
Di mana ini?
Kuedarkan pandangan ke segala penjuru arah, tampak asing. Aku tak mengenal tempat ini, lebih tepatnya sebuah kamar tidur. Ini kamar siapa? Tampak besar dan mewah, jauh lebih mewah dari kamarku. Tapi, kenapa aku berada di sini?
Ah, kepalaku tiba-tiba pusing, sakit! Sekelebat memori terlintas di mataku. Seperti kepingan-kepingan puzzle, ingatan demi ingatan terkumpul di otak.
Harusnya aku sudah mati!
Ya, aku ingat. Mereka melemparku dari atas tebing, aku jatuh lalu menabrak pohon dan batu. Lalu gelap, aku tak tahu lagi apa yang terjadi.
Apakah ada yang menyelamatkanku?
Kuraba-raba kepala, tangan, dan kaki. Rasanya badanku baik-baik saja, tak ada luka gores maupun sakit karena patah tulang. Hanya ada bekas goresan pergelangan tangan kanan dengan darah menempel yang rasanya sedikit nyeri.
Apakah kejadian kemarin mimpi? Masa terjatuh dari tebing yang tingginya bermeter-meter hanya meninggalkan luka sekecil ini.
Aku beranjak bangun dari tempat tidur, ingin mencari tahu di mana ini. Kuintip keluar jendela, terlihat kebun indah dan halaman yang luas di bawah. Aku yakin rumah ini cukup besar. Mungkin kamar ini berada di lantai dua. Aku harus turun ke bawah supaya bisa menemui seseorang untuk ditanyai.
Apakah aku diselamatkan pangeran berkuda putih?
Atau mungkin seorang laki-laki tampan kaya raya menemukanku di bawah tebing dan membawa pulang, apa dia jatuh cinta padaku?
Tapi kalau dia sudah punya istri bagaimana? Apa aku akan jadi wanita simpanannya?
Ah jangan-jangan yang menyelamatkanku om-om gendut bangkotan!
"Tok-tok-tok ..."
Ketukan pintu di luar membuyarkan imajinasi liarku.
"Non ... makan malam sudah siap. Mau turun ke bawah atau saya bawakan ke kamar saja?" tanya suara di balik pintu.
"Tolong di bawa ke sini saja." jawabku cepat.
Aku belum mengenal tempat ini. Tidak boleh gegabah, harus hati-hati. Siapa tahu orang yang mengantar makanan nanti bisa kutanyai sesuatu.
Kulangkahkan kaki menuju meja rias di dekat ranjang, aku harus membenahi diri dulu. Kesan pertama harus cantik dan meyakinkan. Kulihat wajahku di cermin, lalu mencari-cari di mana letak sisir.
Tunggu!!! Itu bukan wajahku!
Kuraba-raba pipi, mulut, dan hidung. Itu bukan aku!
Ah, kepalaku sakit, sakit sekali. Tiba-tiba ingatan demi ingatan datang. Seperti puzzle yang ditumpuk puzzle. Keringat dingin keluar dari tubuhku. Apa ini? Kenapa bisa seperti ini?
Perlahan-lahan sakit di kepalaku berkurang. Aku punya ingatan dan tubuh orang lain! Dia bernama Tania.
Aku ingat kita pernah bertemu di puncak saat berkuda. Tapi kenapa aku bisa berada di tubuhnya? Lalu di mana tubuhku?
"Tok-tok-tok ..." kembali pintu diketuk. Tak menunggu lama seseorang muncul dari balik pintu.
"Permisi Non ... Ini makan malamnya." Bi Siti menata beberapa piring di meja.
"Apa Non Tania baik-baik saja? Seharian ini tidak keluar kamar, tadi siang juga gak makan, ya Non?"
"Gak papa Bi ... Agak kurang enak badan aja. Bi Siti jangan kuatir ya."
Rupanya Bi Siti adalah pekerja di rumah ini yang paling setia pada Tania.
"Kalau ada apa-apa, panggil saya ya Non ... Saya takut Non kenapa-napa."
