Kesempatan Kedua

Kesempatan Kedua
Gagalnya Rencana Bulan Madu


__ADS_3

"Kenapa kalian tidak pernah mengunjungiku? Kemarin mama ke sini, tapi kalian tidak ada." kata mama marah.


Mungkin mama datang saat kami pergi kota M. Hari ini tiba-tiba mama berkunjung saat kami sedang sarapan.


"Maaf ma, Yoga sibuk banget akhir-akhir ini. Kemarin kita ke rumah sakit menjenguk teman." ucap Yoga.


"Kamu itu pengantin baru kok masih kerja aja. Libur dulu, kalian pergi bulan madu."


"Kemarin memang ada urusan mendesak yang gak bisa diwakilkan, Ma." Yoga masih berusaha meredakan amarah mama.


Bekerja hanyalah alasan Yoga. Aku tau saat itu dia menyelidiki keberadaan Bella.


"Pokoknya kalian pergilah bulan madu." perintah mama.


"Iya ma... Besok kita berangkat." ucap Yoga sambil tersenyum menggoda padaku.


"Besok?" tanyaku tak percaya.


"Iya lebih cepat lebih baik." dukung mama. “Apa perlu mama yang ngurus bulan madu kalian?”


“Gak perlu, Ma... Yoga bisa urus semuanya.” Jawab Yoga.


“Mama kan mau segera punya cucu.” ucap mama.


Aku tersipu malu mendengar ucapan mama. Sedangkan Yoga malah tertawa senang.


Sepulangnya mama, Yoga mulai sibuk dengan laptopnya. Aku hanya berbaring santai di atas sofa, memainkan gawai.


"Sayang, kamu pilih mau ke Itali, Paris, atau Jepang?" tanyanya beberapa saat kemudian.


Kulihat matanya yang sedang menatapku. Dia berdiri di samping sofa.

__ADS_1


"Aku belum pernah ke Paris." jawabku.


"Jadi kita ke Paris saja?" tanyanya sambil mendekatkan wajahnya ke hidungku.


"Boleh." jawabku.


Yoga menempelkan hidungnya dengan hidungku.


"Ini masih pagi." ucapku.


"Posisimu membuatku bergairah."


Aku tertawa pelan, "sayang, ayo kita belanja saja." kataku mengalihkan perhatiannya.


"Iya nanti." jawabnya lalu mengulum bibirku.


Aku berusaha menghindar, tapi gagal. Ciumannya justru membuatku ikut bergairah.


Yoga menggandengku menuju kamar. Anggap saja ini pengganti olah raga pagi yang menyenangkan.


***


Kami pergi ke pusat perbelanjaan kota untuk menyiapkan beberapa keperluan untuk besok. Dua buah tiket pesawat dan sebuah kamar di hotel pilihan Yoga sudah dipesan.


"Di Paris sedang musim semi, kamu pasti suka." Yoga bercerita sambil mendorong troli belanja.


Raut bahagia tersirat di wajahnya yang tampan. Kugandeng tangannya mesra.


"Pak Yoga." sapa seorang laki-laki yang wajahnya tak asing bagiku.


"Pak Willy." Yoga membalas sapaannya. Mereka berjabat tangan.

__ADS_1


"Belanja sama istri, ya Pak?" tanyanya kemudian.


"Iya, Pak." jawab Yoga tersenyum.


"Aku gak enak badan. Ayo pulang." bisikku pada Yoga.


"Kami pergi dulu ya, Pak Willy." pamit suamiku dengan cepat.


"Baik, Pak. Sampai jumpa besok saat rapat." jawabnya.


Kami berjalan menjauh, ke tempat yang lebih sepi.


"Kamu gak papa, sayang? Apanya yang sakit? Ayo cepat pulang." kata Yoga khawatir.


"Aku gak papa. Apa dia rekan kerjamu?" tanyaku.


"Kami akan bekerja sama untuk sebuah proyek. Apa kamu mengenalnya?" tanya Yoga.


"Dia Willy, anak pamanku."


"Pamanmu yang -- bagaimana bisa aku tak mengenalinya?!" Yoga berkata dengan memendam amarah.


"Maafkan aku sayang..." ucap Yoga sambil memegang tanganku.


"Jangan meminta maaf, kamu gak salah. Aku justru harus berterimakasih padamu, tak kusangka kesempatan ini akan datang begitu cepat."


Yoga memandangku dan tersenyum, "aku akan selalu mendukungmu."


"Kita lanjutkan belanjanya, sayang... Kamu tak perlu mengkhawatirkannya. Tapi acara bulan madu kita harus tertunda. Gak papa kan, sayang?"


"Aku mengerti."

__ADS_1


Rencana bulan madu kami gagal. Awalnya Yoga tidak akan hadir dalam pertemuan rapat besok, tapi kini keadaan telah berubah. Yoga mau menghandle sendiri jalannya rapat besok.


__ADS_2