
Nia duduk bersandar di ruang tunggu. Bersama Bunda Wike, ia sedang menunggu panggilan untuk di periksa oleh dokter kandungan.
Setelah menunggu beberapa saat, namanya pun dipanggil. Nia yang di temani dengan Bunda Wike pun masuk ke dalam ruangan.
Nia sedikit gugup berada di ruangan yang begitu asing dan baru pertama kali dimasukinya ini.
Dokter menanyakan beberapa pertanyaan seputar kondisi dan kesehatan Nia sebelum akhirnya Nia dipersilakan untuk berbaring di tempat tidur.
“Permisi ya Bu..” ucap salah satu perawat yang membantu mengoleskan gel pada alat usg lalu mengusapkannya pada perut Nia.
Dokter pun mulai memeriksa perut Nia dengan alat usg. Tampak gumpalan sebesar kelereng di layar usg. Bunda Wike yang berdiri di samping Nia nampak mengerti arti dari gumpalan itu. Wajahnya terlihat bahagia dan berseri.
“Nah…. Ibu Nia, ibu bisa lihat lingkaran bulat kecil itu…?? Itu adalah embrio yang sudah berkembang menjadi janin, Ibu. Usianya kini sudah 13 minggu.” Kata Dokter itu.
“Benarkah dok…??” tanya Bunda Wike seperti meminta kepastian.
Dokter pun mengangguk yakin dengan senyum khas tersungging di wajahnya.
“Selamat ya Ibu Nia.” Ucapnya lagi.
“Selamat sayang… ahh… aku akan menjadi seorang nenek…!!!” pekik Bunda Wike.
Nia yang sejak tadi melihat dan mendengar apa yang dikatakan dua orang di depannya itu hanya diam tak mengerti. Pikirannya seolah tak mampu menyerap apa yang dikatakan oleh keduanya.
“Nenek…???” gumam Nia lirih.
“Iya sayang…. Kamu akan menjadi seorang ibu…!!!” pekik Bunda Wike kembali.
“Maksudnya saya hamil, dok…??”tanya Nia pada Dokter yang nampak mencetak hasil usg Nia.
“Benar Ibu Nia, silakan duduk kembali. Akan saya jelaskan lebih lengkapnya.” Ujar Dokter itu.
Dengan masih setengah tidak percaya Nia menuruti apa kata Dokter. Ia dan Bunda Wike kembali duduk di depan meja dokter mendengarkan dengan seksama semua yanga dikatakannya.
Apa – apa saja yang boleh dan tidak dilakukan. Apa – apa saja yang baik untuk di konsumsi selama hamil muda. Semua nasihat dan perintah dari Dokter, Nia dengarkan dengan seksama.
“Jadi saya beneran hamil, dok…??” tanya Nia kembali setelah dokter menjelaskan panjang lebar.
“Benar Ibu Nia… Selamat, anda saat ini sedang mengandung. Dan karena anda masih muda, dan juga sedang hamil muda… saya sarankan ada harus berhati – hati. Kurangi aktivitas yang berat - berat. Karena janin yang masih muda, itu masih sangat rentan.” Kata dokter itu.
Nia tersenyum cerah, seakan ia sudah meyakini apa yang terjadi.
“Baik dok…. Terimakasih.”
“Sama – sama… saya tunggu bulan depan untuk kontrol ya… ini saya resepkan vitamin dan penambah darah diminum yang teratur.” Ucapnya seraya menyodorkan kertas resep obat.
“Baik dokter… terimakasih.” Ucap Nia.
“Terimakasih dokter…” kata Bunda Wike.
Nia dan Bunda Wike pun keluar dari ruang dokter dengan wajah yang berseri – seri sambil melihat lagi foto hasil usg yang diberikan oleh dokter kandungan tadi.
“Satya…” sapa wanita paruh baya yang berdiri di hadapan Satya.
__ADS_1
“Tante Rosa…??” gumam Satya lirih.
“Benar Satya, saya Tante Rosa… Ibunya Marsya… kamu masih mengingatku, bukan…?” ucapnya.
Wanita paruh baya itupun langsung menyeruak masuk ke dalam ruangan Satya dan langsung bersimpuh di kaki Satya.
Satya yang reflek langsung memundurkan langkahnya.
“Ada apa ini, tante…??!!” tanya Satya yang terkejut.
Di raihnya tangan Tante Rosa dan menyuruhnya untuk duduk di sofa.
Meskipun Satya mempunyai masa lalu yang kurang baik dengan keluarga Marsya termasuk dengan ibunya, namun ia tidak sampai hati membiarkan seseorang yang umurnya jauh di atasnya bersimpuh di kakinya.
“Satya… maafkan tante… tolong maafkan anak tante… “ ucapnya sambil merengkuh jemari Satya.
“Tante mohon Satya…. Maafkan Marsya.. Tante yakin saat itu ia hanya emosi sesaat. kamu tahu bahwa ia sangat mencintaimu Satya, ia tidak ingin kehilangan dirimu….” Ujar Tante Rosa.
Satya bergeming mendengar perkataan Tante Rosa. Sorot matanya tajam memendam kemarahan.
