
Niko mendekati Nia. Mengambil lap dan piring kotor yang berada di tangan Nia. Menaruhnya ke
sembarang tempat.
Perlahan Niko duduk semakin mendekat ke arah Nia. memegang kedua bahu Nia. kemudian beralih turun, mengenggam kedua tangan Nia.
Menatap dalam manik mata Nia. Niko masih membisu, sedangkan Nia juga masih terdiam menunggu apa yang ingin dikatakan oleh Niko.
Malam semakin beranjak larut. Nia dan Niko masih terdiam dalam kebisuan masing-masing.
Perlahan Niko membuka suaranya,
“Mari kita bertunangan!"
Nia terbelalak kaget. Walaupun ia tahu mereka di jodohkan, tetap saja Nia tak percaya apa yang barusan Niko katakan. Ia mengangkat wajahnya mencari pembenaran dalam sorot mata Niko.
“Mari kita terima perjodohan ini,Nia...”
Nia bergeming, entah apa yang kini harus ia katakan.
“Cobalah liat gue yang ada disini Nia, selalu ada di depan loe, ada buat loe.”
“Tapi Nik, gue....”
“Gue tahu cinta loe bukan buat gue. Gue gak maksa loe untuk cinta sama gue, asalkan loe sama gue itu udah cukup.” Sahut Niko cepat.
“Nik, tapi ini bahkan...”
“Gue sayang sama loe Nia. tulus dari dalam hati gue. Dan itu satu-satunya alasan gue terima perjodohan ini.”
Nia tertunduk, airmatanya mengalir membasahi pipinya. Semakin lama semakin tak terbendung.
Nia merasakan tangan Niko menyentuh pipinya. Menuntunnya menatap Niko.
“Hei...hei... jangan menangis Nia... gue paling gak bisa liat loe nangis gini."
Nia tak mampu berkata-kata, hanya suara tangis yang mampu keluar dari dirinya.
“Gue sayang sama loe Nia, Gue janji gue akan membuat loe bahagia.” Niko sedikit menunduk menatap Nia lebih dekat. Tangannya menyapu pipi Nia menyudahi airmata Nia yang terus saja mengalir.
Nia semakin terisak, suara pilu yang menyayat hati. Sebegitunya takdir mengajaknya bercanda. Menghadirkan Niko yang begitu baik padanya, pria yang sempurna untuk menjadi pasangan hidup.
Namun Nia juga tidak bisa memungkiri, bahwa hatinya sudah terjatuh terlalu dalam. Melangkah jauh meninggalkan logikanya,hingga tersesat untuk pulang. Hanya satu nama yang ia tahu, Satya.
Niko merengkuh bahu Nia, merangkulnya ke dalam dadanya yang bidang. mencoba memberikan kehangatan pada hati Nia yang dingin kepadanya. Memberikan kekuatan pada Nia untuk terus melangkah ke depan. menapaki jalan yang telah diatur, menelusuri setiap jengkal rasa yang mungkin ada untuk dirinya.
__ADS_1
Lama Nia terisak dalam pelukan Niko. Niko membiarkan Nia menumpahkan segala emosi dihatinya. Walau dalam kenyataannya, hatinya pun teriris pedih, begitu dalamnya cinta Nia pada Satya.
Niko pun menyadari hal itu, namun ia mencoba menutup mata hatinya, untuk sekali ini saja, ia ingin bertindak sedikit egois. Membiarkan takdir berada di pihaknya. Toh, ia berjuang demi cinta dan kebahagiaannya.
Nia membenarkan kembali posisi duduknya, mengatur nafas, menatap Niko dalam.
“Gue masih perlu waktu Nik, loe udah janji ngasih gue waktu satu bulan.”
Setelah mempertimbangkannya, walau dengan berat hati, Niko pun menganggukkan kepalanya. Ia juga tidak ingin memaksakan kehendaknya. Ia masih ingin memberi Nia waktu, seperti janjinya dulu.
“Masuk danistitahatlah. Biar gue yang beresin ini semua.” Perintah Niko pada Nia yang sudah terlihat sembab.
