
Laura menatap hujan dari balik jendela rumah Radit. Ia duduk di teras depan rumah, sambil menatap buah apel dan jeruk yang masih hijau. Karena sebelumnya telah di rontok oleh Laura, Radit, Rendy, dan Alina waktu itu.
Ia teringat, dulu pernah bertengkar dengan Ben gara gara cemburu saat beradu akting dengan salah satu pemain film terkenal dan masih muda. Saat itu Ben yang tanpa alasan mengomeli Gwen supaya jangan terlalu dekat dengan sang aktor.
Gwen yang tersinggung, langsung minta Ben untuk menghentikan mobilnya, lalu turun. Waktu itu sedang turun hujan deras.
Ben mengejar Gwen, dan meminta maaf karena cemburu. Ia hanya tak ingin kehilangannya. Lalu Gwen memaafkan dan masuk mobil dengan keadaan basah. Saat mengingat kenangan sebagai Gwen, membuat Laura tersenyum sendiri.
"Kamu di sini." Sapa Ben.
"Ya. Radit mengajakku berkenalan dengan kakaknya. Keluarga mereka sangat ramah. Aku suka dengan kehangatan keluarga ini." Ucap Laura.
"Hai, Ben. Akhirnya kamu mau datang juga." Radit tiba tiba datang dan bergabung bersama mereka, dan duduk di samping Laura. Lalu ia merangkul pundak Laura, mengisyaratkan Radit adalah kekasih Laura.
"Ya, Jane mengundangku kemari. Aku pikir, tidak ada salahnya berkenalan dengan anak anak, dan sekalian silahturahmi dengan orang tua Jane." Jawab Ben tetap tenang.
"Jane belum membicarakan hal itu dengan Rendy, terlebih dengan mantan suaminya. Jane tidak mau anak anaknya terluka karena masa lalu Mamanya." Ucap Radit.
"Ya, aku mengerti. Aku pun harus belajar untuk mengenal anak anak dan keluarga kalian lagi." Ucap Ben.
"Lalu, selamat untuk kalian berdua. Aku rasa seusia kita menjalin suatu hubungan bukan untuk bermain main lagi." Lanjutnya pada Radit dan Laura.
"Maafkan aku telah membawa kabur dia saat reuni kemarin." Ucap Radit.
"Ya, lagian Laura telah memilih kamu." Jawab Ben sambil tersenyum kecil pada Laura.
Laura hanya tersenyum kecut membalas Ben. Ia merasa Ben masih penasaran padanya.
"Hai, kayaknya seru nih obrolannya. Boleh gabung?" Tanya Max dan Sara.
"Boleh dong." Jawab Radit.
"Laura kerja di mana sekarang?" Tanya Sara.
"Aku berkerja di Anugrah Grup. Bagian keuangan." Jawab Laura.
"Teman kuliah Radit, ya?"
"Teman KKN." Jawab Laura.
"Aku dengar Nora ambil kopi dari kebun kita?" Tanya Max pada Radit.
Mendengar nama Nora, Laura langsung menatap Max dan tertarik untuk mencari tau.
"Oh, Nora yang itu?" Tanya Sara pada Max.
"Ya, kekasihku dulu, yang malang. Aku pun tak tau kabarnya lagi. Yang aku tau dia telah menikah."
"Ya." Jawab Radit.
__ADS_1
Dari balik pintu, Jane memberi isyarat memanggil Ben dengan tangannya.
"Maaf sepertinya, Jane memerlukanku." Pamit Ben, berlalu dari teras masuk ke dalam rumah menemui Jane.
Laura berusaha untuk tenang dan tidak cemburu. Tetap fokus mendengarkan kisah Nora, yang diduga sebagai Ibu kandung Gwen.
"Nora, iseng iseng membuat sebuah cafe model truk gitu. Ia mengetahui produk kopi kita, awalnya dari marketing kantor, lalu ia menghubungiku untuk nego harga. Saat tau itu Nora, aku sangat terkejut. Sepertinya dia sudah lama tinggal di Indonesia. Suaminya memiliki kebun teh di puncak." Cerita Radit.
"Tehnya sangat enak, harum. Apalagi yang langsung dari pabrik manualnya. Bukan yang sudah masuk pabrik besar." Tambah Laura.
Ucapan Laura membuat semua menoleh padanya.
"Kamu kenal Nora?" Tanya Radit heran.
