Hay Pak Guru

Hay Pak Guru
Part 29


__ADS_3

Memejamkan mata itulah yang di lakukan Alana saat ini, sembari merasai lembut dan nyamannya kasur yang dia tempati. Mendapat lampu hijau dari sang ayah yang mengatakan akan menunggu pacarnya datang meminang kerumah hingga batas waktu yang di tetapkan. Membuat hatinya sedikit legah, tapi yang mejadi masalahnya disini, Pak Alvi bagai di telan bumi, beberapa hari tidak datang kesekolah bahkan no ponsel Pria itu tidak juga aktif, membuatnya frustasi.


Waktu yang di tentukan 2 hari lagi, jika lewat dari itu mau tidak mau dia akan di nikahkan dengan Azka, adilkah semua ini bagi hidupnya? menikah dengan orang yang tidak dia cintai sama sekali, Menikah dengan orang yang di cinta sahabatnya, bukankah dia sama saja berkhianat pada teman sendiri.


Dia bangkit dari tidurnya kemudian membuka pintu kala mendengar suara ketokan, dan melihat bunda Anin di sana.


"Ada apa bunda?" Alana sedikit tak bersemangat malam ini.


"Di panggil sama Ayah, ada yang nyariin." ujar bunda Anin kemudian melengang pergi begitu saja.


Alana menghela nafas lelah, siapa yang mencari nya malam-malam seperti ini? Dengan langkah gontai dia menuruni anak tangga, tak peduli dengan penampilannya sekarang, rambut di cepol asal-asalan dengan piyama tidur sebatas paha.


Alana menyipitkan matanya, sepertinya di mengenal seseorang yang duduk berhadapan dengan ayahnya. Satu detik, dua detik, tiga detik.


Jatunganya berdetak kencang, mengetahui siapa orang itu, sontak dia balik badan lalu berlari kembali menaiki anak tangga menuju kamarnya. Tidak mungkin dia akan bergabung dengan penampilan seperti ini, sangat seksi dan berantakan.


Alana memegang dadanya sembari bersandar di belakang pintu. Kenapa jantung nya lari maraton hanya melihat seseorang yang duduk bersama ayahnya. Ini tidak boleh terjadi.


***


Bukan tanpa alasan Alvi tidak pernah menampakkan diri di sekolah, tapi dia sibuk mencari tahu siapa Alana sebenarnya, dari keluarga mana gadis itu berasal.


Dan betapa tercegangnya Alvi kala mengetahui identitas gadis yang selama ini dia ajak nikah asal-asalan. Ternyata gadis tersebut bukanlah dari keluarga biasa, melainkan anak dari pebisnis terkenal. Ternyata perusahan yang baru saja tanda tangan kotrak dengan perusahaannya adalah milik orang tua Alana.


Keluarga Adhitama, pemilik perusahaan raksasa yang terkenal di mana-mana. Jika di bandingkan dengan dirinya hanyalah bongkahan batu kerikil. pantas saja Alana begitu hati-hati dalam mengambil keputusan.


Alvi bukannya tidak mengerti dengan perkataan Alana malam itu yang mengatakan.


"Saya di beri waktu satu minggu untuk berfikir pak"


Itu artinya gadis berambut indah tersebut sedang menunggunya datang kerumah, mengatakan niat baiknya langsung pada sang ayah.


Malam ini Alvi memutuskan akan bertandang kerumah Alana sekaligus akan melamar gadis berambut indah tersebut. Semuanya telah Alvi siapkan, seserahan yang akan Alvi bawa juga sudah siap. Tinggal menunggu Om dan Tante nya saja.

__ADS_1


Pertama kali dalam hidupnya dia merasa gugup akan berhadapan dengan seseorang. Alvi menarik nafas panjang sebelum memencet bel rumah mewah nan indah tersebut.


Wanita paru baya membukakan pintu untuk Alvi seraya bertanya.


"Cari siapa Tuan?" tanya Bi Ijah asisten rumah tangga Alana.


"Tuan Kevinnya ada?"


"Sebentar Tuan saya panggilkan."


Bi Ijah melangkah tergopo-gopo menghampiri kedua majikannya di ruang tamu sembari menunduk hormat. "Maaf Pak, ada yang nyariin bapak di luar." ujar bi Ijah.


