Kesempatan Kedua

Kesempatan Kedua
Menikah


__ADS_3

Aku dan Yoga sudah berada di dalam mobil menuju butik untuk mencoba gaun pernikahan. Butik itu juga merupakan salah satu bisnis keluarganya.


"Tanggal pernikahannya sudah ditentukan. Apa kamu menginginkan sesuatu yang kusus untuk pestanya?" tanya Yoga sambil mengemudi.


"Aku tidak begitu suka pesta. Kamu atur saja." jawabku.


"Bagaimana kalau kita adakan pesta di sebuah kapal pesiar?"


"Aku mabuk laut."


"Bagaimana kalau di pinggir pantai?" tanyanya lagi.


"Aku gampang masuk angin."


"Hahaha... kamu benar-benar menggemaskan sayaaaaang." ucap Yoga sambil meremas pipiku.


"Baiklah... kita adakan pesta di dalam hotel saja. Diadakan di hotel XX milik papamu tentu lebih baik"


"Iya, aku pikir papa pasti setuju."


Mobil telah berhenti di parkiran. Kami segera masuk menuju butik.


"Selamat siang, Pak Yoga." sapa seorang karyawati. "Gaun pengantinnya sudah siap, Pak. Loh, Bu Clara kok gak ikut?"


"Ada apa mencari Clara?" tanya Yoga.


"Ya untuk mencoba gaun penganntinnya, dong Pak... Masa Mbak ini yang mau nyoba." ucapnya.


"Iya, Mbak ini yang mau nyoba." ucap Yoga dengan memberi penekanan pada kata 'Mbak ini'.


"Sepertinya tubuh Bu Clara tidak setinggi Mbak ini, Pak... jadi kalo Mbak ini yang mencoba nanti gak cocok dengan ukuran Bu Clara."


"Namanya Tania, bukan Mbak ini." jelas Yoga.


"Iya Mbak Tania... meskipun tubuh Mbak Tania lebih tinggi dan langsing tapi ya gak cocok kalau harus menggantikan Bu Clara. Bu Clara kan wanita spesialnya Pak Yoga." lanjutnya.


"Ooo wanita spesial, ya?" tanyaku pada Yoga.


"Betul sekali, Bu Clara adalah wanita spesialnya Pak Yoga. Jadi Mbak Tania gak pantas kalau harus mencoba gaun pengantinnya." Pegawai itu makin berani bicara.


"Namamu Ani, ya." ucap Yoga sambil membaca nama di tanda pengenal pegawai.


"Iya, Pak." jawabnya sumringah penuh percaya diri.


"Mulai hari ini kamu pindah di bagian kebersihan. Lapor ke HRD segera." perintah Yoga.


"Tapi Pak, kenapa?" tanyanya tidak terima.


"Calon istriku bernama Tania. Ingat ya, Tania." jawabnya sambil merangkul pundakku.


Lalu kami pergi meninggalkan Ani yang tak bisa berkata-kata, hanya mampu menyesali perbuatannya. Maksud hati memenangkan hati bosnya, tapi malah merugikan diri sendiri.


Para karyawan yang sedari tadi memperhatikan hanya berani berbisik di belakang.


"Dia kan cuma gak tau, kenapa sampai kamu pindah posisi kerjanya?" tanyaku.


"Bersyukurlah dia gak kupecat." jawabnya sambil menggenggam tanganku.

__ADS_1


Kucoba beberapa gaun pengantin yang telah disiapkan. Aku bukanlah tipe orang pemilih, jadi tidak membutuhkan waktu lama untuk memutuskan gaun mana yang akan dipakai.


Setelah mencoba gaun, kami pergi makan di restoran yang tak jauh dari butik.


"Aku ke toilet sebentar, ya." kataku pada Yoga saat menunggu pesanan makanan kami datang.


"Mau diantar?" godanya.


"Dasar kamu."


***


"Kamu benar-benar bisa melupakanku?" tanya seseorang ketika aku keluar dari pintu toilet wanita.


"David? Mau apa kamu ke sini?" tanyaku balik.


"Tania.. apakah kamu akan menikahi laki-laki itu? Kamu tidak akan bahagia dengannya."


"Bagaimana kamu tau?" Alisku berkerut.


"Karena kamu tak mencintainya." jawab David penuh percaya diri. "Akulah orang yang kamu cintai."


"Setelah semua yang kamu lakukan padaku? Mimpi kamu!" ucapku sambil pergi meninggalkannya.


David menarik tanganku yang membuat aku menghentikan langkah.


"Jujurlah kalau kamu tidak bisa melupakanku."


"Aku sudah lama melupakanmu. Lepaskan!" Kuhempaskan tangan dan pergi meninggalkannya.


