Hay Pak Guru

Hay Pak Guru
Part 144


__ADS_3

Berdebat bukanlah hal baru untuk pasangan Alvi dan Alana. Setiap akan pergi kesuatu tempat mereka budayakan berdebat terlebih dahulu. Bersiap-siap yang seharusnya hanya setengah jam kini menjadi satu jam hanya karena outfit masing-masing.


"Ganti!" ujar Alvi kesekian kalinya.


"Dahlah, aku pakai piyama aja kalau gitu." melempar semua pakaian ke samping Alvi. Ia sudah lelah ganti baju, tetapi belum ada yang membuat Alvi terkesan.


Akhirnya Alvi mengalah, membiarkan Alana memakai apa saja dengan syarat pakaian itu harus tertutup. Senyum Alana merekah setelah memoles wajahnya dengan make up natural tetapi sangat cantik.



Sebelah tangannya menenteng tas berwarna hitam senada dengan high heels yang ia pakai, sebelah lagi mengamit lengan Alvi.


Terpanah? tentu saja Alvi terpanah dengan kecantikan dan penampilang sang istri, Alana sangat jarang berpakaian formal seperti ini.


"Udah cantik belum A?" tanya Alana entah kesekian kalinya saat Alvi akan melajukan mobil Honda Jazz putih meninggalkan pekarangan rumah mereka. Mobil yang baru saja Alvi ambil beberapa minggu yang lalu di rumah utama.


Alvi membukakan pintu untuk sang istri setelah mereka sampai di restoran tempat mereka janjian. Meraih tangan mungil Alana, menautkan jari jemari mereka, bejalan beriringan memasuki restoran mewah tersebut. Pelayan mengarahkan mereka keruangan VIP yang telah di pesan pak Dirga.


Senyum Alana mengembang melihat Mis Tania dan pak Dirga di dalam ruangan itu.


"Malam Mis, pak Dirga," sapa Alana sedikit menunduk.

__ADS_1


"Malam." Refleks Dirga berdiri, terpanah akan kecantikan Alana malam ini. Tatapannya tak pernah berpaling sampai suara deheman Alvi menyadarkannya.


Alvi manarik kursi dan mempersilahkan Alana duduk, lalu ia duduk di samping Alana walau agak berjarak.


"Makasih pak," ujar Alana.


"Jangan panggil pak, Al," bisik Alvi. "Aa nggak suka."


"Harus Aa, biar orang lain ikut menghargai Aa. Kalau istri aja nggak menghargai, gimana orang lain coba? gimana sih," lirih Alana hanya bisa di dengar oleh Alvi seorang.


Satu pelayan berdiri masing-masing di belakang mereka, bersiap mencatat apa saja makanan yang di pesan. Alvi menyerahkan daftar menunya pada Alana, meminta gadis itu memesan makanan untuknya juga.


Dirga? laki-laki itu hanya menjadi pengamat, tak ingin ikut campur urusan mereka, dia hadir makan malam karena ajakan Tania, tanpa tahu maksud wanita itu pada gadis yang ia cintai. Cemburu? jangan di tanya, ia sangat cemburu, tetapi cukup tahu diri bahwa Alana hanya mencintai Alvi.


Alana menyebutkan beberapa menu makanan berbau Seefood karena memang gadis itu sangat menyukainya, juga memesan beberapa makanan pembuka untuknya dan Alvi.


"Alvi bukannya lo nggak suka makanan Seafood ya?" Tania mulai beraksi, meremehkan Alana yang tidak tahu makanan apa saja yang di sukai Alvi.


Dari semua makanan yang di sebutkan Alana tak satupun Alvi sukai.


"Alvi juga nggak bisa makan tanpa ada sambel," lanjut Tania.

__ADS_1


Malu, itulah yang dirasakan Alana sekarang, ia tak pernah tahu apa yang di sukai Alvi dan apa yang tidak. Bahkan orang lain lebih tahu padahal ia adalah istrinya. Alana meletakkan daftar menu diatas meja, lalu mentapa Alvi dengan tatapan yang sulit di artikan.


"Kenapa pak Alvi nggak pernah bilang?" lirih Alana.


"Itu dulu sebelum aku nikah. Tapi sekarang semuanya berubah sejak tinggal sama kamu. Makanan Seafood sangat enak."


Alvi mengeser kursinya lebih dekat dengan Alana, mengambil daftar menu di atas meja lalu menyerahkan pada Alana. "Pesanlah, aku suka semua pilihan kamu."


"Beneran?"


"Hm."


Dirga mengulum senyum, melihat wajah tak bersahabat Tania. Bukannya menjatuhkan Alana, Alvi malah membalikkan keadaan seakan-akan Tania sok tahu tentang kehidupannya.


***


Jangan lupa vote, komen, dan Like


oh iya mampir di novel kakak aku dong


__ADS_1


__ADS_2