang sedari tadi menanyakan kondisi juga jenis kelamin anaknya.


"Pertumbuhannya normal, tidak ada yang perlu di khawatirkan, Nona. Babynya sangan cantik seperti ibunya," ujar Dokter Yuni.


"Perempuan, Dok?"


"Iya Nona," jawab Dokter Yuni kembali memperhatikan layar, sepertinya ada yang aneh, setelah memeriksa ulang.


...****************...

__ADS_1


Jangan lupa vote, komen dan like. Mampir juga di karya baru dedek "Cinta dan Masa Lalu"


__ADS_2