"Iya Bi ... "
"Baik Non ... Saya permisi dulu." pamitnya lalu pergi.
Perutku sudah lapar sekali. Segera kulahap segala hidangan yang ada di meja. Biasanya aku tak pernah makan sebanyak ini untuk menjaga berat badan ideal. Sesekali tak apa makan berat, lagi pula tubuh ini seperti tak bertenaga. Ada banyak hal yang harus kulakukan nanti, jadi hal pertama adalah membuat tubuh ini prima.
Malam ini sebaiknya aku berdiam diri di kamar seperti yang biasa Tania lakukan. Tubuh ini masih cukup lemah. Ah iya, luka di pergelangan tangan kanan ternyata karena aksi percobaan bunuh diri. Gadis yang menanggung banyak beban dan derita.
Tubuh ini ingin beristirahat, tapi aku ingin mencari info tentang keberadaanku. Sambil berbaring kupaksakan diri berselancar di internet menggunakan gawai milik Tania. Benar saja, media online sudah banyak memuat berita hilangnya seorang ahli waris Wijaya Grup, Bella Aurora Wijaya.
Apakah yang terjadi padaku bisa dikatakan sebagai kesempatan kedua untuk hidup lagi? Kehidupanku, Bella, baik-baik saja. Seorang gadis pintar berumur dua puluh delapan tahun, lulusan sebuah universitas ternama. Bekerja adalah kesenanganku. Hanya saja adik dari almarhum papaku begitu ingin merebut semua harta warisannya. Aku jadi sering membalas perbuatan curangnya dengan curang pula. Tapi naas menimpaku, beberapa hari yang lalu mereka melemparku dari jurang yang tinggi.
Tentu saja perbuatannya harus kubalas, tapi bukan sekarang. Saat ini kuputuskan untuk menikmati hidupku kembali, melakukan apa yang seharusnya Tania lakukan.
***
Rumah Tania begitu besar. Papanya adalah pemilik Vision Grup yang anak perusahaannya menyebar di seluruh negeri. Di usianya yang sebaya denganku, dia belum pernah bekerja. Padahal bisa saja dia mengambil alih salah satu perusahaan milik papanya. Kegiatannya sehari-hari lebih banyak dihabiskan di rumah. Hobinya memasak dan berkebun. Bisa dibilang itu pekerjaan wanita tulen yang belum pernah kulakukan. Kami adalah dua kepribadian yang berbeda, sangat bertolak belakang.
"Hai, Tan. Ngapain bengong sendiri di sini?"
Sapaan seseorang membuyarkan lamunanku yang tengah duduk sendiri di kebun samping rumah. Ternyata David, pria yang dulu begitu dicintai Tania. Tapi sekarang dia tunangan Jasmine, adik tiriku. Okelah kusebut adik tiriku, toh sekarang ini akulah Tania.
"Beb, uda lama nunggunya?" Jasmine bergelayut manja memeluk David.
Cih, apa dia pikir bisa membuatku cemburu? Lihat saja nanti, David sendiri yang akan mengemis minta kembali padaku. Tunggu tanggal mainnya!
"Baru aja, kok, Beb ... Yuk, keburu telat."
Mereka pergi tanpa menghiraukanku. Yah, jadi beginilah diriku selama ini, selalu lemah dan gampang ditindas. Tapi hal itu akan berakhir hari ini, Tania sekarang adalah orang yang berbeda.
"Bi Siti, ini jadwal makanku selama satu minggu ya. Aku lagi program menaikkan berat badan. Gak keberatan kan, Bi?" ucapku sambil menyodorkan selembar kertas.
"Kok, malang bengong, Bi?"
"Eh, iya, Non! Ahsiaaaaap." jawabnya sumringah.
"Makasi ya, Bi." Kukerlingkan mataku dan meninggalkannya di dapur. Tampak wajahnya masih sedikit kebingungan.
Meskipun cantik dan terawat, tubuh Tania kurus, lemah, dan tak bertenaga. Aku perlu melakukan olah raga rutin dan makan yang teratur. Seminggu ini fokus pada tubuh, tidak mungkin melakukan banyak hal bila tubuhku masih seperti ini.