"Aku tau kamu sangat mencintaiku." ucap Dadid di belakangku.


"Kok lama?" tanya Yoga yang duduk di kursinya dengan hidangan yang telah tersaji.


"Baru ditinggal lima menit aja uda bilang lama." candaku.


"Hahaha.. ayo cepat makan, keburu dingin."


***


"Kamu cantik sekali." bisik Yoga.


Dapat kurasakan pipiku panas karena hembusan nafasnya yang mengenai telingaku.


Kami menyelinap pergi di tengah pesta pernikahan. Aku merasa bosan karena tidak ada seorang teman pun diantara para undangan yang datang. Selama ini Tania memang jarang bergaul, jadi ya wajar bila tak memiliki teman.


Saat ini kami berada di sebuah villa milik Yoga yang berada di tepi pantai.


"Istriku sayang, sekarang kita di sini hanya berdua. Apa yang akan kita lakukan?" godanya.


"Aku mau ganti baju dulu, gaun ini berat." jawabku mengalihkan perhatian.


"Mau kubantu?" godanya lagi.


"Enggak." Segera aku menuju kamar mandi untuk mengganti pakaian.


Sebetulnya kami tidak ada rencana untuk mengunjungi villa ini. Jadi aku pun tak membawa pakaian. Tapi sebelum sampai ke sini, Yoga sempat menelpon asistennya untuk menyiapkan baju ganti untuk kami.

__ADS_1


Kupakai baju yang telah disiapkan. Tapi yang kupakai bukanlah baju, lebih tepatnya adalah lingeri. Ini terlalu sexi dengan potongan dada rendah tanpa lengan, membuat payudaraku menyembul. Bahannya yang sedikit transparan memperlihatkan lekuk tubuhku dengan jelas.


"Yoga, apa gak ada baju lain?" tanyaku dari dalam kamar mandi.


"Besok pagi sekertarisku kemari membawakan baju ganti." jawabnya.


Yoga pasti sengaja. Kutarik napas dalam-dalam, aku malu berpenampilan seperti ini. Tapi bagaimana pun juga sekarang dia adalah suamiku.


"Tok-tok-tok." Yoga mengetuk pintu kamar mandi. "Sayang, lama sekali ganti bajunya."


Kubuka pintu perlahan dan mendapati Yoga berada di depan pintu.


"Wow, istriku luar biasa." Dia memandangiku dari atas ke bawah.


"Sengaja, ya?" tanyaku sambil manyun.


"Kamu cantik."


Yoga menciumku lembut, merapatkanku ke dinding. Aku tak bisa menolak ciuman suamiku.


Bibirnya turun ke leherku dan sukses membuat aku menggeliat kegelian. Tangannya merengkuh pinggulku, merapatkan ke tubuhnya.


"Yoga..." desahku.


"Kita ke ranjang ya..."


"Aku sedang datang bulan." kataku menatap matanya.


Dia terpaku, "Sekarang?" tanyanya tak percaya.


"Iya barusan dan di sini gak ada pembalut." ucapku sambil melirik ke arah pintu.


"Kamu tunggu di sini ya, aku akan keluar membelikannya. Tapi aku mau menciummu lagi."


Yoga mengulum bibirku lembut, cukup lama hingga nafasku tersengal.


"Aku akan sabar sampai tamunya pulang." gerutunya.


Aku tak bisa menahan tawa melihat ekspresi lucunya. Tak ada malam pertama di hari pernikahan kami karena tamu tak diundang.


Malam ini kami habiskan dengan tidur berpelukan. Lebih tepatnya Yoga yang memelukku. Aku hanya diam mematung karena nervous melanda.


***


Kuraih gawai yang tergelatak di atas nakas. Kulihat beberapa pesan WA dari papa yang menanyakan keadaanku. Hari sudah pagi. Laki-laki yang berada di sampingku masih tertidur nyenyak.


Kupandangi wajahnya tampannya. Bibirnya tersenyum dalam tidur. Bibir yang telah menciumku semalam. Ah, pipiku memanas mengingat kejadian itu.


"Sudah puas liatnya?" tanyanya mengejutkanku.


"Siapa yang ngeliatin. Aku mau mandi tapi baju gantinya belum ada."


Yoga mencari-cari gawainya di bawah bantal.


"Bajunya uda di antar, ada di ruang tamu." kata Yoga setelah melihat layar gawainya.


"Cepet banget." Tangkas juga sekertarisnya mengerjakan sesuatu.

__ADS_1


Yoga beranjak keluar kamar mengambil pakaian. Aku pun segera pergi mandi.


__ADS_2