Hay Pak Guru

Hay Pak Guru
Part 76


__ADS_3

Alana, gadis itu sedari tadi duduk tak tenang di atas mobil, ia terus memerhatikan arloji di pergelangan tangannya, bergantian dengan lalu lintas yang sedikit macet.


"Cepat dikit pak." Desak Alana menepuk pundak sopir taksi tersebut.


"Sabar Neng, macet," sahut sang sopir.


Alana semakin gelisah, ketika melihat jam menunjukkan pukul 21.00 itu artinya satu jam yang lalu Alvi sudah ada di rumah.


Ia mengigit kuku jarinya, mencoba tidak panik saat tak mendapati benda pipihnya di dalam tas. Lalu bagaimana ia akan menghubungi Alvi?


Sopir taksi yang melihat kegelisahan Alana, pun bertanya. "Kenapa Neng?"


"Ponsel saya hilang pak," sahut gadis itu terus mengeluarkan isi tasnya.


"Neng mau ngabarin orang rumah ya?" tanya Sopir taksi lagi. Alana seumur dengan anaknya, jam segini belum pulang sudah pasti di cariin. "Pakai Hp bapak aja." menyodorkan ponsel kuno persegi panjang dan sedikit tebal pada Alana.


"Makasih pak." Alana menerima ponsel kuno tersebut sembari tersenyum, untung saja ia bertemu orang baik.


Dengan sigap ia mengetikkan beberapa angka yang ia hafal di luar kepala. Panggilan pertama, tidak ada jawaban. Ia tak menyerah terus menelfon Alvi, hingga panggilan ke 5 barulah Alvi menjawab.


"Siapa?"


"Aa."


Hening tak ada sahutan dari seberang telfon.


"Aa ini aku Alana." memanyungkan bibirnya walau Alvi tidak akan melihat itu.


"Kamu di mana? pakai ponsel siapa? Aa hubungin kamu dari jam 5 tapi ponsel kamu tidak aktif. Kamu baik-baik aja kan? jangan buat Aa khawatir gini Al."


"Aku nggak papa Aa, ini lagi jalan pulang tapi macet. Maaf buat Aa khawatir."


"Hati-hati."


"Iya sayang."


Alvi mengulum senyum mendengar panggilan sayang Alana, ia meletakkan ponselnya di atas nakas, akhirnya ia bisa sedikit bernafas. Sejak pulang dari kantor ia terus menghubungi Alana ketika tak mendapati istrinya di rumah, namun ponsel gadis itu tidak dapat di hubungi.


Alvi kembali memeriksa hadiah yang akan ia berikan pada Alana. Kotak beludru berwarna merah, dan kotak berwarna biru. Untung ia bisa mendapatkan dua hadiah itu tepat waktu. Kini ia memperhatikan kue khusus ia pesan untuk Alana. Tak ada kejutan yang berlebihan, hanya hadiah dan kue yang ia siapkan.


Hadiahnya memang tak semahal yang di berikan ayah mertuanya, tapi ia yakin gadisnya akan sangat bahagia. Baru saja akan beranjak, suara kendaraan berhenti terdengar, Alvi mengintip dari balkon. Senyum di bibir tebal lelaki itu sirna, kini tergantikan dengan sorot mata tajam pada dua insan di depan pagar. Rahang Alvi mengeras, tangannya tekepal melihat Dirga memegang tangan gadisnya.


Lelaki itu kembali masuk kedalam kamar, meraih 2 kotak di atas meja, kotak beludru berwarna merah ia masukkan kedalam laci tak terjangkau oleh siapapun, satunya lagi ia lempar ke tempat sampah. Sepertinya kejutan yang ia persiapkan tidak ada gunanya bagi Alana.


***


Alana yang baru saja turun dari taksi, mengurungkan niatnya membuka pagar rumah sederhana itu, ketika seseorang memanggil namanya, ia menoleh dan mendapati Dirga di sana.


"Pak Dirga ngapain kesini?"

__ADS_1


"Saya cuma mau mengembalikan ponsel kamu."


"Ponsel..." suara Alana tercekat, kala Dirga meraih tangannya, lalu meletakkan benda pipih di telapak tangan mungilnya.


Alana buru-buru melepaskan gengaman tangan pak Dirga takut Alvi melihat dan salah paham padanya.


"Makasih pak."


"Saya tidak memaksa kamu Alana, jangan bersikap seperti ini pada saya."


"Saya masuk ya pak." pamit Alana menghiraukan perkataan Dirga barusan.


