
Sesuai perkataan Alvi, hari ini Alana di perbolehkan pulang oleh pihak rumah sakit. Kini mereka telah sampai di rumah orang tua Alana. Alvi membukakan pintu mobil untuk gadisnya.
"Nggak mau di gendong," tolak Alana, ia ingin berlatih berjalan agar segera sembuh, tetapi Alvi dan ayahnya tidak mengizinkan.
"Latihannya sore ya, Aa bakal nemenin kamu, sekarang waktunya istirahat." Tanpa menunggu persetujuan Alana, Alvi membopong tubuh mungil itu masuk ke rumah mertuanya, menaiki satu persatu anak tangga dengan hati-hati.
"Aa kalau di liat dari bawah tampan banget ya." puji Alana terus memerhatikan wajah tampan suaminya.
Alvi hanya menanggapi dengan senyuman, menurunkan Alana pelahan-lahan di sofa setelah mereka berada di dalam kamar. Ia mengacak-acak rambut Alana.
"Aa mandi dulu."
"Iya....Tapi sebelum itu ambilin ponsel sama buku pelajaran aku," pinta Alana.
Dengan sigap Alvi melangkah mendekati boxs besar yang baru saja di antar mang Jaja ke dalam kamar. Boxs yang berisi buku pelajaran dan beberapa keperluan gadisnya dari rumah.
Setelah memastikan semuanya siap, barulah ia ke kamar mandi, membersihkan diri. Alvi harus berangkat sekarang, karena ada jam mengajar siang nanti.
Melihat Alvi baru keluar dari kamar mandi dengan rambut basah, Alana menepuk tempat duduk di sampingnya pertanda menyuruh lelaki itu duduk di sana.
"Sini aku yang keringin," ujarnya.
Tanpa menyahut Alvi langsung duduk di atas kerpet tepat di dekat lutut gadisnya, untuk mempermudah Alana memgeringkan rambutnya.
"Duduk di atas ih."
"Biar lebih mudah sayang." lembut Alvi, membuat wajah Alana memanas.
"Jangan panggil sayang, Ih. Aku salting Aa."
"Pasti wajah kamu merah." tebak Alvi hendak menoleh namun kepalanya di tahan oleh Alana.
"Jangan liat, atau aku ngambek."
Sembari menunggu Alana mengerikan rambutnya, Alvi memeriksa tugas-tugas Alana di laptop gadis itu. Tugas yang baru saja Salsa kirim, lumayan banyak, dan menguras otak.
"Jangan paksain otaknya, kalau nggak ngerti simpan aja, tunggu Aa pulang," peringatan Alvi. Belajar terlalu lama dan di paksakan bukannya membuat pintar malah menjadi stress, dan ia tidak mau itu terjadi pada gadisnya.
"Di kerjain?" girang Alana.
__ADS_1
"Di bantu jelasin, biar ngerti," sela Alvi. "Buat apa dapat nilai tinggi kalau hasil orang lain."
"Nggak usah nyelekit gitu jawabnya, orang cuma nanya juga." gerutu Alana melempar handuk kecil tersebut ke dalam keranjang kotor dekat kamar mandi. "Udah."
"Aa cuma ngingetin, bukan nyidir," bela Alvi.
"Iya...iya, tau. Sana siap-siap! Ntar Tuan tepat waktu telat lagi." Alana mendorong punggung Alvi agar berdiri, jam menunjukkan pukul 10:13, sementara Alvi masuk jam 11, bisa-bisa lelaki itu akan telat sampai ke sekolah, belum lagi drama macet di jalan.
Alana menghelas nafas panjang, ia kira setelah kecelakaan, sikap manja suaminya sudah hilang, ternyata tidak. Terbukti sekarang lelaki itu sengaja tidak memakai jas dan dasi, tentu saja kode untuk dirinya.
"Nunduk lagi, nggak sampai ini!" perintah Alana menarik kedua sisi ujung dasi agar tubuh kekar itu semakin menunduk, karena ia kesusahan membuat simpul.
Cup
Mengambil kesempatan dalam kesempitan, Alvi mengecup bibir pink yang mengerucut itu."Jangan cemberut kalau suaminya mau berangkat kerja, pamali."
Bibir yang semula mengerucut, kini terangkat menampilkan senyum yang sangat indah. "Hati-hati di jalan Aa."