Nia menganggukan kepalanya, kemudian berangsur masuk ke dalam kamarnya.
Niko kembali duduk, memandangi langit yang begitu indah dengan jutaan bintang, dalam kesendiriannya.
“Apakah gue terlalu egois??” gumamnya mengadu pada bintang diatas sana.
*****
Seperti rencana kemarin, pagi ini Nia dan keempat sahabatnya berkuda mengelilingi villa. Merasakan sejuknya udara pagi hari sebelum akhirnya kembali ke rutinitas kuliah dan magang yang membuat penat hari – hari mereka.
Ayu,Nindya dan Kevin menaiki kudanya masing-masing. Nia yang agak kesusahan untuk naik karena kakinya yang masih sedikit nyeri, dibantu oleh Niko.
Nia yang sudah berhasil duduk diatas kuda, melirik Niko yang juga bersiap akan menaiki kuda yang sama.
“Naik juga lah...”
“Buat apa...?? kuda loe disebelah sono noh...”
“Jagain loe lah Nia, kaki loe masih sakit gini.”
“Gue bisa sendiri Nik, gue gakpapa. Ada bapak pawangnya juga.” Nia menunjuk pawang kuda yang sejak tadi memegangi kuda yang di naiki Nia.
“Tapi kaki loe,Ni...”
“Niko, gue gakpapa.” Pungkas Nia dengan penuh penekanan.
Niko pun akhirnya mengalah lalu menaiki kudanya sendiri yang tadi disewanya.
Mereka pun mulai mengelilingi daerah sekitar villa. Niko paling depan, disusul Nia, lalu Ayu dan Nindya berjejer di belakangnya. Sedangkan Kevin bak bodyguard di paling ujung belakang.
Mereka semua larut dalam kesejukan dan keindahan yang disuguhkan oleh alam disana. Pemandangan yang masih benar – benar asri. Udara yang masih suci belum terkontaminasi polusi. Membuat suasana hati mereka benar – benar membaik.
Mereka melintasi perkebunan teh disisi kanan, tampak beberapa pemetik teh dengan riang gembira melakukan pekerjaan mereka.
__ADS_1
Ladang bunga yang sedang bermekaran di sisi lainnya, mengeluarkan semerbak aroma yang memanjakan indra penciuman mereka. Setiap kelopak yang merekah, mengagungkan kebesaranNya yang tidak dapat dipungkiri oleh siapapun. Sungguh indah pemilik semesta melukiskan pesona kedamaian.
“Eh, Ay... loe ngerasa gak sih kalau perhatian Niko belakangan over gitu ke Nia...??” tanya Nindya yang berjejer mengikuti Ayu.
“Niko kan gitu emang dari dulu ama Nia, lagian loe gak denger kemarin Niko bilang apa, kalau Nia
kenapa – napa dia bisa di gorok ama nyokapnya Nia, ya karena ortunya Nia uda nitipin Nia ama Niko.” Jelas Ayu panjang lebar.
“Iya sih. Tapi gue ngerasa beda aja kali ini.” Kilah Nindya yang masih keukeuh dengan asumsinya.
“Perasaan loe doank kali.” Sanggah Ayu.
Nindya manggut-manggut meresapi tiap perkataan Ayu.
Kevin yang ada dibelakang mereka tiba-tiba menyalip mereka berdua.
“Loe mau tahu alasan logis kenapa sikap Niko gitu...??? itu karena dia gak mau calon tunangannya kenapa-napa.”
Ayu dan Nindya terperangah kaget mendengar penuturan Kevin tiba-tiba. Terdiam sesaat mencerna arti perkataan Kevin.
“Calon tunangan??” gumam mereka bersamaan.
Ekpresi kaget jelas tercetak di wajah keduanya. Dengan mata terbelalak dan mulur terbuka!!! sungguh suatu kejutan besar di pagi hari yang damai.
.
.
.
.
.
.
.
Hai Readers, ini adalah karya pertama Author, mohon maaf jika masih agak kaku ya.
Jangan lupa like dan koment, supaya Author lebih bersemangat lagi dalam berkarya.
Terimakasih.
.
__ADS_1
.