Kesempatan Kedua

Kesempatan Kedua
Ingin Tau Masa Lalu Laura


__ADS_3

"La, Lo bisa ngisi acara untuk perayaan satu tahun Persada? Tolong lah ya.. Please...!! Gue mau ngundang penyanyi, bayarannya mahal. Mending duitnya buat hadiah undian pelanggan kita saja. Mau ya... Bisa ya...!" Rayu Alan pada Laura.


"Gue pikir dulu ya." Jawab Laura masih menekuni lembaran kertas di mejanya.


"La... Tolonglah gue..!" Alan memohon.


Laura menatap Alan dari kacamatanya yang melorot, lalu ia membenarkan kacamata. Dan menatap Alan kembali.


"Emang ga ada anggaran buat ngundang penyanyi atau band?" Tanya Laura.


"Ada sih La, tapi gue pingin hadiah untuk pelanggan juga banyak, biar rame. Belum lagi kita juga ada acara untuk para karyawan." Jawab Alan.


"Lah, ada anggaran, ngapain nyuruh gue nyanyi. Ogah!"


"Ayo lah, La. Gue pingin dengar Lo nyanyi di panggung." Rayu Alan.


"Kenapa sih, Lo terobsesi banget ma Gue?" Tanya Laura kesal sambil melipat dua tangannya di dada.


"Dia liat video Lo, saat nyanyi, pas acara reuni sekolah Pak Dirga." Jawab Winda sambil tertawa.


"Astaga Alan. Sudahlah, pake angggaran perusahaan saja, cari penyanyi yang beneran saja. Kalo mau, tar gue nyanyi khusus buat Lo saja!" Pekik Laura sambil melotot pada Alan.


"Iya Lan, sudahlah dengerin saran Laura. Cari artis beneran saja. Janji ya La, kapan kapan kita karaoke bareng lagi. Kangen nih kumpul bareng." Sambung Winda.


"Tar di acara ulang tahun anak usaha kita saja, kita bisa kumpul kumpul lagi. Lo masuk panitia kan Lan?" Tanya Laura.


"Iya, tar acaranya di salah satu hotel milik Pak Anton di puncak." Jawab Alan.


"Asik lah. Buat acara yang seru ya. Anak anak marketing biasa jago ngurus acara gituan." Ujar Winda.


"Pasti!" Alan mengacungkan jempolnya tanda siap.


Mereka menghabiskan jam istirahat siang itu di ruang bagian keuangan.


Sore itu, Radit mengabari bahwa ia mengantar Max dan Sara ke bandara. Mereka akan kembali ke Amerika, setelah hampir tiga Minggu berlibur di Tanah Air.


Laura membereskan meja kerjanya, bersiap-siap hendak pulang, menjelang jam kerja selesai.


"Gua duluan ya La. Suami gue udah nunggu di bawah." Pamit Winda, sambil bergegas menenteng tas kerjanya.


"Hati hati di jalan." Pesan Laura.

__ADS_1


Mereka saling melambaikan tangan.


"La, mau balik?" Sapa Dirga dari balik pintu ruangannya.


"Iya, ada apa?"


"Bisa ke ruanganku."


"Oke."


Laura mengikuti Dirga menuju ruangannya.


Dirga menuju meja kerjanya, lalu duduk di kursinya.


"Ada apa?" Tanya Laura.


"Papa tanya progres proyek kita yang di Yogya. Sedangkan kamu tau, kita sedang sibuk mempersiapkan ulang tahun Persada." Ucap Dirga.


"Lalu?"


"Ya itu, aku pusing di rongrong pertanyaan soal Yogya." Keluh Dirga.


"Dirga, kamu kenapa?" Tanya Laura sambil menepuk pundak Dirga.


Dirga menelungkupkan kepalanya ke atas meja. Lalu ia menutup wajahnya dengan tangan. Ia berusaha menenangkan dirinya.


"Eyang Kakung semalam telpon, mengabari, jika sedang sakit. Ia menanyakan kita." Ucapnya.


"Mengapa kamu tidak berusaha menolaknya, atau mencari alasan yang tepat, untuk mengenalkan Lisa pada keluargamu?" Tanya Laura.


"Sudah, namun mereka selalu beralasan sama. Keluarga Lisa."


"Kamu kurang berusaha Dirga." Jawab Laura.


"Aku kurang berusaha? Berusaha seperti apa maksudmu?" Dirga gak terima dikatakan tak berusaha oleh Laura.


