
Radit mengantar pulang Laura kembali ke rumahnya. Sesampainya di sana rumah masih gelap dan lampu depan pun belum menyala. Belum ada yang pulang, Lisa maupun Dewa, padahal jam sudah menunjukkan pukul 11 malam.
"Pada kemana ya?" Gumam Laura sambil menyalakan senter di ponselnya. Membuka rumahnya yang masih gelap gulita, Radit mengikutinya.
"Belum pulang?" Tanya Radit.
"Semuanya. Sama sekali tidak ada kabar. Sebentar aku coba menghubungi Dewa dan Lisa." Ucap Laura sambil duduk di sofa.
****
"Lisa, bisa tunggu sebentar, aku ingin bicara denganmu!" Ucap Bu Sisil pelan, namun tegas pada Lisa. Lisa menganguk dan menunggu.
"Mas, pulang saja dulu. Gue bisa balik sendiri ntar." Ucapnya pada Mas Andre.
"Uhh.. iya ya nek, ada Dirga juga yang anter." Balas Mas Andre dengan kemayu, Lisa hanya tersenyum kecil.
Mas Andre dan beberapa model lain selesai pemotretan segera meninggalkan Lisa.
Lisa masih menunggu Bu Sisil di ruangan meeting, yang telah disulap menjadi tempat pemotretan. Sekitar sepuluh menit Lisa menunggu, akhirnya Bu Sisil masuk ke ruangan itu.
Bu Sisil mengambil kursi dan mengubah duduknya berhadapan dengan Lisa. Ia menatap tajam seolah menilai dan menyelidiki Lisa mulai dari ujung rambut hingga ujung kaki.
"Lisa, kamu anak yang baik dan cantik. Tapi, kamu tau keluarga kami tak bisa menerimamu. Kalian saling mencintai, tapi sebelum semuanya terlalu jauh dan terlambat, tolong jauhi Dirga. Kamu masih bisa mencari pria lain, saya rasa tidak sulit bagimu." Bu Sisil berkata dengan tenang sambil melipat kedua tangannya di dada.
Lisa menghela napas panjang, berusaha mencerna setiap kata yang terucap dari mulut Bu Sisil.
"Apa salah saya?" Tanya Lisa.
"Keluarga kami berdarah biru, kami menginginkan calon untuk Dirga adalah seseorang yang baik." Jawab Bu Sisil dengan tenang.
"Apa yang salah dengan keluarga saya, Bu?"
"Keluargamu tidak salah, hanya saja kamu belum sesuai dengan kriteria untuk masuk ke keluarga kami."
"Apa Laura sesuai dengan kriteria itu?" Lisa memberanikan diri untuk bertanya.
"Ya. Dia adalah pilihan dari Eyang nya Dirga. Kamu tau, sejak Ayahnya meninggal, ibunya berusaha untuk menghidupi anak anaknya dengan baik meskipun dari kalangan biasa. Hingga saat ini Ibunya masih sendiri, padahal tidak sedikit laki laki yang tertarik dan mendekati Ibu Laura."
"Apa karena Mama saya istri kedua? Lalu saya sebagai anak yang menanggung semua kesalahan?" Tanya Lisa sambil menatap Bu Sisil dengan tajam.
"Saya hanya minta kamu menjauhi Dirga. Untuk berteman tidak apa apa, tapi untuk lebih dari itu, sebaiknya tidak! Saya sudah memperingatkan ini padamu. Rasanya tak sulit bagimu untuk mendapatkan pasangan kembali, bukan?" Ucap Bu Sisil membalas tatapan Lisa, seakan menghujam jantungnya.
Bu Sisil berdiri, lalu tanpa sepatah kata lagi meninggalkan Lisa yang masih duduk mematung di ruangan itu.
Air matanya mengalir perlahan tak lama setelah Bu Sisil menutup ruangan itu.
__ADS_1
Dewa yang berada dalam ruangan IT yang berada di dalam ruang meeting dengan pintu terbuka, ia mendengar semua percakapan antara Bu Sisil dan Lisa.
Ia mendekati Lisa dan menyodorkan sekotak tisu di depannya.
"Terima kasih." Katanya sambil mengusap air matanya.
"Bagaimana kamu di sini?" Tanya Lisa heran ketika mengetahui itu Dewa.
"Aku masih bekerja di sana." Jawabnya sambil menunjuk ruangan IT.
"Kamu mendengar semua?" Tanya Lisa, dijawab anggukan oleh Dewa.
"Mau pulang denganku?" Dewa menawarkan diri.
"Ya."
"Bentar aku bereskan peralatanku dulu." Dewa beranjak kembali ke ruangan IT, tak lama ia keluar sambil membawa tas ranselnya.