****
"Tumben beberapa hari ini kulihat kamu rajin ngegym."
__ADS_1
Suara si mama tiri mengagetkanku yang tengah fokus berlari di treadmill. Tak kuhiraukan kedatangannya hingga dia sudah menghilang lagi tanpa sepengetahuanku. Ah, seperti jailangkung saja, datang tak diundang-pergi tak diantar.
"Permisi Non, ada titipan dari bapak tadi sebelum berangkat ke kantor." kata Bi Siti sambil memberikan sesuatu padaku.
"Makasi, ya, Bi."
Kubaca selembar kertas yang ternyata sebuah undangan jamuan makan malam. Biasanya Tania tidak akan mau menghadiri acara seperti ini. Jamuan makan hanyalah kedok, lebih cocok disebut pesta pamer kalangan atas. Tak disangka hibernasiku akan berakhir secepat ini, tentu saja aku akan hadir.
Acaranya nanti malam, aku harus segera mencari gaun yang cocok. Sepertinya aku harus pergi ke butik, selera baju Tania benar-benar jadul.
Segera aku mandi dan berkemas. Butik langgananku terlampau jauh dari sini, jadi aku putuskan untuk mengunjungi butik yang terdekat. Kupencet remote kunci mobil yang kuambil asal di laci kamar, tadi ada beberapa kunci.
"Tut-tut-tut." Lampu salah satu mobil yang berjejer rapi di garasi berkedip.
Ini mobil yang cukup tua, tapi tak apalah. Kamarnya cukup jauh untuk menukar dengan kunci mobil lain.
Satpam yang membukakan pintu gerbang terheran-heran melihatku mengendarai mobil diesel tua ini. Meskipun tua tapi terawat, jadi tarikannya masih mantap.
"Jangan sampai kau mogok di jalan, ya!" gumamku sambil mengelus kemudi. Kuputar lagu Avengged sevenfold keras-keras. Kunikmati padatnya jalan raya dengan bahagia layaknya tahanan yang baru dibebaskan.
Tak sampai lima belas menit aku telah sampai di butik. Suasana di dalam butik cukup ramai. Lumayan juga koleksinya, mulai dari baju harian hingga gaun pesta dengan kualitas bagus ada di sini.
Gaun warna pink yang terpajang di manekin depan menarik perhatianku. Kuraba sedikit untuk mengenal jenis bahannya.
"Selamat siang, Kakak ... Gaun ini model terbaru dan limited edition." seorang karyawati butik menginfokan dari belakang tempatku berdiri.
"Iya, ini bagus." balasku dengan senyuman.
"Di sebelah sana ada diskon, Kak. Mau mencoba yang di sana dulu?" terangnya sambil menunjuk ke arah sudut kiri butik.
Padahal aku tertarik untuk membeli gaun ini, kenapa dia malah menawariku baju diskonan? Apa dandananku kurang meyakinkan? Kalau mau aku bisa membeli butik ini beserta isinya, tentu saja pakai uang papa Tania hahaha.
"Aku mau yang pink itu, ya!" kata seorang gadis cantik yang berdiri tak jauh dariku tiba-tiba.
"Baik, Non Clara." jawab karyawati butik tanpa menghiraukanku.
"Kamu lihat-lihat saja baju yang sedang diskon di sana." kata gadis yang bernama Clara itu kemudian padaku.
"Ambil saja. Aku tak mau ribut hanya untuk sebuah gaun." balasku sambil melenggang pergi menuju mini bar di ujung dalam butik, fasilitas yang disediakan untuk para pengunjung agar bisa bersantai sambil belanja.
Aku memesan segelas minuman dingin. Tak ingin hari pertamaku setelah hibernasi panjang jadi kelabu gara-gara gadis tadi. Kutenggak minuman sampai habis.
"Haus, ya?" tanya seorang laki-laki yang memang sejak tadi duduk di seberangku.
"Bukan urusan kamu." jawabku ketus.
"Eh, cantik-cantik ternyata galak." candanya sambil terkekeh.