"Waktu lelang barang kenangan Gwen, dia pembeli terbanyak. Lalu cafe yang sering kita kunjungi itu, miliknya kan?" Tanya Laura.
"Ya." Radit menganguk kepala membenarkan.
"Kapan kapan kita mampir ke cafenya. Asik tempatnya." Ajak Laura.
Ia melihat ke arah Sara, sepertinya tak ada rasa cemburu saat mendengar kisah tentang Nora.
"Maaf, sebelumnya. Jadi sebetulnya Nora itu teman Max?" Tanya Laura.
"Ya, dulu Nora adalah kekasihku, cinta monyet lah, ceritanya. Namun, sejak tragedi itu, dia mulai menjauh. Dia menolakku, karena tidak mau dikasihani. Hingga akhirnya aku memutuskan untuk membuka lembaran baru bersama Sara." Terang Max sambil menggenggam jemari Sara.
Sara merupakan tipe istri yang baik, yang selalu mendukung suaminya. Meskipun berwajah bule, namun, jiwa Indonesia masih ada. Dia tau sopan santun dan kebiasaan orang Indonesia.
Radit menemani Oma di kamar, bersama Max dan Sara. Anak anak terdengar riuh di lantai atas sedang bermain-main.
Jane dan orang tuanya juga di atas, bersama Ben. Laura yang mulai sedikit lelah dan mengantuk, menuju dapur untuk mengambil segelas air minum, dan menghabiskannya untuk mengusir kantuknya.
Laura memainkan ponselnya untuk mengisi kebosanannya. Lalu dengan iseng ia mengambil gitar milik Radit yang tergeletak di sofa.
Jreng...
Genjrengan pertama membuatnya terkejut. Ia tak menyangka, bisa memainkan musik juga. Ingatan bermusik Laura masih tertanam dalam otaknya.
Laura mencoba memetik gitar kembali. Ia mencoba lagi sambil mencocokkan dengan suaranya.
Lalu ia menemukan kunci yang pas dalam petikannya. Tangan Laura dengan lincah memetik gitar itu, membuat alunan nada lagu yang sering diputar saat di mobil bersama Ben.
Kuterima suratmu, telah kubaca dan aku mengerti
Betapa merindunya dirimu akan hadirnya diriku
Di dalam hari-harimu, bersama lagi
Kau tanyakan padaku, "Kapan aku akan kembali lagi?"
__ADS_1
Katamu kau tak kuasa melawan gejolak di dalam dada
Yang membara menahan rasa pertemuan kita nanti
Saat bersama dirimu
Semua kata rindumu semakin membuatku tak berdaya
Menahan rasa ingin jumpa
Percayalah padaku aku pun rindu kamu, ku akan pulang
Melepas semua kerinduan yang terpendam
Kau tuliskan padaku kata cinta yang manis dalam suratmu
Kau katakan padaku saat ini kuingin hangat pelukmu
Dan belai lembut kasihmu
Takkan kulupa selamanya saat kau ada di sisiku
Semua kata rindumu semakin membuatku tak berdaya
Menahan rasa ingin jumpa
Percayalah padaku aku pun rindu kamu, ku akan pulang
Melepas semua kerinduan yang terpendam
Jangan katakan cinta menambah beban rasa
Sudah simpan saja sedihmu itu
Ku akan datang oh...
Lagu Kangen dari Dewa 19, mengalun merdu dari suara Laura dan petikan gitarnya.
Laura terus bernyanyi sesuai irama, seolah ia berada di panggung dan disaksikan banyak orang.
Ia sangat senang dengan kemampuan tersembunyi Laura itu. Kemampuan yang tak dimiliki oleh Gwen.
Laura tak menyadari bahwa nyanyiannya, membuat seisi rumah tertarik untuk melihatnya.
Terutama, Ben. Ia sangat mengenal lagu itu. Lagu favoritnya saat bersama Gwen, baik saat berjauhan, maupun dekat. Lagu yang selalu diputar berulang-ulang di mobilnya. Lagu penuh kenangan baginya.
Hingga saat ini, bahkan saat mendengar Laura yang menyanyikannya, membuatnya merindukan kekasih hatinya yang telah tiada.
Laura menyanyikan dengan merdu dan sangat baik, menjadikan sebuah lagu yang sangat indah.
__ADS_1
Semua bertepuk tangan setelah Laura mengakhiri menyanyinya.
Ia hanya tersenyum menerima pujian dari orang orang yang mendengarnya bernyanyi.