Dewa dan Lisa keluar dari ruangan meeting menuju parkiran motor.
Dewa mengambil helm cadangan dalam bagasi, Lisa mengenakan helm itu.
Dewa memberikan jaketnya pada Lisa, "Pakai ini, biar gak sakit." Ucapnya dengan logat Jawa medoknya.
Dewa menstater motor, yang sebetulnya pinjaman dari Lisa, menjauh dari gedung perkantoran itu.
"Aaaaaaaa.....!!" Teriak Lisa meluapkan emosinya saat Dewa melajukan kendaraannya dengan kencang.
Dewa menghentikan motornya di sebuah warung angkringan.
"Ayo makan dulu, aku lapar! Kamu pasti juga lapar, kan?" Ajak Dewa. Lisa mengikuti Dewa yang sibuk memilih bungkusan kecil nasi kucing dengan aneka toping dan lauk pauk pendampingnya. Lisa pun mengikuti yang dilakukan Dewa.
Sambil menunggu pesanan mereka dipanaskan, Dewa mencari tempat duduk.
"Maaf aku tak sengaja mendengar percakapan antara Kamu dan Bu Sisil." Ucap Dewa.
"Kamu ga salah. Akulah yang bodoh, sudah tau Dirga itu telah dijodohkan dengan Laura, tapi, masih tetap memaksa menjalin hubungan dengannya." Ucap Lisa sambil menutup wajahnya dengan kedua tangan.
Tak lama pesanan mereka datang. Dewa dan Lisa menyantap makanan mereka dengan lahap. Beberapa pengunjung angkringan ada yang berbisik bisik, sambil menunjuk Lisa.
Lalu tak lama ada yang minta foto bareng dengan Lisa, Dewa membantu memfotokan mereka.
Setelah selesai makan mereka melanjutkan perjalanan untuk pulang.
"Dewa, aku ingin mampir ke cafe setelah lampu merah itu." Pinta Lisa.
__ADS_1
Dewa menuruti Lisa, ia memarkir motor, lalu mereka masuk. Mereka memilih di pojok. Lisa dan Dewa memesan espreso.
"Maaf aku merepotkanmu hari ini." Ucap Lisa sambil menyesap kopinya.
"Tidak apa apa, lagian itu motormu. Dalam keadaan emosi tidak stabil seperti saat ini, lebih baik tidak mengendarai apapun." Dewa menasihati.
Lisa tertawa mendengar ucapan Dewa.
"Emosi tidak stabil?" Ulangnya sambil tertawa geli.
Dewa menatap Lisa, "kan kalo tertawa gini, kelihatan cantiknya." Canda Dewa.
"Makasih, sudah bisa membuatku tertawa."
"Kamu benci kakakku?" Tanya Dewa.
"Laura?"
"Ya."
Lisa hanya tertawa kecil.
"Aku tidak membencinya, aku hanya kesal saja pada diriku sendiri. Mengapa masih mau mendekati orang yang sudah jelas jelas di jodohkan, apalagi sudah tau orang itu adalah temannya." Keluh Lisa pada dirinya sendiri.
"Yang sabar ya." Dewa menepuk punggung tangan Lisa, mencoba menghiburnya.
Lisa tersenyum getir. Ia menatap wajah Dewa yang tampak terlihat lelah.
Lisa menatap jam tangannya, telah pukul 11 malam, dan dia belum mengabari Laura.
"Sebaiknya kita pulang, sudah malam. Kasian, Kakakmu pasti cemas menunggu kita." Ucap Lisa.
"Astaga, lihat ada puluhan panggilan dan pesan masuk dari Laura!" Lanjutnya, saat memeriksa ponselnya.
"Punyaku juga." Tunjuk Dewa.
Mereka kemudian bergegas pulang. Dewa melajukan motornya menuju rumah. Lisa merasa lelah, ia menyandarkan kepalanya di punggung Dewa, lalu melingkarkan tangannya pada perut Dewa. Ia merasa nyaman sekali saat itu.
Dewa hanya tersenyum saat merasakan pelukan Lisa dari belakang. Sejak perjumpaan pertamanya di rumah waktu itu, dia mulai jatuh hati pada Lisa, namun ditepisnya, karena mengetahui Lisa ternyata kekasih Dirga.
Kini gadis cantik itu sedang terluka, ingin rasanya Dewa tak menyia-nyiakan kesempatan kali ini.
Sesampainya di rumah, terlihat mobil Radit di garasi.
Saat mendengar suara motor, Laura langsung berlari keluar menyambut adiknya, dan yang lebih mengejutkan, dia bersama Lisa.
__ADS_1