Kesempatan Kedua

Kesempatan Kedua
Pengakuan Dina


__ADS_3

Sebulan kemudian...


Setelah kejadian tabrakan itu, Laura mendapat jatah mobil kantor dan sopir dari kantor. Bukan perintah Dirga, tapi atas perintah Bu Sisil langsung. Laura pun bisa meminta tolong sopir untuk mengantar kemana pun dia mau.


Mobil lamanya sedang dalam proses tukar tambah, seakan ingin buang sial, Laura pun mengganti kendaraannya. Radit yang membantunya, karena mempunyai teman yang bekerja di merek mobil itu.


Hari itu Laura bekerja seperti biasanya, dan Dewa kebetulan sedang berada di kantor Laura untuk proses uji coba aplikasi yang dibuatnya.


"Dewa, kenalin ini Akan, dia manager pemasaran untuk Persada yang kamu handle itu, sedangkan ini Katrin Bagian Pemasaran Anugrah Grup." Laura mengenalkan Katrin dan Alan pada Dewa.


"Wah, ternyata kamu punya adik yang ganteng juga! Ati ati ya sama Katrin." Celetuk Alan sambil menyalami Dewa.


"Heh, enak saja, gue udah punya pacar! Tenang saja Mas, saya ini profesional kok." Balas Katrin sambil menyalami Dewa juga.


Dewa hanya tersenyum melihat keduanya.


"Sudah, gue tinggal ya kalian berdua sama Dewa. Awas, jangan diajarin macam macam adik gue! Dewa, hati hati sama dua orang itu!" Pesan Laura bercanda pada rekan kerjanya itu.


"Siap Mbak!" Jawab Dewa.


Laura meninggalkan Dewa yang tengah mengajari Katrin dan Alan mengenai aplikasi baru itu.


"Bu Laura... Bu.. tunggu, ada yang mencari." Resepsionis kantor memanggil sambil berlari kecil.


Laura berhenti dan menoleh ke arah suara yang memanggil.


"Siapa?" Tanya Laura heran.


"Katanya teman Ibu." Jawabnya.


"Oh, ya sudah, suruh tunggu dulu ya, saya mau bereskan kerjaan saya sebentar."


"Baik Bu."


Resepsionis itu kembali ke bagian depan kantor untuk menyampaikan pesan Laura, sedang Laura kembali ke ruangannya.

__ADS_1


Laura tidak bisa fokus menyelesaikan pekerjaannya, pikirannya tergoda penasaran siapa yang sedang mencarinya. Radit? Pasti akan menghubungi atau datang di luar jam kantor. Ben? Pasti dia bisa masuk kantor ini dengan leluasa.


Laura menghela napas panjang sesaat, lalu keluar menuju lobby kantor. Winda memperhatikan saja sambil geleng-geleng kepala melihat Laura.


Sesampainya di lobby, Laura celingukan mencari orang yang mencarinya, lalu ia mendekati resepsionis.


"Siapa yang mencariku?"


"Oh, sepertinya tadi buru buru, tapi dia memberi ini untuk Bu Laura." Resepsionis itu menyerahkan selembar kertas pada Laura.


Laura membaca pesan darinya : Temui aku di resto n cafe Persada pukul 5 sore nanti.


Laura mengerutkan kening saat membaca pesan itu.


"Dari laki laki atau perempuan?"


"Seorang perempuan Bu." Jawab resepsionis.


Laura kembali lagi ke ruangannya dengan rasa penasaran. Siapa yang mencarinya.


Dewa masih sibuk dengan pekerjaannya. Saat mengintip di ruangan meeting terlihat Lisa sedang berdiskusi dengan bagian kreatif dan Bu Sisil, ia mendapat pekerjaan menjadi model untuk produk fashion brand clothing line milik Bu Sisil dan Madam Lulu.


Laura meninggalkan kantor, karena lokasi tidak begitu jauh dari kantornya. Sebenarnya masih ada waktu tiga puluh menit lagi, tapi Laura berpikir lebih cepat akan lebih baik.


Ia menatap seluruh sudut ruangan cafe sesampainya di sana. Pelayan yang mengenalnya menyapa dan mempersilahkan duduk.


Laura memilih tempat di sudut, dekat jendela supaya dapat melihat pemandangan ke luar dan melihat pengunjung yang datang. Ia telah memesan latte untuk menemaninya.


Tak lama ia melihat Dina berjalan masuk ke cafe, dan berjalan menuju arah tempat duduk Laura.


