
Keesokan harinya acara gathering perusahaan masih berlanjut dengan beberapa acara hiburan. Mereka mengundang komika untuk menghibur para karyawan.
Setelah kejadian kemarin Laura menjaga jarak dengan Dirga. Ia ingin sendiri saat itu, dan menenangkan dirinya dulu. Meskipun ia terlihat semangat dan bergembira mengikuti setiap acara, namun, ia memikirkan semua yang telah terjadi.
Kehidupan Gwen, dan kehidupan Laura. Semalaman ia memikirkan semua yang telah terjadi, merangkainya dan menarik garis lurus. Menggabungkan cerita dalam buku harian Laura dan kisah kisah teman, kekasih, dan semua di sekelilingnya.
Akhirnya ia dapat menyimpulkan, mengapa Laura menolak kembali dalam tubuhnya. Ia memilih mengakhiri hidupnya yang menurutnya sangat menyedihkan.
Kisah cintanya bersama Pras telah kandas karena direbut oleh sahabatnya. Lalu Radit, menurut Radit itu temannya dan kekasihnya, namun Laura pasti tidak sebodoh itu, pasti ada hal lain telah disembunyikan oleh Radit dari dirinya.
Lalu yang lebih mengejutkan, Dirga. Gara gara kecewa akan Radit, dan melampiaskan semua pada Dirga. Ya, Dirga seorang playboy, suka bergonta ganti kekasih dan doyan pesta. Laura terbius akan pesonanya. Dan terperosok jatuh dalam masalah yang mereka perbuat.
Mungkin Laura menyembunyikan semua itu sendiri selama ini. Sehingga seakan menjauh dari keluarga dan teman temannya. Menutup diri dan menyiksa dirinya sendiri.
Lalu kejadian perampok bank, dan penembakan itu terjadi. Seolah menjawab doa doanya untuk mati saja. Namun gara gara tindakan konyol Gwen, membuat semua jadi kacau.
Kini identitas Gwen berubah menjadi Laura, namun akhirnya ia menyadari, banyak hal yang dapat dilakukan untuk memperbaiki semuanya.
Ia akan membantu Laura menemukan cinta yang benar benar tulus untuknya.
"Ben! Astaga, mengapa lelaki itu benar benar membuatku jatuh cinta. Namun, aku juga tertarik pada Radit. Tapi, pesona Dirga juga membuat hatiku luluh."
Laura sepanjang malam hanya duduk di teras menatap langit, memikirkan semuanya semalaman. Hingga matanya mengantuk dan ia tertidur pulas di sofa teras villanya.
Paginya saat bangun Winda dan Katrin sangat terkejut, Laura yang tidur di luar.
Setelah mandi dan bersiap-siap untuk acara selanjutnya, Laura menjadi berubah, ia lebih terlihat segar dan bersemangat lagi.
Dirga hanya memperhatikan Laura saja, ia merasa Laura telah berbeda dari yang terakhir ia bertemu.
Ia membuka pesan dari Lisa, hatinya merasa bersalah pada gadis itu. Ia memang mencintai Lisa, namun di sisi lain ia punya masa lalu bersama Laura.
__ADS_1
Dirga membalas wa yang dikirimkan oleh Lisa. Untuk melepas rindu dan mengalihkan pikirannya akan Laura.
Bu Sisil, mulai curiga pada Dirga, sejak beberapa Minggu ini, ia merasa ingatan Dirga mulai pulih. Setelah bertahun-tahun menyembunyikan tentang amnesia yang menimpa Dirga, dan ketakutan di masa kecilnya saat diculik oleh penjahat. Membuat Dirga trauma.
Naluri seorang Ibu yang ingin melindungi putranya, membuat Dirga menjadi anak yang manja selama ini. Hingga akhirnya kecelakaan menimpanya.
Orang tuanya, yaitu Eyang Dirga yang di Yogya, sering mengingatkan, Bu Sisil untuk tidak terlalu memanjakan Dirga, namun karena kecintaannya pada Dirga, membuatnya membentuk Dirga yang menjadi seorang yang manja, dan menganggap remeh semuanya. Hal itu membuat Eyang marah dan akhirnya menjodohkan Dirga dengan Laura supaya, Dirga dapat menjadi lelaki yang bertanggung jawab.
Hingga akhirnya, ia bertemu dengan Laura kembali saat hari pertama kerja setelah bertahun-tahun berada di luar negeri.
