Hay Pak Guru

Hay Pak Guru
Part 108


__ADS_3

Kedatangan Salsa di rumah mereka membuat Alana sangat ceria, melihat tawa juga senyum di bibir Alana adalah kebahagian tersendiri untuknya.


Dan yang membuatnya terharu ketika Alana menceritakan tentang ibunya pada Salsa, tak sekalipun Alana menjelek-jelekkan ibu Anna, bahkan sedari tadi gadis itu memujinya.


Sepeninggalan Salsa mereka berdua menuju kamar untuk mengistirahatkan tubuhnya yang lelah bermain gelitik mengelitik. Alana meregangkan otot-ototnya lalu berbaring di atas ranjang menghadap langit-langit kamar.


"Aa kita jenguk mama yuk!" ajak Alana.


Alvi tak menyahut dan malah ikut membaringkan tubuhnya di samping Alana dengan kaki menjuntai ke lantai.


"Aa!"


"Buat apa?" sahutnya dingin, ia tahu membenci ibu sendiri bukanlah hal yang wajar, tetapi hatinya terlanjur sakit untuk menerima wanita itu menjadi ibunya. Dulu ia masih berharap ibunya kembali dan tinggal bersama, tapi setelah kejadian beberapa hari yang lalu, kebencian Alvi semakin menjadi.


Gadis yang sangat ia jaga dan cintai malah di lukai oleh ibunya sendiri, padahal Alana tidak mempunyai salah apapun pada ibunya.


Sampai sekarang Alvi masih menyalahkan diri sendiri, beranggapan ibunya menyiksa Alana karena benci padanya.


"Aa nggak kasian sama mama? dia pasti butuh orang buat dia bangkit, di dalam sana dingin A, cabut aja ya tuntutannya!" bujuk Alana.


"Jangan buat Aa marah Al."


"Mama Anna...."


"Jangan sebut namanya atau Aa benar-benar marah."


Bukannya mendengarkan, Alana malah semakin dalam membahas ibunya membuat Alvi muak sendiri mendengarnya.


"Mama nyiksa aku bukan karena aku istri Aa, tapi karena aku anak dari ayah Kevin dan bunda Anin." Alana meraih tangan Alvi tapi gadis itu tetap menatap langit-langit kamar.


"Sepertinya ini hanya dendam masa lalu yang belum terselesaikan A, jadi semua ini bukan karena Aa."


"Kita jenguk ya." bujuk Alana lagi.

__ADS_1


Alvi sama sekali tak mendengarkan Alana, sibuk dengan dunianya sendiri di leher gadis itu.


"Aa dengerin aku nggak sih?" Mulai kesal.


"Hm."


Alvi mengambil ponselnya di atas nakas lalu menghubungi seseorang yang lebih penting dari yang di bahas Alana tadi. Baru deringan pertama talfonnya terjawab.


"Dokter Dion."


"Iya, ada yang bisa saya bantu?"


"Kerumah saya sekarang bisa?"


"Anda yang butuh silahkan ke rumah sakit untuk menemui saya."



Alana menahan tawa mendengar jawaban tak berfaedah dokter Dion, berobat dengan lelaki itu kurang lebih sebulan, membuatnya sedikit mengetahui kepribadian somplak bin jahil dokter Dion.


"Yang sabar Aa sayang ngadepin kejahilan dokter Dion."


"Harus demi kamu," sahut Alvi mengecup kening Alana lalu duduk di pinggir ranjang bersandar pada kepala dipan, mengambil sebuah buku penelitian Ilmiah untuk ia baca sebagai pengisi waktu di sore hari.


Sementara Alana berjalan ke arah balkon kamar memperhatikan langit mendung pertanda sebentar lagi akan hujan.


"Aa sepertinya bakal hujan deras deh," teriak Alana dari balkon tetapi Alvi tak menyahut.


Gadis itu masuk ke dalam kamar, ikut berbaring di samping Alvi dengan kepalanya berada di dada bidang lelaki itu, tak lupa tangannya melingkar indah di perut Alvi.


"Bentar lagi hujan."


"Hm."

__ADS_1


"Kalau hujan nanti, aku boleh main?" izin Alana sembari memainkan jari telunjuknya di atas dada bidang Alvi yang hanya terbalut baju kaos putih polos, membuat pola random di sana.


"Nggak boleh." masih fokus membaca walau tangan satunya tak pernah diam memainkan rambut indah Alana.


"Aku ngambek nih?" ancam Alana.


Alvi melirik keluar memerhatikan cuaca di sore hari. "Boleh." ujarnya, menurutnya langit mendung di luar sana belum tentu hujan.


"Gitu dong kan makin sayang." Memeluk Alvi semakin erat.


Lama menunggu hujan tak kunjung turun, Alana mulai bosan karena bicara sendiri sementara Alvi masih sibuk dengan buku yang ia baca.


Alana menarik buku itu lalu menyembunyikannya di bawah bantal. "Apa nggak ada hal yang menarik selain buku bagi Aa?" tanyanya dengan wajah cemberut.


"Ada," jawab Alvi menatap Alana.


"Apa tuh?"


"Kamu!"


Blush, wajah Alana seketika memanas mendengar jawaban Alvi, hanya satu kata sederhana tetapi mampu membuat jantungnya berdebar tak karuan. Ah kenapa suaminya makin hari makin cair, hangat, dan romantis?


"Semua yang ada pada kamu itu menarik," lanjut Alvi. Ia menyentuh bibir pink Alana. "Bibir, mata, hidung, bahkan bentuk wajah kamu adalah hal menarik buat Aa."


Tetap saja bagaimanapun romantisnya Alvi, semuanya akan berujung kemesuman, terbukti sekarang guru kimia itu melirik tempat favoritnya.


"Apa lagi Squishy ini." Meremas benda kenyal tak bertulang itu.


"Aa!" tegur Alana.


Bukannya mendegarkan, Alvi malah menyembunyikan Alana di dalam selimut.


__ADS_1


...TBC...


Hay-hay hari ini hari senin loh, jangan lupa lempar vote nya buat Aa ya akak² kesayangan dedekšŸ¤—


__ADS_2