"Sudah lama?" Tanyanya.


"Ya. Lumayan." Jawab Laura terkejut, ternyata Dina yang mencarinya.


"Ada apa? Silahkan duduk!" Ucap Laura.

__ADS_1


"Tadi aku mencarimu di kantor, karena aku tak punya nomor ponselmu." Ucap Dina sambil duduk di kursi di hadapan Laura.


"Maaf aku telah egois terhadapmu, tidak jujur, bahkan merebut Pras darimu. Aku tau aku salah, tapi sejak dulu aku mencintai Pras, namun dia mencintaimu, hingga saat ini." Lanjut Dina."


"Bagaimana kamu tau dia masih mencintaiku, dia telah lama menikah denganmu?" Tanya Laura heran.


"Terkadang dia sering melamun sendiri saat malam hari. Dia hanya menikahiku karena aku mengandung anaknya. Bahkan kamu tau, Ibunya tak suka padaku. Dia selalu membandingkanku dengan dirimu sejak kami menikah. Itu membuatku sangat muak La. Jujur aku sangat membencimu sejak saat itu. Saat Pras dapat tawaran beasiswa spesialis di Jakarta, aku menyarankan untuk mengambilnya saja, tidak perlu menunggu yang di Yogyakarta. Karena apa? Karena aku tidak tahan dengan Ibunya." Cerita Dina sambil terisak.


Laura hanya diam mendengarkan keluh kesah Dina.


"Saat aku hamil besar, Ibunya pun masih sering menyindirku. Ya , aku memang tidak bekerja sepertimu, tapi bukan berarti aku tidak bisa. Aku akhirnya sempat bekerja, kenyataan, aku kesulitan mendapatkan pengasuh untuk putriku. Setiap sebulan sekali pasti ganti pengasuhnya. Ibu mertuaku selalu menyalahkanku, gak becus ngurus anak dan suami. Kamu tau, Ibuku sudah tidak ada, dan ayahku menikah lagi sejak itu. Hubunganku dengan keluargaku pun kurang baik, ditambah mertuaku yang seperti itu. Akhirnya Mas Pras memutuskan aku tak boleh bekerja, fokus mengurus putri kami saja dan rumah. Lalu kehidupan kami bahagia kembali sejak saat itu, dan Ibu juga jarang menghubungi kami lagi. Sampai ketika kamu pulang ke Yogya." Dina berhenti sejenak sambil menatap Laura.


"Bulik Tiwi mantu, lalu kamu datang ke pestanya, dan kamu dengan gaya Jakarta, menyanyi di atas panggung, mengobrol dengan banyak orang. Seolah berubah total, berbeda dengan Laura yang pemalu, pendiam, dan lugu. Ya, saat kita bertemu sebulan yang lalu di swalayan aku juga merasa kamu berbeda." Lanjutnya.


"Kamu terlihat lebih percaya diri, lebih cantik, penampilan yang menarik, seolah kamu telah berubah dari yang dulu." Kata Dina.


"Lalu mengapa Ibunya Pras membuat gosip yang tidak benar tentangku?" Tanya Laura.


"Itu karena kamu ga jadi mantunya. Dia masih mengharapkan kamu jadi mantunya, makanya dia selalu membuli aku." Jawab Dina.


"Lalu untuk apa kita bertemu?" Tanya Laura.


"Maafkan aku. Aku merasa berhutang maaf padamu. Mas Pras sebulan ini sejak kejadian itu, kami jarang bicara kembali."


"Mengapa kamu tidak cerita padaku, bahwa kamu mencintai Pras sejak dulu, dan mengapa malah merebut dengan cara itu?"


"Jika aku cerita, apa kamu mau putus dengan Pras?" Ucap Dina dengan nada tinggi.


"Setidaknya, jika kamu jujur saat itu, aku jadi lebih berhati-hati lagi saat berteman. Dan biarkan Pras memilih sendiri. Tapi, aku bersyukur tidak bersama dengannya. Setidaknya aku bisa melihat kepribadian orang yang sebenarnya Pras dan dirimu." Ucap Laura.


"Aku tanya, apa kamu akan memutuskan Pras saat tau aku mencintainya juga?" Tanya Dina kembali.


Laura mengehela napas sejenak.


"Aku akan meninggalkannya dan tidak akan berteman lagi denganmu selamanya! Jadi tolong jauhi diriku!" Bisik Laura dengan tegas dan meninggalkan Dina.

__ADS_1


__ADS_2