Hay Pak Guru

Hay Pak Guru
Bonus Capter 11


__ADS_3

Tepat saat Alana membuka pintu, Alvi melempar berkas tepat di hadapan para karyawannya. Laki-laki itu sangat emosi karena kerja mereka tidak becus seperti yang ia inginkan.


Menyadari keberadaan Alana yang diam mamatung di ambang pintu. Alvi berusaha mengendalikan emosinya.


"Maaf Tuan, kami teledor, kami tidak akan melakukannya lagi," sesal beberapa karyawan karena lalai mengerjakan laporan keuangan begitu saja.


Melupakan bawah pemimpingnya sangat keras. Belakang ini Alvi begitu lunak membuat para karyawan melupakan siapa Alvi sebenarnya jika sedang marah.


Alvi senyum sinis. "Itu kalau saya memberi kalian kesempatan lagi!" ucapnya penuh penekanan.


Alana hanya memandangi suaminya tanpa berkedip sedikipun. Ia kasian pada karwan yang sedang menunduk menerima makian dari mulut berbisa pria itu.


Tapi apalah daya ia tidak punya kekuasaan untuk membela dan tidak ingin ikut campur. Disini suaminya adalah pemimpin, dengan ikut campur sama saja ia tidak menghormati Alvi.


"Nyonya." Hendri menunduk hormat pada Alana.


"Kak Hendri, mari," sopan Alana mengikuti langkah Alvi yang lebih dulu meninggalkan ruang rapat.


Ia berhenti tepat di depan ruangan suaminya saat melihat wanita dengan pakaian kekurangan bahan. Di lepasnya kacamata hitam yang melekat diwajahnya.


"Kamu sekretaris baru suami saya?" tanya Alana dengan nada sedikit sinis.


"Iya nyonya."

__ADS_1


"Cantik sih ...," gumam Alana mengantung kalimatnya


"Terimakasih."


"Apa gaji yang di berikan suami saya sangat sedikit?" tanya Alana kembali.


"Huh? Tidak Nyonya, gaji saya di perusahaan ini lumayan besar," sanggah sekretaris seksi itu.


Alana kembali meneliti dari atas sampai bawah penampilan wanita di hadapannya. Kemeja dengan belahan dada sedikit rendah, juga rok dengan belahan hampir setengah paha.


"Lalu kenapa baju kamu kekurangan bahan seperti itu? Apa saya harus memilihkan baju yang pas?"


Skatmat, sekretaris Alvi langsung terdiam dan menundukkan kepalanya. Ini pertama kalinya wanita itu bertemu dengan istri bosnya. Ternyata berita yang beredar bahwavistri CEO perusahaan ini yang katanya baik hati salah besar.


Usai mengatakan itu, Alana menyusul Alvi masuk keruangannya. Baru saja menutup pintu tubuhnya sudah di tarik kesofa dan duduk di atas pangkuan Alvi.


"Darimana saja, hm? Aa tadi udah nunggu," ucap Alvi mengendus ceruk leher Alana.


"Habis ngasih siraman rohani sama sekretaris Aa, pantesan betah di kantor wong di depan ruangannya ada cewek bening gitu," sindir Alana.


"Sayang, jangan nyari bahan untuk berdebat Aa lagi kesal." Manja Alvi.


Alvi yang Alana lihat di ruang rapat sangat berbeda dengan Alvi yang kini memeluknya. Mereka berdua seperti orang yang berbeda.

__ADS_1


"Aduh, sikap ganas suami aku mana tadi?"


"Mana bisa Aa garang sama kamu sayang," jawab Alvi.


Alana sedikit menunduk kemudian meraup bibir Alvi yang mengerucut. "Gemes banget Daddynya anak-anak aku. Jadi pengen buat lagi deh," gumam Alana menguyel-uyel hidung Alvi.


"Ayo!" ajak Alvi.


"Dih, giliran nganu cepat banget. Aku kesini cuma buat nganter dokumen Aa yang ketinggalan. Tuh di atas meja. Lain kali kalau marah jangan sampai segitunya, ingat umur ntar darah tinggi jantungan."


"Iya Mommy, nggak lagi."


Alana kembali mengecup bibir tebal Alvi. "Udah manjanya sayang, aku mau pergi ada urusan juga. Mesra-mesraanya di rumah aja, puas-puasin deh."


"Beneran?" tanya Alvi.


"Iya."


"3 Ronde?"


"Sebahagia Aa, dah!"


...****************...

__ADS_1


__ADS_2