Kesempatan Kedua

Kesempatan Kedua
BAB 67


__ADS_3

“Mas Satya sudah pulang..?? bau banget sih mas…?!! Jauh – jauh deh…. Mandi dulu sana…” ujar Nia yang langsung menutup hidungnya.


Satya yang bahkan belum mengucapkan sepatah kata pun sampai tertegun melihat Nia yang tiba – tiba saja rewel dan cerewet.


“Emang bau banget ya…??”


“Iya mas… buruan sana mandi, ganti baju…!!”


“Oke, tapi cium dulu!!” ucap Satya yang mencuri cumbu bibiiir Nia membuat Nia semakin kesal.


“ Mas Satya ih…!!!!” pekik Nia kesal.


Satya hanya tertawa terbahak – bahak dan langsung lari masuk ke kamar mandi.


 “Syukurlah… sepertinya dia baik – baik saja…” gumam Satya dari dalam kamar mandi.


Setelah selesai mandi, Satya pun menyusul Nia yang masih berbaring diatas ranjang.


 “Sudah tidak bau lagi kan, sayang…???” ucap Satya yang duduk di tepi ranjang.


Nia mengangguk seraya tidur di pangkan Satya dan memeluk pinggangnya erat.


“Bagaimana kondisimu, sayang…??” tanya Satya yang membelai lembut rambut Nia.


“Hanya pusing sebentar mas… sekarang sudah sembuh… aku baik – baik saja.” Jawab Nia.


“Syukurlah…. Tidak ada yang terjadi, bukan…??” tanya Satya hati – hati.


“Maksudnya Marsya….??” Jawab Nia to the point.


Nia tersenyum.


“Pantas saja… mas Satya jam segini udah pulang. Bunda tadi menelpon mas Satya, bukan..?? Mas Satya mengkhawatirkan aku….???” Tanya Nia.


“Iya sayang… aku takut wanita itu akan menyakitimu…” kata Satya.


“Terimakasih sudah mengkhawatirkan aku, mas… tapi seperti yang mas lihat, aku tidak apa -apa. Sepertinya dia masih sangat mencintaimu, mas….” Kata Satya.


“Nia…. Maafkan aku…” ucap Satya.


“Untuk…??? Mas Satya tidak ada sesuatu dengan dia, bukan..?? tidak ada yang perlu aku khawatirkan bukan…??” cecar Nia.


“Bukan begitu sayang… tentu saja aku tidak ada hubungan apapun dengannya lagi. Aku minta maaf karena sudah membuatmu berurusan dengannya.”


Nia pun kembali tersenyum.


“Itulah salah satu resiko menjadi istri seorang Satya Aryadika. I’m okay mas… selama kamu selalu berada di sampingku.”


Satya mengecup lembut kening Nia.


“Tapi aku juga wanita pencemburu mas… aku tidak suka jika kita harus selalu mengungkit dan membahas masa lalumu…” imbuh Nia.


Satya hanya tersenyum manis dan kembali mengecup kening Nia.


“Terimakasih sudah begitu mencintaiku, sayang…” ucap Satya.


“Oh iya, aku punya kejutan untukmu…” ucap Satya.


“Kejutan…??” Nia membeo.


“Iya, kamu pasti sangat suka dengan kejutanku…”


“Kejutan apa mas…?? Janga bikin penasaran deh…” kata Nia.


Satya pun melirik jam yang tergantung di dinding kamarnya.


“Seharusnya sih sudah sampai…”kata Satya.

__ADS_1


“Apanya yang sampai mas…??”


“Sabar dulu, Nia….. sebentar lagi…” ucap Satya.


 Nia menunjukan raut wajahnya yang penasaran dan juga ingin tahu.


Tak berselang lama bel apartemen mereka berbunyi, pertanda ada seseorang yang berkunjung.


“Nah itu dia… ayo kita ke depan….!” Ajak Satya.


Dengan rasa ingin tahu yang semakin memuncak, Nia pun mengikuti Satya yang hendak membuka pintu, mengekor tepat di belakang Satya.


Satya pun membukakan pintu untuk kedua tamunya.


“Selamat sore pak…” sapa keduanya.


Nia yang berada tepat di belakang Satya segera melongok setelah mendengar suara yang tidak asing baginya.


“Ayu.. Nindya…???!!!” pekik Nia.


“Hai Nia…” ucap keduanya.


“Masuk yuk…!! Ayo masuk…” ajak Nia yang langsung menggaet tangan kedua sahabatnya itu dan melewati Satya begitu saja.


“Permisi pak..” ucap Ayu menunduk sopan yang diikuti dengan Nindya.


Satya hanya tersenyum mengangguk, memaklumi kehebohan istrinya itu. Lalu beranjak masuk ke ruang kerjanya, membiarkan istri dan kedua sahabatnya itu memiliki waktu bersama.


Nia pun mengajak kedua sahabatnya itu ntuk duduk di ruang tamu. Ayu dan Nindya yang baru pertama kali datang ke tempat tinggal Nia yang baru merasa sedikit sungkan karena disitu juga tempat tinggal dosennya yang terkenal killer seantero kampus.


“Duduk sini bentar ya… gue mau nyusulin pak dosen bentar…” ucap Nia.