"Suruh masuk saja bi." Sahut Bunda Anin antusias.


Setelah mendapat perintah, Bi ijah mempersilahkan Alvi masuk bersama Tante dan Om nya. Kini Alvi duduk berhadapan dengan orang tua Alana.


Ayah Alana sedikit terkejut melihat kedatangan Alvi CEO Anggara Grup bersama dua orang yang lebih tua darinya.


Alvi mengeleng. "Saya kesini bukan karena pekerjaan pak."


"Saya sebagai Om Alvi, mewakili keponakan saya untuk meminang anak bapak!" ujar Om Alvi tanpa basa-basi.


***


Hari mulai gelap, namun tak ada tanda-tanda kepulangan Alana, bahkan ponsel gadis itu tidak aktif sejak pergi pagi tadi. Membuat Bunda Anin tidak tenang.


Bunda Anin jadi teringat perkataan putrinya saat pertama kali mengutarakan niat suaminya.


"Jangan buat Alana berpikiran kabur dari rumah hanya karena perjodohan ini."


Kata tersebut tergiang-giang di telinga Anin. Anin tidak akan memaafkan dirinya jika anak semata wayangkan kabur dari rumah dan terjadi apa-apa di luar sana.


Ayah Kevin berusaha menenangkan Bunda Anin yang terus menangis sembari memukul dada bidangnya.

__ADS_1


"Ini semua gara-gara Mas, seandainya malam itu Mas terima lamaran Alvi, Alana tidak akan pergi dari rumah!" bentak Anin terus memukuli dada bidang suamianya.


Ya, Ayah Kevin menolak lamaran Alvi malam itu, walau Alana sudah jujur padanya bahwa pacar yang di maksud Alana adalah Alvi. Ayah Kevin tidak setuju karena perbedaan umur yang sangat jauh. Umur Alana beberapa bulan lagi akan cukup 17 tahun, sementara umur Alvi hampir mendekati kepala tiga yaitu 27 tahun.


"Sayang tenang lah, kita bakal temuiin Alana, mungkin saja dia cuma kerumah temannya." bujuk Ayah Kevin walau dia juga khawatir dengan keadaan Putrinya yang belum juga pulang.


Ayah Kevin menelfon Azka dan yang lainnya namun jawaban mereka tetap sama, tidak bersama Alana. Sahabat Alana juga satu-satunya tidak tahu di mana keberadaan gadis itu.


Kevin memerintahkan Azka dan yang lainnya untuk mencari Alana, dia juga mengerahkan beberapa orang suruhannya.


"Jika terjadi sesuatu sama Alana, aku nggak bakal maafin mas Kevin." ancam Anin masih menangis dalam pelukan Kevin.


Hati ibu mana yang tidak khawatir saat hari mulai gelap namun anak gadisnya belum juga pulang, bahkan ponsel yang biasanya aktif kini tidak bisa di bubungi.


Anin melepas pelukan dari tubuh Kevin kemudian melangkah ke luar rumah. Kevin mencegah Anin saat akan masuk kedalam mobil.


"Mau kemana?"


"Aku mau nyari Alana mas, aku nggak tenang cuma di rumah saja."


"Kira cari sama-sama."


Kevin melajukan mobilnya membelah padatnya jalan raya. Sebenarnya pria paruh baya itu tidak tahu harus mencari putrinya di mana, tapi demi menenangkan hati sang istri dia terus melajukan mobilnya. Hingga notifikasi pesan masuk kedalam ponselnya. Di mana pesan itu berisi di mana putrinya berada sekarang.


"Jangan nangis lagi, Mas sudah tahu di mana Alana." Kevin mengelus tangan Anin lembut.


Sesampainya di tempat tujuan, Anin buru-buru turun dari mobil dan berlari menuju pantai. Di sana dia melihat putrinya tengah duduk di atas pasir putih memandangi ombak, tanpa merasakan dinginnya angin malam.


"Alana sayang!" panggil bunda Anin langsung memeluk Alana. "Bunda minta maaf sudah egois sama kamu sayang." Bunda Anin menciumi seluruh wajah putrinya.


"Bunda kenapa nangis?"


...TBC...

__ADS_1


__ADS_2