Perlahan-lahan gadis itu membuka pintu rumah dan mendapati rumah sepi dan gelap, bukannya takut Alana malah mengembangkan senyumnya, terkikik geli.


"Aa pasti mau buat kejutan."


Ia terus berjalan, namun tak ada tanda-tanda kehidupan. Karena sedikit ngeri ia menghidupkan lampu ruang tamu.


"Kejutannya mana?" lirih Alana sedikit kecewa.


Setelah sampai di lantai 2, ia membuka pintu kamarnya perlahan-lahan, dan mendapati Alvi duduk bersandar di sofa dengan tangan bersedekap, tak ada senyuman menyambutnya, hanya tatapan datar. Walau begitu Alana tetap tersenyum.


"Assalamualaikum Aa." girang Alana, menghampiri Alvi lalu mencium punggung tangan lelaki itu.


"Pulang sama siapa?"


"Jangan bohong." suara Alvi semakin dingin.


"Ih serius Aa."


Alana melongo melihat respon Alvi saat ia akan memeluknya, lelaki itu langsung berdiri seakan menghindari pelukannya. Tak biasanya Alvi bersikap seperti ini padanya. Ia salah apa? kalau masalah telat pulang, ia sudah menelfon Alvi dan lelaki itu juga biasa-biasa saja saat di telfon.


"Aa kenapa?"


"Aa lelah." sahut Alvi membaringkan tubuhnya di atas ranjang, tidur membelakangi Alana.


"Aa nggak ada niatan ngajak aku makan malam di luar?"


"Bukannya kamu baru pulang? nggak makan di luar?"


"Aku cuma jalan-jalan aja tadi, nggak sempat makan. Malam ini aku pengen banget makan malam sama Aa, tapi kalau Aa lelah nggak papa tidur aja."


Hening tak ada sahutan dari Alvi.


"Ternyata aku terlalu berharap ya?" ujar Alana entah pada siapa.


Ia lupa bawah suaminya bukanlah pria pada umunya. Alvi sangatlah dingin dan tidak peka, wajar saja jika lelaki itu tidak mengingat hari spesialnya.


Usai membersihkan diri, Alana ikut berbaring di samping Alvi, menghadap lelaki itu yang kini memunggunginya.

__ADS_1


"Kenapa nggak makan?" tanya Alvi tanpa merubah posisi tidurnya.


"Besok aja deh, sekalian sarapan."


Senyum Alana mengembang melihat Alvi bangun, ia tahu betul, Alvi tidak akan tega membuatnya kelaparan, apa lagi ia mempunyai penyakit lambung.


"Ayo."


"Kemana?" Alana mengulum senyum.


"Kamu mau makan di luar kan?"


"Katanya lelah."


"Nggak!" sahut Alvi.


"Go." sorak Alana meninju udara saking senangnya, ia buru-buru turun dari tempat tidur tak lupa menyambar ponselnya di atas nakas.


"Ganti baju!"


Alana mengeleng, penampilannya sudah oke, baju tidur upin-ipin yang baru saja ia beli dengan Alvi saat belanja bulanan. Baju ter syar'i yang ia punya, celana panjang dan baju lengan panjang.


"Makannya di pinggir jalan aja." bergelayut manja di lengan Alvi.


Sesuai permintaan Alana, mereka makan di pinggir jalan, suasana yang tak asing lagi bagi Alvi setelah menikah dengan gadis jadi-jadian modelan Alana. Gadis itu tak pernah mau di ajak ke restoran mewah atau mahal, gadis berambut indah tersebut lebih nyaman di tempat ramai dan bising seperti ini.


Sedari tadi mereka berdua menjadi pusat perhatian pengujung lainnya, ralat, bukan mereka tapi Alana seorang. Karena baju yang di pakai gadis itu sedikit mencolok dengan gambar kapala tanpa rambut memenuhi bagian depan bajunya.


"Gemoy banget ponakannya pak," ujar emak-emak salah satu pelanggan di warung itu.


"Ibu adalah orang yang ke seribu kalinya ngomong gini." kekeh Alana sembari melirik Alvi.


"Dia bukan ponakan saya." dingin Alvi tanpa melirik emak-emak cerewet itu. "Dia istri saya."


"Oalah, istrinya toh pak."


"Ibu...."


"Makan Al!" perintah Alvi, ia masih marah pada Alana, namun tak tega menolak keinginan gadisnya.


"Iya sayang, sabar napa."


...TBC...


Hay dedek gemes up hari senin nih, jangan lupa lempar vote nya ya🤗.


Oh iya, dedek gemes juga bawa novel seru, mampir yuk


__ADS_1


__ADS_2