"Gitu dong." Mengacak-acak rambut Alana. Sebelum pergi, Alvi terlebih dahulu memperbaiki posisi kaki Alana di atas meja, menjanggalnya dengan bantal sofa. "Udah nyaman?" tanyanya di jawab anggukan oleh gadisnya.
Tak lupa ia mengeser meja kaca agar mempermudah Alana meraih sesuatu tanpa harus menggerakkan kakinya.
"Aku nitip Batagor depan sekolah ya."
"Iya..., Aa pamit." Mengecup kening gadisnya sebelum pergi.
Sepeninggalan Alvi. Alana mulai menyalin catatan yang di kirimkan Salsa dan mengerjakan tugas-tugas dari guru mata pelajaran lain. Baru seminggu tidak masuk sekolah, tugas sudah menumpuk, bagaimana jika ia libur satu bulan? auto stress berkepanjangan.
"Gila nih guru. Ini mah namanya membunuh tanpa menyentuh," keluh Alana membentur-benturkan kepalanya pada sandaran kursi. Hampir 1- jam berkutat dengan buku, baru 2-mata pelajaran selesai. Belum lagi tugas Kimia, Fisika dan Matematika. Sengaja ia singkirkan dulu menunggu Alvi pulang. Rumus bukanlah keahliannya.
Senyum Alana mengembang, ketika melihat siapa yang menelfonnya, satu bala bantuan datang. Dengan sigap ia menjawab panggilan dari guru PPKN nya.
"Waalaikumsalam pak," jawab Alana.
"...."
"Udah mendingan Pak, nggak sesakit hari pertama."
"...."
__ADS_1
"Lagi ngerjain tugas pak. Tapi pusing disuruh ngarang cerita, belum dapat ide mau ngarang apa." curhat Alana.
"...."
"Lah kok Saya nggak kepikiran ya, makasih loh pak ide nya." girang Alanan, akhirnya ia mendapat ide dari guru PPKN nya.
"...."
"Beneran di bantuin nih? nggak nganggu kan pak?" Alana memastikan, takut menganggu aktivitas Pak Dirga jika menerima batuan lelaki manis itu, tapi sekarang ia membutuhkannya.
Alana mengambil kertas HVS dan juga pulpen bersiap menulis pengabungan ide antara dirinya dan pak Dirga.
***
Alvi memarkirkan mobil sport birunya di pekarangan luas rumah mertuanya, ia berjalan memasuki rumah mewah tersebut dengan menenteng kresek pesanan sang gadis. Orang pertama yang ia temui adalah bunda Anin di ruang tamu.
Menghargai keberadaan bunda Anin. Alvi menghampiri wanita paruh baya itu kemudian menyalami dan mencium pungung tangannya.
"Alana udah makan bunda?" tanya Alvi.
"Belum nak, dia juga belum keluar kamar sejak kamu pergi."
"Gitu ya bunda. Kalau gitu Alvi ke atas dulu ya." pamitnya sopan pada mertuanya.
"Alana jangan terlalu di manja! dia kalau di manja makin ngelunjak. Sekali-kali nggak nurutin permintaanya nggak papa, di tegur sekalian." nasehat bunda Anin.
Selama pulang ke tanah air, ia memperhatikan sikap Alvi begitu memanjakan Alana, melebihi suaminya. Dan ia tahu betul bagaimana sikap putrinya, semakin di turuti semakin ngelunjak dan egois.
"Nggak papa bunda, namanya juga anak remaja, butuh kasih sayang dan perhatian lebih. Kalau Alana sudah dewasa juga bakal berubah," sahut Alvi.
Bunda Anin tersenyum mendengar jawaban menantunya, beruntung sekali putrinya, mendapatkan suami yang begitu pengertian dan dewasa.
Alvi membuka pintu kamar dan mendapati gadisnya tidur di sofa dengan posisi sangat tidak nyaman. Kepala bersandar pada sandaran kursi, wajah di tutupi buku paket, pulpen di tangan kanan, dan ponsel di sebelah kiri.
Ia menggelengkan kepalanya, sekuat itukah tekad Alana ingin menjadi pengacara? mati-matian belajar hanya untuk mendapatkan nilai tinggi untuk masuk ke universitas impiannya?
Dengan hati-hati ia memindahkan buku paket, dan pulpen lalu meletakkannya di atas meja. Pergerakan tangannya berhenti ketika melihat riwayat panggilan di ponsel gadisnya.
"Dirga? 37 menit? apa yang mereka bicarakan?" gumam Alvi.
__ADS_1
...TBC...