Dirga selalu kagum dengan Laura, yang berani saat menyelamatkan dirinya dari para penculik itu. Sikap berani Laura dan ketangguhannya membuat Dirga segan padanya.
Namun, saat bertemu Lisa, berbeda. Gadis muda itu benar-benar membuatnya jatuh hati. Namun ingatannya yang telah kembali, semakin membuatnya merasa bersalah pada Lisa. Terlebih Lisa adalah sahabat Laura.
Bu Sisil menghampiri Dirga yang tengah menghisap rokok di halaman hotel.
"Kamu akhir akhir ini berubah? Ada apa?" Tanya Bu Sisil lembut sambil duduk di samping Dirga.
"Ma, apa yang terjadi pada diriku sebenarnya?" Tanyanya menatap Bu Sisil.
"Ya, sangat jelas." Jawab Dirga sambil mengambil napas dalam-dalam.
"Mama ingin memberi yang terbaik untukmu, Nak. Mama tidak ingin kehilanganmu. Meskipun resiko ingatanmu akan hilang, yang penting kamu hidup." Ucap Bu Sisil.
"Ya."
"Tapi, kamu masih ingat semuanya Nak. Bahkan rasa trauma masa kecilmu, masih kamu ingat. Mama yakin kamu sembuh. Tapi ada hal lain ternyata telah menghilang. Ingatan akan kamu dan Laura. Seakan terhapus dari ingatanmu. Ada apa kamu dan dia, Nak?" Tanya Bu Sisil sambil membelai lembut punggung putranya itu.
"Aku akan ceritakan nanti di rumah saja ya Ma." Pinta Dirga.
Bu Sisil menganguk.
__ADS_1
"Mama senang kamu telah kembali seperti dulu. Kita bisa bangun kembali bisnis keluarga kita. Dan kamu bisa ke Yogya menjenguk Opa yang sakit." Bu Sisil menepuk pundak putranya itu.
Menjelang sore, rombongan perusahaan pulang setelah acara selesai.
Laura terlihat sudah seperti biasa kembali. Ia dengan wajah ceria menyapa dan bercanda dengan rekan kerja yang lain.
Selama dalam perjalanan pulang, seperti biasa, Laura menghibur rekan rekan kerja yang lain dengan bernyanyi, diiringi gitar yang dibawa oleh Slamet, OB kantor.
Tak terasa mereka sudah memasuki Jakarta, dan kembali dengan selamat tiba di halaman gedung perusahaan.
Lisa telah menunggu di mobilnya. Saat rombongan bus tiba, ia keluar dari mobilnya, dan menunggu sambil duduk di anak tangga gedung tersebut.
Dirga tersenyum saat melihat Lisa telah datang, ia turun dari bus, dan memeluk kekasihnya itu.
Laura yang melihat mereka, hanya menatap saja, sambil membereskan tas ransel dan oleh oleh dari puncak. Aneka sayur dan buah ia dapatkan. Sebelum pulang tadi, Pak Baron dan Bu Asri mampir, dan memberikan sekantong buah stroberi untuk Laura. Lisa dan Laura sangat menyukai stoberi, terlebih dibuat selai, lalu dicelupkan pada cokelat leleh.
Ia menuju ke arah Lisa dan Dirga dan menunjukkan sekantong buah stroberi.
"Wow..." Mata Lisa berbinar melihat kantong bawaan Laura.
"Gue bawa banyak oleh oleh buat isi kulkas kita." Ucapnya terkekeh.
"Asik... Gue kangen masakan Lo! Ayo kita masukkan barang barang ke mobil." Lisa membawa kantong belanjaan Laura, hasil yang ia beli dari puncak.
Lalu mereka berpisah dengan teman teman mereka yang lain untuk pulang.
Laura menjawil lengan Lisa, memberi kode untuk berpamitan juga dengan Bu Sisil yang berada di tempat itu.
Lisa dan Laura mendekati pemilik perusahaan itu.
"Bu, kami pulang dulu." Ucap Lisa dengan segan.
__ADS_1
"Ya." Jawab Bu Sisil singkat.
Laura mengangukkan kepala pada Bu Sisil, dan kemudian mengikuti langkah Lisa menuju kendaraan mereka. Lalu Lisa melajukan mobilnya kembali ke rumah.