Hay Pak Guru

Hay Pak Guru
Part 23


__ADS_3

Jam kosong adalah surga bagi siswa siswi, seperti sekarang ini saat mendengar pengumuman dari Anto, ketua Kelas XII Ipa 3 membuat seisi kelas bersorak gembira. Ada yang naik ke meja melakukan konser, si hobi selfi mencari vibes yang pas untuk berfoto. Ratu gosip mengambil tempat bersama teman-temannya.


Tapi dia malah menarik tangan Salsa menjauh dari kelas yang sebentar lagi mengadakan konser dadakan. Dia menarik tangan sahabatnya itu menuju halaman sekolah bagian belakang.


"Ngapain sih Al?" tanya Salsa keheranan.


Dia mendudukkan diri di bangku taman di susul oleh Salsa. Padangannya fokus kedepan tanpa berani menatap Salsa yang selalu tahu isi pikirannya.


"Seandainya ada yang ngajak lo nikah, lo mau nggak?" tanyanya memecah keheningan.


"Tergantung... Kalau dia tampan, terus bayak uang dan bertanggung jawab, gue mau-mau aja." jawab Salsa santai.


"Tapi kan lo belum lulus Sal." sanggahnya tak percaya dengan jawaban yang di lontarkan sahabatnya.


Bukannya menjawab, Salsa malah menatapnya curiga.


"Lo di ajak nikah sama pak Alvi!" teriak Salsa hebo untung saja di taman belakang sepi tak ada orang.


Salsa reflek menutup mulutnya, kemudian nyengir tampa dosa ke arahnya. "Ups, maaf."


"Miif." ledeknya kesal.


"Beneran Al?"


Dia mengangukkan kepalanya. "Tapi gue nolak Dia Sal, gue nggak mau nikah muda, mana Gue belum bicara sama orang tua gue."


"Napa lo tolak sih Al? kurang apa coba pak Alvi, tampan iya, pintar iya, kaya iya."


"Kurang hangat dan perhatian." sungutnya.


"Gue nggak setuju!"


Bukan, itu bukan suaranya ataupun Salsa, tapi itu suara laki-laki. Entahlah cowok itu selalu muncul di waktu yang tidak tepat seperti sekarang ini. Dia menatap jengah ke arah Azka yang kini duduk di samping kirinya.


"Gue nggak setuju!" ulang Azka.


"Gue nggak minta persetujuan lo!" kesalnya.


"Udahlah Al, terima aja, soal cinta, datang karena terbiasa."

__ADS_1


"Al lo itu masih sekolah, masa depan lo masih panjang, masa ia nikahnya sama om-om sekelas pak Alvi, gue nggak setuju! Bukan gue saja bahkan orang tua dan para sepupu lo nggak bakal ada yang setuju."


"Keputusan ada di tangan lo Al, gue dukung apapun itu, tapi gue saranin kalau lo emang cinta sama pak Alvi mending terima saja."


"Tahu apa lo tentang cinta?" sangah Azka pada Salsa.


"Seharusnya gue yang nanya, tahu apa lo tentang cinta?" balas Salsa tak kalah sengit. "Bukannya cita bagi lo hanya sebuah permainan belaka?" todong Salsa.


Azka terdiam tak lagi membalas pekataan Salsa. Dia tahu sekarang Azka tertohok dengan kata-kata Salsa barusan.


"Lo saja yang terlalu baperan." balas Azka setelah lama terdiam.


"Lo..."


"Stop!!" teriaknya menutup telinganya karena berada di tengah-tengah orang yang berdebat. Disini yang punya masalah dirinya kenapa malah kedua sahabatnya yang berdebat.


"Kenapa kalian malah bertengkar sih!" kesalnya.


Dengan wajah datarnya Azka bangkit dari duduknya. "Pokoknya gue nggak setuju kalau lo nikah Al! Ingat cita-cita lo, jangan ngegabah ngambil keputusan yang bisa membuat lo nyesal suatu hari nanti!" Nasihat Azka sebelum beranjak dari sana.


Salsa mengelus pundaknya. "Benar apa kata Azka, lo juga harus mikirin masa depan lo Al."


"Perasaan lo gimana sama pak Alvi?"


***


Hari libur, Alvi habisnya waktunya bersama kakek Farhan di taman rumah sakit. Menemani kakek tua itu berkeliling taman di bawah matahari pagi yang terasa hangat menusuk kulit putihnya.