"Boleh duduk di sini?" tanpa menunggu jawabanku, dia menggeser tempat duduknya lebih dekat denganku.
"Sendirian, ya?" tanyanya lagi.
"Sama cowokku, lah. Ngapain kamu duduk deket-deket gini." protesku.
What?!!!! Apaan sih!
"Boleh kenalan? Aku Yoga." sambil mengulurkan tangan kanannya.
Cakep si.. tapi pede amat nih cowok.
"Hai, mau sampai kapan ngeliatin wajah gantengku?"
Aku tergagap, kujabat tangannya dengan cepat, "Tania."
"Ehm Tania, baru datang kok langsung minum? Gak liat-liat baju dulu?"
"Gak papa, belum ada yang cocok." jawabku asal.
"Suka gaun pink tadi ya?" selidiknya.
"Udah dibeli orang. Nanti mau liat yang lain, siapa tau ada yang cocok."
"Sini ikut aku." katanya sambil berdiri.
"Kemana?" tanyaku heran.
"Udah, ayo!"
Tanpa menunggu persetujuan, Yoga menarik tanganku menuju ruang sebelah.
"Lihat selain karyawan dilarang masuk." bisikku sambil menunjuk tulisan di depan pintu.
"Gak papa, masuk aja."
"Oh, kamu karyawan di sini?"
"Hahaha..." dia hanya tertawa. "Kamu bisa bebas pilih. Ini gaun yang baru masuk hari ini." ungkapnya sambil menunjuk deretan gaun yang tergantung rapi di tiang.
"Wah, ini cantik-cantik."
Kupilih sebuah gaun berwarna peach.
"Boleh dicoba?"
"Tentu saja." jawab Yoga.
"Kamu tunggu di sini ya, jangan pergi. Nanti dikiranya aku masuk diam-diam ke ruangan ini."
"Hahaha.. iya kutunggu."
Aq mencoba gaun di ruang pas. Okelah lumayan. Tak perlu kutunjukkan pada Yoga untuk menanyakan cocok tidaknya. Jadi langsung kulepas dan memakai bajuku kembali.
"Udah, yuk!" ucapku setelah keluar dari ruang pas.
__ADS_1
"Loh, kok gak diliatin ke aku?"
"Emang kamu siapa?"
Yoga hanya tertawa mendengarku bertanya seperti itu.
"Aku mau bayar dulu, ya."
"Aku aja yang bayar, buat hadiah perkenalan kita."
"Eh, gak bisa gitu! Gaun ini ha-" tak kulanjutkan kalimatku, takut menyinggungnya. Gaun ini mahal, gajinya satu bulan sebagai karyawan butik belum tentu cukup untuk membayarnya.
Tiba-tiba Yoga mengambil gaun dari tanganku, "Kamu duduk dulu di sini, tunggu ya!" perintahnya sambil mendorongku pelan duduk di sofa. Lalu Yoga pergi ke ruangan sebelah.
Aduh itu cowok ,kok, baik banget. Baru juga kenal. Cakep juga... tapi kasian kalau harus bayar gaun itu, dia kan cuma pegawai butik. Eh, memangnya siapa yang bilang dia pegawai di sini? Itu kan cuma asumsiku sendiri sejak tadi. Jangan-jangan dia yang punya butik ini.
"Kamu suka melamun ya?" goda Yoga yang baru kembali.
"Ini hadiah buat kamu." mengulurkan sebuah paper bag berisi gaun.
"Beneran kamu yang bayarin? Trus aku jadi ngutang, nih?" tanyaku serius. Aku tak terbiasa menerima pemberian orang lain, apalagi dari orang yang baru kenal.
"Biar gak ngutang, boleh aku pinjam ponsel kamu?"
"Boleh." jawabku sambil mengulurkan gawai.
Yoga menekan beberapa angka di gawaiku lalu gawainya berbunyi.
"Nomerku udah kusimpan di ponsel kamu. Sekarang kita impas ya." ungkapnya sambil mengembalikan gawaiku.
Aku pasrah saja menerima gawaiku. Percuma berdebat dengan kenalan baruku ini.