"Pernahkah kamu ajak Lisa makan malam bersama keluargamu? Pernahkah kamu cerita tentang Lisa ke Eyang? Pernahkah kamu mengunjungi keluarga Lisa secara pribadi, Mengobrol dengan Papanya dan saudaranya yang lain?" Tanya Laura.


"Aku pernah menemani Lisa mengantar ke dokter, beberapa kali bahkan. Lalu mengobrol dengan Wisnu juga sudah. Kalo untuk ke Mama, sudah pernah, tapi, kamu tau kan Mama bagaimana." Jawab Dirga.


"Kamu serius dengan Lisa?" Tanya Laura dengan nada lembut, sambil menatap Dirga.

__ADS_1


"Ya aku serius dengan Lisa. Aku mencintainya. Sungguh!" Ucap Dirga dengan mimik wajah serius.


"Ajak dia ke Yogya. Coba kenalkan pada Eyang di Yogyakarta. Juga kenalkan keluargamu pada Lisa. Ada pepatah tak kenal maka tak sayang. Mungkin kalian hanya perlu lebih saling mengenalkan keluarga masing masing dulu. Lisa masih muda, mungkin dia masih banyak belajar. Dan aku rasa dia cepat untuk mempelajari hal baru." Nasihat Laura.


"Akan aku coba. Makasih. Tapi, bagaimana dengan keluargamu?"


"Keluargaku sepertinya dapat menerima. Radit sudah aku kenalkan pada Ibu, bahkan Dewa kan bekerja di perusahaan milik Radit. Beberapa kali Radit dan Ibu juga sempat saling sapa lewat video call. Sekarang pr yang penting itu ya kamu dan Lisa. Tentang keluargamu yang harus memilih pasangan dari kalangan apa."


"Ya. Kadang saat aku sedang galau seperti ini, aku merasa ga ada yang dapat membantuku. Ben, akhir akhir ini sangat sibuk. Dia sering menghabiskan waktu libur untuk pulang ke Bogor." Cerita Dirga.


"Apa dia bersama Jane?" Tanya Laura.


"Entahlah. Tapi, Ibunya pernah sekali bertanya tentangmu pada Ben. Kebetulan aku sedang di sana waktu itu. Sepertinya Ibunya Ben, tertarik padamu."


"Benarkah?"


"Ya, belum lama ini juga kok. Kalian pernah bertemu?" Tanya Dirga.


"Pernah, tapi sudah lama banget loh. Waktu itu masih Persada yang lama, waktu lagi promo diskon penutup. Sudah setahun ya." Ucap Laura tak percaya.


"Wah, tapi sepertinya berkesan untuk Ibunya. Lagian Ben, sepertinya sedang tak ingin menjalin hubungan saat ini. Dia lebih memilih pekerjaannya. Mungkin itu membuat Ibunya khawatir."


"Ya, kehilangan seseorang memang tidak mudah, apalagi mengetahui kabar memiliki anak dari kekasihnya. Ben, butuh banyak waktu untuk bisa move on."


"Ya. Lalu bagaimana kamu dan Radit? Maksudku, kalian telah mencapai tahap serius." Tanya Dirga.


Laura terdiam. Pertanyaan Dirga sama sekali belum ia pikirkan. Ia memang serius menjalani hubungan dengan Radit, namun, untuk tahap selanjutnya, Laura belum siap.


"Entahlah Ga. Udahlah, aku mau balik, nanti kemalaman." Pamit Laura, untuk menghindari pertanyaan lebih jauh lagi dari Dirga.


Laura terus memikirkan pertanyaan Dirga tadi.


"Serius? Ya, aku serius dengan Radit. Namun, jika dia ingin status yang lebih, mengapa aku jadi bimbang. Duh, kenapa bisa jadi begini? Dulu aku pikir pernikahan itu akan mudah. Tapi, setelah banyak hal yang telah terjadi dan dilalui, mengapa aku jadi bimbang gini?" Laura terus bermonolog dengan dirinya sendiri sambil fokus menyetir.


"Tapi, seandainya aku benar benar Laura, apakah aku akan mempertahankan Dirga? Atau kembali pada Radit?" Lanjutnya kembali.


Tiba tiba ia memikirkan, seandainya ia tetap Laura, ia akan memilih siapa untuk jadi pasangannya. Jelas tidak mungkin Ben.


Bukan Pras penyebabnya, namun Radit. Tapi apakah ada hal lain yang telah terjadi, sehingga sekian tahun Laura tak mau menginjak Yogya.


Pertanyaan pertanyaan tentang Laura mulai menari di benaknya. Ia ingin mencari tau masa lalu pemilik tubuhnya saat ini.

__ADS_1


__ADS_2