Hay Pak Guru

Hay Pak Guru
Ekstra part 18


__ADS_3

Di saat semua orang sibuk menyiapkan pemakaman Oma Jelita, Alana malah mengalami kontraksi. Awalnya hanya sesekali, tetapi seiring berjalan waktu, kotraksi yang di rasakan bumil itu semakin sering, membuat Alvi juga bunda Anin melarikan Alana kerumah sakit secepat mungki.


"Aku nggak mau melahirkan normal Aa, aku mau operasi aja," lirih Alana nencengkram tangan Alvi saat kontraksi kembali ia rasakan.


Sakit di bagian pinggang juga bagian bawah perut, membuat keringat dingin membasahi seluruh tubuh Alana.


Alvi tak menjawab, terus mengecup, membenamkan bibirnya di kening Alana. Rasa khawatir mulai menyelimuti dirinya. Kondisi Alana sekarang benar-benar lemah, melakukan operasi sesar juga sudah tidak memungkinkan karena sudah pembukaan ketujuh. Namun, gadis dalam dekapannya tak mampu hanya untuk mengejan. karena lelah menangis sepanjang hari.


"Sakit Aa," rintih Alana, saat merasakan sesuatu ingin keluar di bagian bawahnya.


Dokter kembali memeriksa jalan lahir dan bersiap saat sudah pembukaan 10. Demi meringankan rasa nyeri pada ibu hamil, dokter memerintahkan Alvi memposisikan diri di belakang Alana. Agar Alana bisa melahirkan dengan posisi setengah duduk bersandar pada Alvi.


Doktet mulia memberi intruski pada Alana.


Dengan nafas terengah-engah, Alana mengikuti intruksi dokter, dengan tangannya mencakar lengan suaminya, bahkan tanpa sadar menjambak rambut laki-laki itu. Tak peduli akan sekitar yang penting rasa sakit yang ia rasakan segera hilang.


"Sedikit lagi, Nona,"

__ADS_1


Alana kembali mengejan sekuat yang ia bisa tetapi belum mampu mengeluarkan sosok mungil di dalam sana. Pertahanannya hampir runtuh tapi belum ada tanda-tanda suara tangisan baby.


"Aku nggak sanggup lagi Aa," lirih Alana.


"Kamu pasti bisa sayang. Kamu ibu yang kuat," bisik Alvi di telinga Alana. Rasa perih akibat cakaran Alana tak sebanding dengan rasa khawatirnya.


Alana kembali mengejan kali ini usahanya tak sia-sia, senyumnya terukir ketika mendengar suara tangisan bayi. Ia menatap sayu laki-laki yang kini memeluknya. Dirinya kembali mengejan saat merasakan sesuatu yang lain mendesak ingin keluar. Suara tangisan bayi kedua kembali terdengar, berbarengan dengan hilangnya kesadaran Alana dalam pelukan Alvi.


"Dokter, ada apa dengan istri saya? apa yang terjadi? kenapa istri saya tidak sadarkan diri!" bentak Alvi, air mata bercucuran membasi pipi laki-laki itu, mencium seluruh wajah pucat Alana.


"Istri anda kehilangan banyak darah, tapi anda jangan khawatir ini biasa terjadi pada ibu hamil. Silahkan mengumandangkan Adzan di telinga putri anda. Kami akan menjahit inti tubuh istri anda dulu."


Belum ada yang datang selain bunda Anin dan Alvi yang sedari tadi menemaninya. Bunda Anin mengendong cucu pertamanya, lalu menidurkannya di atas dada Alana yang terekspos tanpa penghalang apapun.


"Lihatlah sayang, anak kamu sangat mirip dengan Daddynya," ujar bunda Anin mengusap rambut Alana.


"Kenapa harus mirip Aa? padahal yang lahirin aku, curang banget," gerutu Alana.

__ADS_1


"Tapi yang nyebar benih Aa sayang," sahut Alvi yang sedari tadi diam saja memperhatikan kedua babynya tidur di samping Alana.


Sebelum meninggalkan cucu dan anaknya di rumah sakit, bunda Anin mengajari Alvi bagaimana cara mengendong bayi dengan benar. Dirinya harus pergi menghadiri pemakaman Oma Jelita setelahnya akan kembali lagi kerumah sakit.


"Terimakasih sayang, sudah melahirkan dua malaikat cantik untuk Aa," bisik Alvi mengesekkan hidung macungnya dengan hidung sang istri.


Alana hanya mengangguk, merapikan rambut Alvi yang acak-acakan karena ulahnya.


...****************...


Jangan lupa komen, like dan vote. Mampir juga di novel baru dedek "Cinta dan Masa lalu."


Akhirnya dedeknya Arga kaluar juga



Jadi Daddy yang sesungguhnya

__ADS_1



__ADS_2