"Mau lanjut atau balik?" tanyanya pada sang kakek yang sedang duduk di kursi roda menghadap danau.


Kakek Farhan mengeleng namun tatapannya tak lepas dari hamparan danau yang asri itu. Dia ikut memandangi danau, di mana terdapat pantulah cahaya matahari yang terasa indah di pandang mata.


Dia melirik arloji di pergelagan tangannya, pukul 09:15 pantas saja matahari mulai terasa panas.


"Kita balik." putusnya mendorong kursi roda itu menjauh dari danau itu. Kakek Farhan menatapnya kemudian berkata.


"Kenapa Alana tidak pernah lagi menjenguk Kakek Ndo?"


Pertanyaan kakek Farhan sontak membuatnya berhenti melangkah. Benar saja, selama Alana menolaknya malam itu, gadis itu tak pernah lagi menjenguk kakek Farhan, bahkan di sekolah gadis itu selalu menghindarinya.

__ADS_1


Dia memusatkan perhatiannya pada orang-orang yang berlalu lalang di koridor rumah sakit. "Sebentar lagi ujian akhir sekolah, mungkin dia lagi sibuk mempersiapkan diri." jawabnya.


Kakek Farhan menatapnya curiga "Kalian bertengkar?"


"Tidak."


Kakek Farhan tertawa "Tidak akan ada yang betah berada di dekatmu Ndo, kamu terlalu cuek dan kurang peka sebagai cowok, mungkin itu salah satu alasan Alana menjauhimu."


Kenapa kakek Farhan selalu tahu apa yang sedang dia hadapi? bahkan tentang Alana yang menjuhinya. Tapi benarkah Alana mejauhinya karena sikapnya yang terlalu cuek dan kurang peka?


Tak ingin memikirkan hal-hal yang tidak penting, dia memapah kakek Farhan naik ke atas brangkar kemudian menyelimuti tubuh rapuh itu. "Istirahatlah, Alvi mau beli sarapan dulu."


"Seharusnya kamu belajar pada Kakek tentang wanita." Kakek Farhan mengerling kearahnya.


"Duduklah." Kakek Farhan menarik tangannya agar duduk di samping brangkar. "Kakek akan menceritakan bagaimana dulu kakek menaklukkan hati nenek mu." ujar kakek Farhan penuh percaya diri.


Dia melepaskan gengaman tangan kakeknya kemudian bangkit dari duduknya. Omongan Kakek tua itu mulai melantur dan membuatnya pusing.


"Alvi akan membeli sarapan." putusnya dan berlalu pergi.


Di jalan dia mendapat kabar bahwa perusahaan sedang ada masalah. Membuatnya bergegas ke kantor namun sebelum itu dia menitipkan makanan pada Rahma di meja resepsionis, untuk di berikan pada kakeknya.


Seharusnya hari libur seperti ini dia istirahat di rumah, tapi sekarang dia malah di sibukkan dengan perusahaan, belum lagi nilai-nilai siswanya yang belum di rangkum semua, saking banyaknya pekerjaan.


Dia menghelas nafas sebelum memasuki lobi perusahaan, tanpa menyapa karyawan yang menyapanya. Sesampainya di ruangan kebesaranya. Ruangan yang tak selalu dia kunjungi hanya 2 atau 3 kali sebulan jika ada urusan mendesak seperti saat ini. Dia memanggil asisten pribadi kepercayaan kakeknya.


"Ada apa?"


"Sebuah perusahaan Fasion mengajukan kerja sama pada perusahaan kita pak."


"Lalu?" biasanya jika hanya urusan kerja sama seperti ini, Asistenya itu bisa mengatasi semuanya. Dia hanya tanda tangan tanpa harus kekantor yang menurutnya sangat membosankan.


"Saya takut mengambil keputusan pak kali ini, perusahaan yang mengajukan kerjasama adalah perusahaan besar dan tak pernah mengalami scandal sepuluh tahun terakhir. Bahkan anak cabangnya ada di mana-mana."


"Nama perusahaan?"


"Angel Fashion pak."


Angel Fashion, sepertinya dia tidak asing dengan nama perusahaan ini. Perusahaan yang selalu di incar para perusahaan periklanan karena brend dan kualitas yang tak main-main. Tapi kenapa malah mengajukan kerjasama dengan perusahaan periklanan miliknya?

__ADS_1


...TBC...


Angel Fashion? hayo siapa yang tahu perusahaan itu milik siapa? yang pernah baca salah satu cerita author sebelumnya pasti tahu.


__ADS_2