"However makasi ya. Aku harus pulang dulu."
"Mau aku antar?" tanya Yoga.
"Terus mobilku ditarik di belakang?" candaku.
"Byeee..." kulambaikan tangan tanda perpisahan tanpa menunggu persetujuan darinya, lalu pergi menuju parkiran.
Aku masih senyum-senyum sendiri di dalam mobil. Namun, senyum itu segera memudar ketika mataku menangkap sosok Clara yang sedang bergelayut manja di lengan Yoga.
Huh, dasar playboy!
Hari ini berlalu begitu cepat. Tepat pukul tujuh malam aku sudah berada di hotel XX, tempat jamuan makan malam. Setelah mencicipi beberapa kudapan, aku memilih duduk sendiri di balkon. Jasmine dan David sengaja memamerkan kemesraan mereka di depanku, jadi aku pilih menghindar. Mereka pikir aku cemburu? Padahal sudah tidak ada rasa cinta sedikit pun untuk David.
Yah, alasan Tania melakukan percobaan bunuh diri karena telah melihat perselingkuhan mereka. Kemudian Jasmine memprovokasinya sehingga Tania jatuh ke dalam perangkap. Apabila Tania mati, hak waris seratus persen akan jadi milik Jasmine, si adik tiri. Lalu David? Tentu saja sedikit banyak dia ikut andil.
"Wow, kamu cantik sekali." sapa seseorang membuatku mencari sumber suara.
"Yoga." Aku tak percaya bertemu dengan playboy ini lagi.
"Hai, ketemu lagi. Apakah kita berjodoh?" godanya.
"Pria sepertimu sangat mudah mendapatkan wanita cantik. Aku bukan tipemu."
Yoga mengerutkan alisnya, "Apa maksudmu?"
"Dasar playboy."
"Aku playboy?" tanyanya balik, lalu tertawa.
"Yoga, kucari-cari ternyata kamu di sini." Clara datang lalu menarik lengan Yoga. "Tante ngajak pulang, katanya ada perlu mendesak." sambungnya lagi dengan manja.
Yoga menatapku seolah mendapat jawaban dari pertanyaan yang baru ia lontarkan sendiri. Playboy!
"Aku pergi dulu, ya." pamitnya sambil melemparkan senyum nakal.
Aku pun bangkit dari tempat duduk, angin malam mulai terasa dingin menusuk kulit.
"Patah hati, ya?!" Yoga tiba-tiba muncul lagi mengagetkanku.
"Hah, kenapa patah hati?" tanyaku balik.
"Kita gak ada hubungan seperti yang kamu bayangkan. Dia cuma teman."
"Benarkah begitu? Lalu apa peduliku? Kenapa kamu jelaskan padaku?" dengan nada sedikit emosi.
"Lalu kenapa kamu marah?"
"Aku? Marah? Enggaklah!"
"Kamu cemburu."
"Eng-"
Belum selesai mengucapkan satu kata, bibirnya telah membungkam bibirku. Rasanya lembut dan manis. Oh tidak, ciuman pertamaku!
Kudorong tubuhnya supaya menjauh, tapi dia balik mendorongku hingga menyentuh pagar balkon.
"Kamu mau ngapain?!" protesku.
"Tania... sungguh aku jatuh cinta sejak pertama melihatmu."
Jantungku berdebar tak karuan. Aku belum pernah seperti ini seumur hidupku. Mengenaskan, di usia yang hampir masuk kepala tiga, aku belum pernah mengecap manisnya cinta. Inikah cinta? Kenapa begitu cepat datangnya? Aku baru mengenalnya tadi pagi, apakah aku sedang dipermainkan?
"Jangan begini, Yoga! Pergi!" protesku.
Tanganku yang menggenggam besi pagar balkon mulai berkeringat dingin. Ingin sekali kutampar wajahnya, tapi aku takut terjatuh bila melepaskan pegangan.
"Menikahlah denganku." ucap Yoga serius.
What?!!!! Ada apa dengan laki-laki ini!
__ADS_1