Hay Pak Guru

Hay Pak Guru
Part 117


__ADS_3

Alana mengernyit heran kala Alvi menghentikan motornya di tempat yang lumayan sepi, apa lagi saat lelaki itu menyuruhnya turun.


Dalam hati Alana sudah bersiap memaki Alvi habis-habisan jika sampai lelaki itu meninggalkannya di tempat sepi seperti ini.


"Kenapa Aa?


"Motornya mogok," jawab Alvi ikut turun lalu menstandar motornya, ia memeriksa tangki bensin, masih full, lalu ada apa dengan motornya?


"Oh kirain mau ninggalin aku."


"Sembarangan."


Tak ingin Alana kepanasan, Alvi menarik gadis itu berteduh di sebuah pohon, mengambil ponselnya berniat memanggil bantuan. Sialnya daerah yang mereka tempati tidak ada sinyal satupun.


Ia melirik motor sport yang tak jauh darinya bergantian dengan gadis di sampingnya yang mulai kepanasan mengibas-ibaskan tangannya.


Sekarang Alvi bingung memikirkan solusinya, jika berdiam diri seperti ini mereka tidak akan sampai di rumah, tetapi ia juga tidak tega meninggalkan Alana seorang diri di tempat sepi sementara dirinya pergi meminta bantuan.


"Kamu tunggu di sini, Aa mau ambil motor dulu," ujarnya sembari berlari dibawah matahari terik, lalu mendorong motor sport lumayan besar itu ikut berteduh bersama mereka.


Alvi kembali memasang Helm di kapala Alana, agar gadis itu tidak terlalu terkena sinar matahari langsung.


"Naik!" perintah Alvi, ia memutuskan akan mendorong motor dengan Alana di atas, dengan begitu gadisnya tidak perlu capek-cepek berjalan, apa lagi ia tidak tahu berapa lama akan berjalan sampai mendapatkan bengkel atau setidaknya jaringan untuk menghubungi seseorang.


"Udah bisa nyala A?" tanya Alana dengan dahi mengerut tak kuat dengan paparan sinar matahari lumayan panas.

__ADS_1


"Belum sayang, Aa mau dorong."


"Terus ngapain nyuruh aku naik? yang ada makin berat Aa," gemas Alana, heran dengan pikiran Alvi.


"Nggak papa Aa kuat, daripada kamu lelah jalan kaki."


"Apansih, nggak mau, aku ikut dorong dari belakang, kalau lelah kita istirahat."



"Alana dengerin Aa!" tegas Alvi.


Gemas akan tingkah Alvi, Alana mencubit hidung suaminya. "Bucin boleh Aa tapi jangan goblok juga sayang."


"Yakin?" tanya Alvi bukan ragu akan keinginan Alana, tapi ia sendiri yang tak tega melihat istrinya berjalan.


Ia diam seperti boneka hidup, memasrahkan diri ketikan Alvi melepas helm yang melekat di kepalanya lalu memakaikannya topi, memperbaiki hoodie yang ia pakai agar menutup sempurna permukaan kulitnya.


"Nggak sekalian di masukin ke tas A?" sebal Alana.


"Biar nggak kepanasan sayang," jawab Alvi mengambil tas di punggung Alana lalu memakainya, mulai mendorong motor sport miliknya di bantu Alana dari belakangan.


Lama mereka jalan tapi belum ada rumah atau bengkel, jaringan juga belum normal, Alvi sesekali melirik kebelakang takut istrinya kelelahan, Selalu bertanya ini itu untuk menghilangkan kegabutan sang istri.


"Aa lihat di depan ada bengkel," heboh Alana menunjuk kerumunan laki-laki tak jauh dari mereka, jaringan juga mulai membaik.

__ADS_1


Sebenernya Alvi risih memasuki bengkel itu, apa lagi melihat tatapan lapar para pria memandangi istri cantiknya. Namun, apalah daya ia membutuhkan pertolongan sekarang, ia menarik Alana duduk di pinggir dan ia ikut duduk di antara laki-laki lainnya sebagai pembatas.


"Tatap Aa!" perintah Alvi saat Alana memperhatikan sekeliling, dan malah membalas senyuman orang yang mengajaknya senyum.


"Adiknya gemesin pak," ujar salah satu pemuda, mungkin dua tahun lebih tua dari Alana. "Udah punya pacar Neng?" lanjutnya dengan nada menggoda, dan itu mampu membuat api cemburu berkobar dalam diri Alvi.


Menyadari perubahan wajah Alvi, Alana semakin erat mengenggam tangan lelakinya, menyalurkan kehangatan, mencegah Alvi membuat keributan di tempat asing seperti ini.


"Udah punya suami kak, iyakan sayang?" jawab Alana.


"Hm."


Alana mengambil tisu kemudian mengeringkan keringat Alvi, tak lupa memberi suaminya minum.


Sembari menunggu motor mereka selesai di kerjakan, Alana bermain di ponsel nya dengan sebelah tangan karena sebelahnya di genggam erat oleh Alvi. Ia mendongak menatap Alvi ketika mendapat balasan dari Samuel.


"Aa mau nginep di rumah Oma nggak?" kebetulan rumah yang paling dekat dengan lokasi mereka saat ini hanya Mansion utama keluarga Adhitama.


"Besok kamu masih ujian."


"Nggak papa aku bisa minjem buku Samuel."


"Terserah kamu aja." pasrah Alvi.


Mendapat jawaban, Alana kembali menghubungi Semuel untuk menjemputnya.

__ADS_1


...TBC...


Jangan lupa, komen, like, dan vote akak sayang.


__ADS_2