
BACANYA HABIS BUKA PUASA SAJA YA....!!!
Gerakan nan lembut itu semakin lama semakin dalam dan menuntut. Diiringi dengan semilir angin dingin khas pegunungan dan sapuan hangat air kolam, membangkitkan semangat Satya dan membuat gerakannya semakin liar.
Nia memejamkan matanya menikmati alur permainan Satya. Sesekali juga ia membalas tiap sapuan lembut Satya. Bermain mengabsen setiap rongga.. saling berlilit, mencecapi satu sama lain.
“Kamu sudah semakin lihai sekarang…” ucap Satya melepaskan pagutannya.
“Dosenku mengajariku dengan lihai, mas” balas Nia.
Satya hanya tersenyum dan kembali memagut yang tertampang jelas di depan matanya.
Satya mendorong tubuh Nia tanpa melepas pagutannya, membuat Nia bersender pada sisi kolam renang. Mengungkungnya agar tak bisa bergerak.
Mereka pun kembali melanjutkan serangan – serangan liaarr yang semakin lama berubah menjadi semakin ganas.
Menuruni dadaa Nia yang entah sejak kapan tangan Satya pun juga sudah bergerilya di daerah sana.
Nia menggigit bibirnya kuat, menahan gejolakk yang merambat hingga ke ujung kepala.
“Sudah ku bilang jangan menahannya… lepaskanlaaah…” kata Satya.
Satya mengangkat tubuh Nia dari dalam air. Menggendongnya menuju ke ranjang king size mereka, meninggalkan pakaian yang telah terlepas dari pemiliknya mengambang di kolam.
Perlahan Satya menidurkan Nia dibawah kungkungannya. Menatap Nia dengan tatapan yang telah berkabut.
Nia tersipu malu sembari menutupi tubuhnya yang hanya berbalut pakaian dalamm saja dengan kedua tangannnya.
Tangan kanan, lalu tangan kiri… perlahan Satya menguraikan tangan Nia dan menggenggamnya erat.
“Tidak perlu malu sayang…” ucap Satya yang kemudian mencecapi setiap jengkal tubuh Nia.
Mengabsen setiap senti leher Nia, meninggalkan jejak – jejak kepemilikan disana. Menuruni dan berjelajah diantara kedua dadaa Nia.
Nia merasakan getaran hebat yang tak pernah ia rasakan sebelumnya. Hingga tanpa tersadar suaranya merdunya pun ikut bersenandung. Semakin membuat Satya bertambah semangat melancarkan aksinya.
Satya mengikis jarak diantara mereka, merapatkan tubuh keduanya.
“Akan sakit diawalnya, bertahanlah sebentar saja. Aku akan melakukannya dengan lembut.” Ucap Satya
Nia mengangguk penuh damba. Karena ia pun sudah penuh harap walau sedikit merasa takut.
Perlahan dan perlahan Satya semakin merapatkan tubuhnya, dikecupnya dahi Nia dengan penuh kelembutan.
Dengan menutup matanya dan mencengkeram bahu suaminya, Nia merasakan sesuatu memasukii bagian tubuhnya.
Cengkeraman yang kuat di bahu Satya menyiratkan sakit dan perih yang ia rasakan.
Satya tetap bergerak lembut. Hingga sedikit demi sedikit Nia mulai rileks dan nyaman mengikuti alur permainan Satya. Keringat dan peluh membanjiri tubuh mereka berbaur dengan tubuh yang telah basah kuyup.
Begitulah kegiatan after lunch mereka hingga keduanya mencapai kepuasan dan kenikmataan bersama.
Satya merengkuh Nia yang tertidur pulas disampingnya, dan ikut memejamkan mata bersamanya.
Walau hanya berbalut selimut, keduanya tampak pulas tertidur setelah pertarungan yang melelahkan dan baru terbangun ketika hari menjelang malam.
“Hai,… Nyonya Satya Aryadika….” Ucap Satya pertama kali saat Nia terbangun.
Nia yang tersipu malu menyembunyikan wajahnya di balik selimut.
Namun ia justru semakin terkejut saat mendapati tubuhnya dan tubuh Satya yang tak terbungkus apapun.
__ADS_1
Satya mengikutinya masuk ke dalam selimut.
“Kenapa kamu menikmati pemandangan yang indah sendirian…?? Mau menikmatinya bersama lagi…??” goda Satya.
“Mas…”
Nia yang sudah terlanjur malu, membalikkan tubuhnya membelakangi Satya.
Tidak menyia - nyiakan kesempatan, Satya pun merapatkan diri, memeluk Nia dari belakang.
“Kenapa sayang, kamu tidak perlu malu lagi. Aku suamimu, bukan…?? Ini sudah sewajarnya hal yang dilakukan suami istri.” Ucap Satya yang menciumi tengkuk Nia.
Entah kenapa ia tidak bisa lagi membendung hasraatnya jika melihat sedikit saja bagian tubuh Nia yang dianggapnya menggoda imannya.
Nia meremang saat Satya kembali melancarkan aksinya di leher Nia. Perlakuan Satya yang lembut membuat Nia dengan mudahnya kembali terbang ke atas awan.
Satya terus melancarkan aksinya bermain – main di sana hingga pada akhirnya mereka berdua kembali
bermandikan peluh dan keringat.
Kini dengan berani Nia berada diatas tubuh Satya. suaminya itu bukan hanya pintar mengajarinya sebagai dosen kampus, namun juga dengan telaten menjadi dosennya di ranjang. Dengan bimbingan dari Satya, dalam waktu singkat Nia dengan piawainya membawa mereka berdua kembali menikmati puncak kebahagiaan bersama hingga terkulai lemas.