Ayu dan Nindya mengangguk kikuk.


Namun baru dua langkah, ia membalikkan badannya dan melihat kedua temannya itu masih berdiri tegang.


 “I.. iya Nia..” ucap Nindya yang seakan tersadar dari lamunannya.


Nia pun tersenyum saat melihat kedua temannya itu pun akhirnya duduk seraya menyusul suaminya ke ruang kerjanya.


Tok... tok.. tok...


Nia perlahan masuk ke ruang kerja Satya.


“Mas… Mas Satya….” Ucap Nia.


“Iya sayang…”


Nia pun mendekat lalu memeluk Satya, mengalungkan tangannya dari balik kursi kerja.


“Terimakasih ya mas… sudah mengijinkan bahkan mengundang mereka kesini.” Ucap Nia.


“Sama – sama sayang… kamu senang…??”


“Senang banget mas.. jujur belakangan ini aku memang sedikit bosan berada di apartemen terus…. Kehadiran mereka pasti akan sangat menyenangkan.”


“Eeeee… tapi jangan seneng dulu ya.. mas sengaja mengajak mereka kesini untuk meminjamimu materi dan tugas – tugas yang kamu lewatkan selama ini. Jadi kamu harus tetap belajar, mengejar ketertinggalanmu dan juga menyelesaikan tugasmu.” Ucap Satya tegas.


“Pak doseeeeennn….” Rengek Nia.


“Kamu keberatan, Nia…???” mode dosen On.


“Tidak pak…..” ucap Nia lirih.


“Lemes banget jawabnya, saya tidak dengar..” goda Satya.


“Tidak PAK…!!!” jawab Nia sedikit melantangkan suaranya.

__ADS_1


Satya pun tersenyum.


“Nah… ini baru istriku tersayang… Nyonya Satya Aryadika.” Ucapnya seraya mengecup singkat pipi Nia.


Nia pun kembali ke ruang tamu menemui Ayu yang Nindya yang masih tegang dan canggung.


“Gimana Nia…?? Pak Satya marah ya gue sama Ayu kesini…??” tanya Nindya.


“Enggak… bukannya malah Pak Satya yang minta kalian kesini ya….???” Tanya Nia.


“Eh, iya donk Ni… gue sama Ayu tuh penasaran kenapa loe beberapa hari ini gak ngampus. Gue telpon juga gak diangkat. Terus Ayu akhirnya memberanikan diri tanya ke suami loe… eh, Pak Satya maksud gue..”


“Dan Pak Satya bilang kalau loe kecelakaan Nia… kita kaget banget, kita minta ijin mau jenguk loe tapi gak dibolehin sama Pak Satya, katanya loe lagi butuh istirahat. Ee… tahu – tahu tadi pagi habis ngajar, dia minta kita berdua untuk jengukin loe. Sambil bawa tugas sih….” Terang Ayu.


“Iya itu… tetep ada udang di balik batu.. gue kira dengan gue ijin gak ngampus bisa terbebas dari tugas, eeee ujung – ujungnya tetap tugas yang nyamperin gue.” Keluh Nia.


Mereka pun sontak tertawa cekikikan. Namun seketika itu juga Nindya dan Ayu menutup mulutnya, menyadari bahwa kini mereka berada di kediaman Dosennya yang menjadi bahan pembicaraannya.


“Upppsss… resek loe Ni… masak loe ghibahin dosen sendiri, di rumahnya dia lagi…!!! Serem gue…” ucap Nindya.


Tawa Nia justru semakin keras…. Yang justru membuat Ayu dan Nindya semakin ketar – ketir.


“Kalian tegang amat sih gaes… santai aja…” ucap Nia.


“Santai…. Santai… loe mah enak bilangnya santai, kita berdua tetep ngeri tahu, ada Pak Dosen di ruangan itu tuh…!!” ucap Nindya menunjuk ruang kerja Satya.


“Eh tapi ya Ni…. Pak Satya kalau di rumah gitu ya…??” tanya Ayu.


“Gitu gimana, Ay…?” tanya Nia balik.


“Pak Satya….. sumpah ganteng banget Nia…. Apalagi pake kaos oblong kayak gitu… ya ampuuuun, melting gue Nia…….” Ucap Nindya seakan tahu kemana arah pertanyaan Ayu..


“Dasar loe…!!! Suami gue itu…!!” sergah Nia.


“Iya… iya… suami loe….” Sindir Nindya.


“Tapi kalau gak ngampus, dia dingin juga sih Ni…?? Jutek killer gitu gak sih…??” tanya Ayu.


“Ih, kalian itu ya… kepo abis…!!” kata Nia.


“Pengen tahu aja, Ni…. Kali aja seorang Pak Satya itu bisa perhatian, hangat, lembut gitu…” ucap Nindya.


 “Nah itu, loe dah paham…”Kata Nia.


“Seriusan Pak Satya bisa kayak gitu…?? Gak sekiller di kampus…??” tanya Nindya yang tidak percaya.


Nia mengangguk yakin.


“Ehm… ehm…”


Sontak ketiganya menoleh pada sumber suara.


“Pak Satya…” ucap Nindya dan Ayu menunduk sopan.


“Mas Satya… ada apa mas…??” tanya Nia yang menghampiri suaminya.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2