
Setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih tiga jam, akhirnya Alvi sampai di Bandung. Karena lokasi proyek penelitian Ilmiah yang akan di kunjungi Alvi dekat dengan hotel ayah Kevin, ia memutuskan menginap di sana selama tiga hari.
Tak lupa Alvi mengabari sang istri bahwa ia sudah sampai, agar Alana tidak khawatir padanya. Alvi istirahat sejenak sebelum ke lokasi bersama Tania yang juga ikut menginap di hotel tepat di samping kamarnya.
Penelitian yang di lakukan Alvi dan Tania berjalan lancar hingga sore hari, dan selama itu pula Alvi menonaktifkan ponselnya. Usai penelitian, Alvi mengajak Tania bicara berdua, ia ingin mengatakan sesuatu yang sejak beberapa hari lalu mengganggu pikirannya.
Sembari menunggu minuman yang mereka pesan, Alvi memulai pembicaraan, tak ingin berlama-lama dengan Tania.
"Jangan campuri urusan gue Tania, apa lagi berusaha mempengaruhi Alana!" ujar Alvi penuh ketegasan.
"Maksud lo apa Vi?"
"Alana tiba-tiba bertanya tentang sesuatu yang nggak seharusnya dia tanyakan sama gue. Impian, pandangan hidup tentang dunia? Jangan pura-pura bodoh, gue tau lo pintar."
Hanya satu orang yang bisa berpikiran sama dengannya, dan itu hanya Tania. Jadi saat Alana menanyakan pertanyaan konyol itu, Alvi langsung menebak istrinya habis bertemu dengan siapa.
__ADS_1
"Tapi bukankah itu semua benar?"
"Berapa kali gue harus bilang, itu dulu sebelum gue bertemu dengan istri gue."
Tania tertawa mendengar perkataan Alvi. Ia merasa pria dingin dihadapannya bukanlah Alvi yang ia kenal dulu.
"Lo nggak perlu bersandiwara seperti ini Vi, gue udah tau semuanya. Lo dan Alana menikah hanya karena paksaan kakek Farhan. Gue tau lo nggak bakal cinta sama gadis kecil dan bodoh seperti Alana."
Krak
Pulpen di tangan Alvi patah akibat genggaman laki-laki itu terlalu kuat. Darahnya mendidih, mendengar ucapan Tania yang mengatakan Alana gadis bodoh. Jika saja ia tidak memikirkan nama baik Ayah mertuanya di sini, mungkin Alvi sudah memberi pelajaran pada Tania.
***
Hari pertama tanpa Alvi, membuat hidup Alana begitu hampa, rasanya apa-apa yang ia lakukan tidak ada yang menyenangkan, sedari tadi ia hanya berdiam diri di kamar, tidak tahu harus melakukan apa. Mau menelfon Alvi, tapi ponsel laki-laki itu tidak aktif dari siang.
__ADS_1
Jantung Alana berdebar tak karuan saat mendapat notifikasi dari Dokter Dion bahwa hasil USG nya sudah keluar. Mood yang tadinya buruk seketika membaik, dengan penuh semangat Alana bersiap-siap kerumah sakit menemui dokter Dion.
Mata Alana kerkaca-kaca melihat hasil USG itu, apa lagi melihat hasil pemeriksaan lainnya. Hidup sehat yang selama ini Alvi terapkan tak sia-sia. Setidaknya harapan untuk hamil semakin banyak.
Sesampainya di rumah, ia langsung memeluk bunda Anin, membagi kebahagian yang ia rasakan.
"Lebih semangat lagi ya sayang!" Bunda Anin mengelus puncak kepala Alana.
"Pasti bunda," jawab Alana penuh semangat. "Aku mau ngabarin Aa dulu," lanjut Alana berlari menaiki tangga, lalu masuk ke kamarnya.
Ia sudah tak sabar membagikan berita bahagia ini pada sang suami tercinta, agar Alvi lebih semangat. Ini baru kemungkinan untuk hamil sangat besar, apa jadinya jika Alana benar-benar hamil. Mungkin gadis itu akan mengumumkannya pada dunia.
Berkali-kali Alana menghubungi Alvi, tapi ponsel lelaki itu belum juga aktif. Jarum jam sudah menunjukkan angka lima, artinya Alvi sudah selesai 3 jam yang lalu.
Karena tak sabaran dan ia juga sudah tidak ada keperluan, Alana memutuskan akan mengunjungi Alvi sore ini. Untung saja saat meminta Izin, bunda Anin mengijinkannya membawa mobil sendiri, dengan syarat harus ada yang menemani, alhasil Alana mengajak Salsa ke bandung.
__ADS_1
***
Jangan lupa Vote, mumpung hari senin kakš„°