“Aku siapkan air panas ya sayang, lalu kita turun mencari makan malam.” Ucap Satya yang tersenyum gembira karena sudah berhasil bermain dalam beberapa ronde.
Nia hanya mengangguk dan kemudian mencoba berdiri untuk mandi.
Namun baru saja ia menggeser sedikit tubuhnya, ia sudah merintih kesakitan.
“Auuuwww…”
“Kenapa sayang…?? Terasa sakit ya…??” ucap Satya.
Nia mengangguk lemah. Memang bagian seensitifnya terasa begitu perih dan seakan membengkak.
“Air hangatnya sudah siap sayang, berendamlah sebentar. Aku akan memesan makan malam, kita makan malam dikamar saja ya…!”
“Iya mas… terimakasih.”
Satya pun menggendong Nia dan menurunkan Nia perlahan di dalam bath up.
Hampir satu jam lamanya Nia memanjakan tubuhnya di dalam bath up. Lalu keluar dari kamar mandi dengan langkah yang perlahan.
“Sudah mendingan sayang,…??” ucap Satya yang langsung memapah Nia untuk duduk di sofa.
“Lumayan mas…”
“Makan malam sudah siap.. makanlah terlebih dahulu… mas mau mandi sebentar..” Kata Satya.
Nia menggeleng,” aku nungguin mas Satya aja. Kita makan malam bersama – sama.” Balas Nia.
“Oke, kalau begitu tunggu sebentar, mas tidak akan lama.”
Setelah menunggu Satya mandi tak kurang dari 15 menit, mereka berdua pun makan malam dengan lahap bersama. Sepertinya tenaga mereka benar – benar habis hingga dalam sekejap saja semua makanan yang dipesan sudah berpindah tempat ke perut mereka.
Selesai makan malam keduanya bersantai di balkon kamar menikmati semilir angin malam pegunungan yang dingin.
Dengan saling berpelukan dibawah selimut dan di temani secangkir teh panas, keduanya dengan mesra menikmati temaram bintang yang menenangkan sanubari.
“Dulu aku tidak suka melihat bintang, Karena ia begitu manipulatif. Namun siapa sangka saat ini aku sangat menikmati moment ini, melihat bintang bersamamu, mas…” kata Nia.
“Manipulatif…??” tanya Satya yang tidak paham maksud Nia.
__ADS_1
Nia mengangguk.
“Lihat lah bintang - bintangitu mas.. ia terasa dekat seakan kita bisa menggapainya. Namun ternyata ia begitu jauh bukan...?? Kita tidak akan bisa menyentuh apalagi memilikinya. Menggapainya hanyalah harapan kosong bagi kita.” Kata Nia.
“Tapi tidak ada yang tidak mungkin kan, Sayang…? Karena kini aku yang akan membawa cahaya bintang itu kedalam kehidupan mu, kehidupan kita.” Ucap Satya.
“Aku tidak bisa berjanji akan selalu membuatmu bahagia. Namun aku bisa memastikan akan selalu bersamamu dalam suka dan duka. Mencintaimu, menua bersamamu dan selalu menjadi cahaya untuk hatimu, hingga kelak Dia yang memisahkan kita.” Imbuh Satya.
Nia menatap Satya haru, betapa tidak, lelaki yang ia cintai, yang selama ini bagaikan gambaran klise dalam kehidupannya ternyata juga begitu mencintainya.
“Terimakasih mas Satya.”
Satya mengecup kening Nia dengan lembut dan lama seakan semua doa untuk kehidupan mereka tercurah disana, dan Nia mengamini dalam hati.
“Ayo kita masuk, malam sudah semakin larut.” Ajak Satya.
“Ayo mas…”
Nia sedang membenahi posisi tidurnya saat Satya dengan perlahan namun pasti kembali menciumi tengkuk Nia.
“Mas…” kilah Nia.
“Ada apa sayang…?? Terlalu sore jika kita tidur sekarang, bukan…???” ucap Satya.
“Mas Satya lupa, lusa aku ada ujian… aku takut besok tidak bisa berjalan jika seperti ini dan aku gak ikut ujian deh… mas Satya mau aku gak ikut ujian…??”
“Ya, enggak donk sayang…”
“Nah, maka dari itu. Biarkan malam ini Nia tidur dengan nyenyak, biar besok bisa fit dan lusanya bisa ikut ujian dengan tenang.”
“Oke, kalau begitu sampai kapan…??”
“Sampai ujian berakhir mas…”
“Haa….!!!! Satu minggu…?? Masak mas harus puasa lagi satu minggu sih sayang… kan kemarin sudah puasa satu minggu…” kata Satya memelas.
Nia menggeleng,” Sampai ujian berakhir mas….!!”
“Oke, kalau begitu satu ronde saja malam ini, sebelum aku berpuasa lagi satu minggu. Dan kamu tidak bisa menolaknya…” ujat Satya yang langsung menindih tubuh Nia dan menciuminya.
"Mas...!!" pekik Nia yang tidak bisa menghindar dari Satya.
Dan begitulah mereka melewati malam yang panjang dan panas, bermandikan peluh dan keringat, lagi dan lagi..!!
.
.
.
.
Hai reader setiaku, mohon maaf jika part ini kurang panas yang... Author masih ragu - ragu untuk menulis yang panas - panas. Takut susah lulus review seperti bab sebelumnya.
Terimakasih untuk reader setiaku yang selalu support Author dengan like dan komentar - komentarnya. Hal itu sangat berarti bagi Author yang masih pemula ini.
Apalah arti Author tanpa kalian semua. Big hug untuk kalian semua guys... terimakasih...
.
.
__ADS_1
.