Hay Pak Guru

Hay Pak Guru
Part 120


__ADS_3

Belajar bersama Samuel sungguh pilihan yang tepat tapi tidak dengan Rayhan sedari tadi menganggunya, membuatnya tidak fokus untuk belajar. Alana melempar bolpoin tepat mengenai kepala laki-laki menyebalkan itu.


Suasana semakin runyam, Alana dan Rayhan bukan cuma adu mulut tetapi adu fisik membuat kamar Samuel yang semula rapi berantakan layaknya kapal pecayah.


Tak


Bolpoin kembali mendarat di kepala Rayhan, bukan Alana pelakunya melainkan Samuel, mungkin sudah lelah melihat keduanya bertengkar.


"Wah gila lo El," tunjuk Rayhan tak terima sembari mengelus kepalanya.


Senyum Alana mengembang memeler-melerkan lidahnya meledek Rayhan.


"Mending kalian keluar!" usir Semuel.


"Iya deh janji serius belajarnya, iyakan bang?" nurut Alana.


"Iya El, jangan gitulah," pasrah Rayhan.


Posisi yang semula mengelilingi meja kini di rubah berbaris rapi. Samuel duduk di antara Rayhan dan Alana meminimalisasi keadaan.


***


Pukul sebelas malam Alvi baru selesai bermain catur dengan om Daren. Ia tidak menyangka om Daren seasik itu di banding ayah mertuanya, pria paruh baya itu bahkan mendukung hubungannya dengan Alana tanpa memperdulikan dari mana ia berasal dan anak siapa.


Tak mendapati Alana di kamar mereka, Alvi mencari gadisnya di kamar Samuel, dan benar saja Alana ada di sana. Tidur di atas ranjang beralaskan tangan. Rayhan tidur di sofa sementara Samuel sibuk dengan gitarnya di balkon.


"Alana udah belajar?" tanya Alvi dan hanya di balas anggukan oleh Samuel.

__ADS_1


***


Semua ujian telah di lakukan menjelang kelulusan tinggal menunggu pengumuman. Alana menghabiskan waktunya di rumah saja tak berniat kemana-mana walau Alvi sering kali mengajaknya berlibur sebelum sibuk dengan dunia baru bergelar mahasiswa.


Jika jiwa mager Alana kembuh mau di iming-imingi apapun gadis itu akan tetap keras kepala tinggal di rumah maraton drakor tanpa lelah.


Tapi ada untungnya juga bagi Alvi, dengan begitu ia bisa fokus menyelesaikan pekerjaan juga mengurus pendaftaran Alana di Harvard Universitas. Mengurus segala sesuatu kebutuhan sang istri di negara orang, mulai dari tempat tinggal dan fasilitas lainnya.


Bukan hanya itu, Alvi harus meng Acc semua pekerjaan sebelum meninggalkan negara tercinta ikut bersama Alana ke Amerika.


Akhir-akhir ini Alvi sering pulang larut bahkan subuh tanpa mendengarkan omelan Alana yang selalu mengingatkan kesehatan.


Hari ini ia sengaja pulang lebih cepat atas permintaan Alana yang tiba-tiba, jadi ia memutuskan membawa pekerjaan ke rumah.


Alvi tak habis pikir Alana menyuruhnya pulang hanya karena ingin memeluknya dan menemaninya tidur siang.


"Aku ngantuk tapi nggak bisa tidur kalau nggak meluk Aa," jawab Alana dalam pelukan Alvi.


Rasa lelah yang Alvi rasakan langsung hilang jika berada di rumah, apa lagi Alana selalu mampu membuat hatinya menghangat dengan perhatian juga tingkah gadis itu yang semakin hari semakin manja padanya.


Sembari menunggu Alana terlelap Alvi memainkan rambut gadisnya juga sekali mengecup tulang selangka Alana.


***


Usai makan malam Alana mulai bertingkah terus merengek meminta Alvi agar menemaninya nonton Drakor, padah lelaki itu sedang sibuk menyelesaikan pekerjaan untuk besok.


"Aa ayo ini udah mulai," rengek Alana manarik-narik lengan Alvi.

__ADS_1


"Bentar sayang."


"Dari tadi bentar mulu, udah dua jam nggak selesai-selesai. Lebih penting mana sih aku sama pekerjaan Aa?"


"Kamu."


"Yaudah dengerin aku!"


"Dikit lagi ini."


"Udah!" menutup laptop Alvi begitu saja. "Ngapain natap aku kayak gitu?" tanya Alana saat Alvi menatapannya datar.


"Alana, bisa nggak sih sekali aja kamu nggak egois mikirin diri sendiri?" tanya Alvi penuh tekanan. "Mikir dikit bisa?"


Alana terdiam terus menatap Alvi.


Alvi tak habis fikir Alana akan berbuat ceroboh seperti ini, nilai siswanya yang ia rangkum sejak kemarin dan hampir selesai hilang tanpa jejak karena perbuatan Alana menutup laptop begitu saja. Apalagi Alvi tidak punya salinannya satupun.


"Aa marah?"


"Sangat marah Alana!" dingin Alvi.


"Maaf!" lirih Alana menyesali perbuatannya.


"Nggak ada gunanya." jawab Alvi meninggalkan Alana di dalam kamar begitu saja, lebih baik ia pergi dari pada harus hilang kendali.


...TBC...

__ADS_1


Jangan lupa komen, like, dan vote, karena suport dari kalian adalah semangat dedek.


__ADS_2