Hay Pak Guru

Hay Pak Guru
Part 170


__ADS_3

Kunjugan Alvi kali ini, adalah kujungan terlama selama berpisah beberapa bulan. Alvi sudah berada di Boston selama seminggu, mengajak sang istri jalan-jalan kemanapun gadis itu inginkan


Lelah keliling kota sampai siang, kini Alvi terlelap di sofa ruang tamu seorang diri, sementara Alana sibuk di dapur dengan asisten rumah tangannya. Membuat cake untuk sang suami yang akan berangkat besok ke London menemui kakek Farhan, mengecek perkembangan kesehatan pria tua itu.


"Bibi," panggil Alana sembari mengaduk adonan, sementara Ratih mulai mengukus kue yang sudah Alana isi pada cetakan.


"Iya Nona," sahut bi Ratih.


"Bahan-bahan dapur, apa saja yang udah habis?"


"Semuanya masih lengkap Nona. Nyonya Anin baru saja mengirim uang untuk membeli semua perlengkapan dapur."


Alana menggangguk mengerti . "Bi, lain kali kalau Bibi butuh sesuatu atau ada bahan makanan yang kurang, ngomong ke saya aja ya, nggak usah ke bunda!" pinta Alana, ia tak ingin merepotkan bunda Anin, lagian ini rumahnya, ia yang tinggal di sini, jadi harusnya semua biaya ia yang tanggung.


"Baik Nona."


"Malam nanti kita masak apa ya," gumam Alana membuka kulkas melihat bahan-bahan apa saja yang ada, dan menu apa untuk makan malam nanti bersama suami tersayang. Ya walau tidak semua Alana yang mengerjakan, karena belum terlalu paham urusan dapur, bebeda dengan Alvi yang tahu segalanya.


Melihat ikat di sebuah kotak, telintas ide gila di otak gadis itu, apa lagi saat melihat mulut ikat itu bergerak. Alana mengambil ikat itu tanpa pengalas apapun, tak peduli jika tangannya bau amis atau tidak, yang penting rencananya segera terlaksana.


"Nona ikannya mau di bawa kemana?" tanya Bi Ratih.


"Pinjam bentar, Bi," Sahut Alana menghilang di balik pintu.

__ADS_1


Kaki kecil nan imut itu perlahan-lahan melangkah mendekati Alvi yang kini tertidur pulas di sofa, dengan jahil Alana menempelkan mulut ikan di sudut bibir sebelah kanan juga kiri Alvi, setelah itu ia melihat ekspresi laki-laki itu.


Merasakan sesuatu yang dingin menyentuh sudut bibirnya, senyum Alvi mengembang. Ia mengira itu adalah bibir Alana, karena tidak mungkin bibir orang lain yang berani menciumnya.


Sekuat tenaga Alana menahan tawa melihat ekspresi Alvi. Gadis itu menutup mulutnya sembari melompat-lompat di dekat Alvi, sangat bahagia bisa mengerjai sang suami. Alana kembali menempelkan bibir ikan tepat di bibir tebal Alvi hanya sekilas, tapi mampu membuat laki-laki itu memajukan bibirnya.


Sekali lagi Alana menempelkan bibir ikan itu, kali ini sedikit lama. Ia memperhatikan bibir Alvi yang mulai terbuka bersiap melahap bibi ikan itu dan....


"Astagfirullah Al!" kanget Alvi saat merasakan sesuatu yang amis, laki-laki itu langsung bangun dan duduk di sofa, menjilati bibirnya yang terasa amis akibat kejahilan sang istri.


"Pis damai Aa." Cengir Alana menaikkan jari telunjuk juga jari tengahnya membentuk huruf V, setelahnya berlari kedapur sebelum Alvi menariknya.


"Alana!" teriak Alvi.


"Apa sayang?" sahut Alana dari dapur.


Alana kembali mendekati Alvi setelah mencuci tangannya dan menyimpan ikan itu. Ia memasang wajah tak dosa, langsung duduk di pangkuan Alvi yang masih mengumpulkan nyawanya yang hilang entah kemana.


"Tanggung jawab," ujar Alvi dengan suara serak khas bangun tidur.


"Tanggung jawab gimana?"


Alvi memanyungkan bibir tebalnya menunggu Alana berbuat sesuatu. Ia memejamkan matanya saat Alana mulai mendekat, satu detik, dua detik, tiga detik, tak ada sesuatu yang menempel, ia membuka mata dan mendapati Alana nyengir tanpa dosa.

__ADS_1


"Mandi dulu, Aa bau ikan,"


Sembari menunggu Alvi mandi, Alana duduk di pinggir ranjang setelah menyiapkan pakaian Alvi, matanya membulat sempurna saat melihat Alvi keluar dari kamar mandi hanya berbalut handuk, sembari mengosok rambutnya yang basah.


"Njir tampan banget suami gue," seru Alana menghampiri Alvi dan langsung memeluknya.


"Ngomong apa tadi, Hm?"


"Aa ayo buat dedek!" ajak Alana membuat pola random di dada bidang Alvi dengan telunjuknya.


"Huh?"


"Ayo buat dedek sekarang," rengek Alana.


Alvi memeriksa suhu tubuh Alana, tidak biasanya gadis itu menawarkan diri terlebih dahulu. "Nggak sakit," gumam Alvi.


"Yang bilang aku sakit siapa," kesal Alana menepis tangan Alvi. "Aku cuma mau buat dedek sama Aa." Alana menjeda "Tapi nggak jadi siapa suruh ngatain aku sakit."


"Tawaran di terima dan nggak bisa di tarik lagi," ujar Alvi secepat kilat mengendong Alana ke ranjang.


"Pakai baju Aa!"


"Nggak usah sayang," seringai Alvi. "Ujung-ujungnya juga di buka," bisiknya penuh sensasi menggigit kecil telinga Alana.

__ADS_1


...****************...


Jangan lupa Komen, vote, dan Like


__ADS_2