Satya menarik tangannya yang di genggam oleh Tante Rosa. Kedatangannya bukan membuat Satya sedikit bersimpati namun justru membuat amarah Satya kembali tersulut.
“Percobaan pembunuhan bukanlah sesuatu yang bia berakhir hanya dengan kata maaf… selain itu, berhenti berbicara tentang cinta di hadapanku…!! Aku sudah membuang rasa itu bersamaan dengan kaburnya anak anda waktu itu.” Ujar Satya dengan tegas.
Tante Rosa terdiam, ia baru menyadari bahwa ia salah berbicara.
“Tante mohon Satya, maafkan Marsya… tolong cabut laporanmu di kepolisian. Kita bisa membicarakannya baik – baik… ya…??” pinta Tante Rosa.
Satya masih bergeming. Begitu pula dengan Josh dan Jihan yang sejak tadi juga menyaksikan apa yang terjadi di ruangan itu.
Satya masih diam seribu bahasa.
“Jika kamu tidak percaya, ikutlah bersama tante.. Mari kita ke rumah sakit untuk melihat keadaan Marsya…” ucap Tante Rosa.
Disisi lain di rumah sakit, Nia dan Bunda Wike berjalan menyusuri koridor rumah sakit dengan hati yang gembira. Bahkan Nia sudah tidak sabar memberi tahu suaminya saat ia tiba nanti.
“Bun… jangan kasih tahu Mas Satya dulu ya…? Nanti biar Nia sendiri yang akan memberi kejutan untuk Mas Satya…” kata Nia.
“Tentu saja sayang…!! Satya pasti sangat bahagia mendapat kabar ini, sayang… Bunda juga sudah tidak sabar memberitahukan kabar gembira ini kepada semua orang…” ucap Bunda Wike dengan wajahnya yang berbinar – binar.
Mereka berdua menyusuri korudor rumah sakit dimana taman yang asri nan cantik memperindah sisi tengahnya. Banyak pasien ataupun pengunjung rumah sakit yang sekedar duduk atau mencari udara segar disana.
“Nia… kamu bisa tunggu di sini sebentar, Bunda sepertinya harus ke toilet.. sebentar saja…” ucap Bunda Wike menunjuk arah toilet di depannya.
“Tentu saja Bunda.” Ucap Nia.
Nia pun duduk di kursi yang berjejer di sepanjang koridor, hingga suara yang tidak asing menyapanya.
“Nia…??”
“Niko…??!!”
“Apa kabar Nia…?? Sedang apa kamu disini…?? Kamu sakit..?? dimana Satya..??”
__ADS_1
Nia hanya tersenyum mendengar Niko dengan berondongan pertanyaannya.
“Aku baik – baik saja, Nik… aku kesini dengan ibu mertuaku.. kamu sendiri, ngapain kesini..?? siapa yang sakit…??” tanya Nia.
“Oh… syukurlah, aku kira kamu sakit… aku mau menjenguk saudaraku, katanya dia dirawat di sini.” Ucap Niko.
Nia pun kembali duduk di temani oleh Niko. Kali ini ia memilih tempat duduk yang menghadap ke taman.
“Bagaimana kabarmu, Nik..?? sudah lama aku tidak mendengar kabarmu.. bahkan kita juga jarang bertemu di kampus…” tanya Nia dengan tatapannya lurus ke depan menatap taman.
“Seperti yang kamu lihat, aku berusaha untuk baik – baik saja. Maafkan aku, aku memang sengaja menghindarimu di kampus…. Jika tidak begitu, akan lebih susah buatku untuk merelakanmu…” ucap Niko yang memandang wajah Nia dari samping.
Wajah yang selama ini tak berani ia rindukan. Wajah yang sepertinya terlihat semakin berisi, memancarkan aura yang berbeda. Ada kelembutan dan kenyamanan disana.
Hingga Niko menyadari ada yang tidak beres dengan tatapan Nia.
Niko pun membuntuti kemana arah tatapan Nia. Dan ia pun ikut terhenyak melihat apa yang Nia lihat.
Satya berdiri di depan sana dengan seseorang wanita, yang walaupun duduk di kursi roda namun ia tetap bergelayut manja di lengan Satya.
Niko tidak mengenal siapa wanita itu, namun ia yakin bahwa wanita itu yang membuat tatapan Nia seperti itu.
Cemburu dan amarah yang membara.
Nia tiba – tiba saja berdiri dari kursinya. Niko berpikir Nia akan menghampiri suaminya itu. Namun ia justru berjalan ke arah sebaliknya.
“Nia…!!!” pekik Niko.
“Tunggu Nia…!! Kamu bilang kesini dengan ibu mertuamu, tungguilah beliau sebentar...” Ucap Niko menahan tangan Nia.
Namun Nia tidak menghiraukan ucapan Niko, ia tetap memilih berjalan sendiri untuk pulang.
“Nia …!!!” pekik Niko lebih keras.
.
.
.
.
.
,
Hai reader setiaku... terimakasih banyak karena sampai saat ini kalian semua masih mendukungku... Author tunggu like dan komentar dari kalian semuanya yah... supaya Author selalu bersemangat ngehalu lagi.
Terimakasih...
Apalah arti Author tanpa pembaca setiaku semua... lup you all...
.
__ADS_1
.
.