
Katanya tidur di pagi hari bisa menghambat rejeki masuk ke rumah. Namun, mitos itu di anggap angin lalu oleh keluarga A. Bukan karena sombong dengan kekayaan yang ada. Tetapi hanya di hari libur seperti ini mereka bisa tidur sampai siang.
Sialnya, rencana tidur mereka harus terganggu karena satu orang perusuh.
"Mommy, Lili mana!" Teriakan Alatha mengema di rumah mewah itu membuat Alana dan Alvi langsung terbangun karena kanget.
Alana meregangkan otot-otornya masih dengan tangan Alvi di pinggangnya. "Anak Aa kenapa lagi sih?" gumam Alana kembali memeluk tubuh kekar sang suami.
"Anak kamu juga sayang," bisik Alvi.
"Daddy! Mommy! Ayo bangun!" teriak Alatha mengedor pintu kamar orang tuanya.
Alana mendengus, beranjak membuka pintu kamar. "Alha sayang kamu itu cewek nak, jangan teriak-teriak," omel Alana.
"Anak Daddy napa cemberut gitu Hm?" tanya Alvi yang kini berdiri tepat di belakang Alana.
"Lili hilang," tanggis Alatha pecah, air mata mengalir begitu saja membasahi pipinya. Ia menyesal tidak membawa Lili tidur bersama semalam.
"Nggak mungkin, paling lagi jalan-jalan pagi nak." Alana memeluk putrinya, mengelus pungung bergetar anak bungsunya itu.
Alana tahu betapa berharganya Lili untuk Alatha. "Ayo, Mommy bantu nyari."
Saat hendak melangkah, tanganya di tarik oleh Alvi. "Ganti baju dulu!" perintah Alvi tak terbantahkan.
__ADS_1
Bukan apanya, Alana hanya memakai baju kaos sangat longar tanpa dalaman apapun. Apa wanita tiga anak itu berniat mempertontongkan tubuhnya di depan orang lain?"
Yang di tegur hanya cengegesan, kembali ke kamar untuk menganti baju. Sementara Alvi dan Alatha berjalan lebih dulu keruang keluarga.
Alatha terus menangis di pelukan sang Daddy. Ia tidak akan rela jika benar kucing kesayangannya hilang. "Alha liat Lili semalam tidur di sini Dad, tapi pas bangun udah nggak ada. Alha udah keliling rumah juga, bahkan udah periksa tempat pup nya," lirih Alatha melap ingusnya di baju kaos milik Alvi.
"Ada apasih Dad?" tanya Arga yang ikut bangun mendengar teriakan adik bungsunya.
"Lili hilang katanya. Kamu nggak liat?"
"Nggak, coba tanya Atha, semalam Arga liat tuh anak gendong Lili," jawab Arga menyandarkan kepalanya di sandaran sofa. Ia memijit pangkal hidungnya.
Alatha memandangi Daddyanya dan Arga secara bergantian. Sepertinya ada yang mencurgikan di sini. Gadis itu beranjak dan langsung mengecup pipi abang tampannya.
Agatha mengendong Lili? Yang benar saja, kakak perempuannya tidak menyukai kucing. Alatha langsung menerobos masuk ke kamar Agatha begitu saja. Menarik selimut yang menutupi tubuh kembarannya itu.
"Dasar kebo." Alatha mencebik melihat cara tidur Agatha jauh dari kata feminim. Kepala mengantung di pinggir ranjang, dengan kaki membentuk huruf V, sekali tarik, kakaknya akan mendarat di lantai.
"Kak Atha!" teriak Alatha tepat di telinga Agatha.
"Anjir telinga gue goblok!" maki Agatha langsung menutup telinganya yang berdenging. Teriakan Alatha melebihi toa masjid.
"Lili mana?"
__ADS_1
"Mana gue tau, sana keluar dari kamar gue. Ganggu aja pagi-pagi," gerutu Agatha kembali menarik selimutnya.
"Atha sayang, Lili mana nak? Kasian adik kamu nangis," ujar Alana yang baru saja datang.
Agatha bergeming, tak ada niatan menyahut sedikitpun. Ia ngantuk karena baru tidur subuh tadi setelah bermain game.
Dan tentang Lili? Ya dia yang menyembunyikan kucing sialan itu. Karena pemilik hewan itu berani mencari masalah dengannya semalam.
Belum lagi, kucing itu dengan lancang mencakar kakinya saat ia tak sengaja menginjak ekor panjang Luli.
"Agatha," lembut Alana.
Alvi yang juga baru sampai, mengelus pundak Alatha sayang, kemudian menghampiri Agatha. "Sayang, kucing Alha mana?"
"Udah Atha sate semalam karena lapar," gerutu Agatha.
"Di sate nggak tuh!" Tawa Arga pecah melihat ekspresi Alatha yang kian memerah siap menangis. "Kalau pelihataan gue di gituin, yakin gue bakal bunuh diri," ucap Arga menas-manasi.
"Arga!" tegur Alvi dan Alana.
"Ampun suhu," cengir Arga menaikkan jari telunjuk dan tengah membentuk huruf V, setelahnya berlalu pergi.
...****************...
__ADS_1