
"Lis, Laura sudah pulang?" Tanya Radit terdengar cemas.
"Belum, ada apa?" Tanya Lisa.
"Aku mencoba menghubungi ponselnya tidak aktif. Tadi siang dia bilang mau ke Panti asuhan, sambil menengok Sekolah. Aku coba hubungi Panti dan sekolah, katanya Laura tidak ke sana."
"Sungguh?" Lisa juga mulai cemas.
"Aku coba tanya Madam Lulu dan orang agensi dan Yayasan ya, siapa tau dengan mereka."
"Kabari lagi ya."
"Oke."
Lisa segera menghubungi Madam Lulu, Mas Andre, Anita, dan beberapa orang yayasan yang dia kenal, menanyakan Laura. Namun, semua kompak tidak tahu. Lisa mulai cemas dan mencoba menghubungi Laura sendiri.
Ternyata hasilnya sama saja.
Laura pergi dari pagi, lalu ia menuju ke panti asuhan dan sekolah. Harusnya dia sudah kembali. Lisa juga mencoba mengingat apakah Laura punya masalah.
Seingatnya tidak ada. Bahkan setelah menerima lamaran Radit, Laura tak pernah lagi membahas Ben.
"Ya, Ben! Coba aku hubungi dia, siapa tau dia tahu atau melihat Laura. Lalu Dirga." Gumam Lisa.
Ia mencoba menghubungi Dirga, tapi ternyata dia sedang berada di Semarang, menemui Alma.
Lisa berdoa semoga Laura baik baik saja. Ia tidak mau membayangkan hal buruk terjadi lagi pada sahabatnya itu.
Ia memejamkan mata dan menghela napas panjang. Ia mencoba menghubungi Ben.
"Ya, ada apa Lisa?" Tanya Ben.
"Ben, apa kamu bertemu dengan Laura?"
"Tidak. Ada apa?"
"Dia belum pulang. Dia berangkat kerja tadi pagi, lalu jadwalnya harusnya ke panti asuhan dan sekolah Yayasan Madam Lulu. Tapi, Radit bertanya ke sana, Laura tidak ke sana. Lalu malam ini dia belum kembali. Aku mencoba menghubungi, tidak aktif ponselnya." Lisa terdengar cemas.
"Oke. Kamu tenang dulu. Aku akan coba bantu."
Malam menunjukkan pukul sepuluh, namun Lisa sama sekali hanya mondar mandir menatap ponselnya, sambil memantau perkembangan pencarian Laura.
Hatinya tak tenang. Seolah merasa sesuatu yang buruk menimpa sahabatnya itu. Lisa mencoba menepis semua firasat buruk itu.
Akhirnya ia menatap daftar nama pada ponselnya. Ia menemukan nama seorang Polisi yang menyelidiki kasus kecelakaan Gwen dahulu.
Iseng dia menghubunginya.
"Selamat malam, Mbak Lisa. Ada yang bisa dibantu?" Tanyanya.
"Selamat malam, Pak. Saya mau minta tolong, teman saya hilang. Jika melapor resmi harus 1x24 jam hilangnya. Tapi saya khawatir, jika terjadi apa apa dengan sahabat saya ini. Dia memakai mobil dengan nomor polisi B 1xxx RG, warna hitam. Minta tolong jika ada info tentang mobilnya atau teman saya."
"Baik, saya akan segera mencari informasi dengan teman di lapangan. Nanti saya info kembali."
"Baik, Pak. Terima kasih." Jawab Lisa.
***
Radit segera menghubungi Pamannya, dan menceritakan pertemuannya dengan Frea. Pamannya sangat terkejut, setelah belasan tahun menyelidiki Ivan dan hasilnya nihil, kini putrinya kembali ke Indonesia.
Pamannya segera melaporkan pada polisi tentang semua kasus yang bersangkutan dengan Ivan. Terlebih kasus kecelakaan yang sengaja dibuat Ivan pada Kakaknya, yang belum terpecahkan karena minus bukti.
Kini, kekasih keponakannya menghilang, sejak kemunculan Frea, putri Ivan.
__ADS_1
Radit juga meminta anak buahnya dan beberapa teman jalanannya untuk menyelidiki Frea.
Karena selama di Indonesia, Frea mencari uang dengan menjadi model majalah dewasa, dengan mudah teman teman jalanan dan anak buah Radit menemukan tempat tinggalnya selama ini.
"Jadi, katakan, di mana Laura?" Tanya Radit dengan keras.
"Aku tidak tahu. Kamu lihat sendiri aku sibuk dengan pekerjaanmu selama beberapa hari ini. Oh.. apakah dia telah meninggalkanmu, dan mengkhianatimu?" Sindir Frea.
"Kamu kini mendapat perhatianku. Sekarang katakan di mana dia?"
"Aku tidak tahu!" Tegas Frea.
Radit memberi isyarat untuk mencari berbagai bukti di apartemen Frea.
"Silahkan bongkar sepuasnya. Kekasihmu itu tak ada di sini." Teriak Frea dengan sinis, dengan penuh kemenangan.
Radit menatap tas Tangan Frea, ia mendengar ada suara getaran ponsel di dalam tas itu.
Dengan sekali rebut, kini tas itu ada di tangan Radit. Ia memeriksa pesan di ponsel Frea.
Beberapa pesan bertulis 'sudah selesai' dan sejumlah bukti transfer ke seseorang.
****
Ben menyusuri jalanan menuju Panti asuhan malam itu juga, bersama seorang temannya, yang juga seorang polisi.
Menjelang subuh, Ben dan temannya bertemu dengan mobil patroli, yang menyelidiki, tadi ada pengguna jalan yang mengatakan, bahwa ada mobil yang jatuh ke jurang dan meledak.
Mereka menuju lokasi dan melihatnya, ternyata benar ada mobil terbakar di jurang.
Polisi segera memanggil bantuan untuk menyelidiki dan menyelamatkan, jika ada korban.
Ben menunggu proses evakuasi mobil dan korbannya.
Radit segera menyusul ke lokasi. Sebelumnya, ia segera menghubungi polisi untuk menahan Frea, karena menemukan bukti, bahwa perempuan itu juga terlibat.
Beberapa hari kemudian, Ivan berhasil di tangkap karena merupakan jaringan narkoba. Betapa marahnya Ivan pada putrinya, gara gara Frea, ia ditangkap oleh polisi Indonesia.
****
Gwen menatap lapangan yang sangat hijau. Ia berjalan terus mengikuti jalan setapak pada lapangan itu. Hingga ia melihat sosok yang ia kenal sebelumnya.
"Apa aku sudah mati?" Tanyanya. Sosok itu adalah malaikat yang dahulu pernah ia temui.
"Kamu lagi, kamu lagi." Dia menggeleng kepalanya.
"Ya, apakah kali ini aku akan masuk ke surga? Aku janji tak akan memencet apapun, dan menuruti semua instruksimu."
Sosok itu kemudian menjauh dan menghilang.
Gwen terus berlari mengejar sosok itu. Ia melanjutkan langkahnya mengikuti ke arah malaikat itu tadi menjauh.
Di kejauhan, Laura berdiri dan tersenyum pada Gwen.
"Hai, Laura, tunggu!" Panggil Gwen.
"Kamu sedang apa di sini?" Tanya Laura.
"Aku sudah mati."
"Belum. Kembalilah!" Jawab Laura.
Tiba tiba ia menghilang.
__ADS_1
Gwen terdiam dan menatap sekelilingnya yang terlihat hanya padang rumput yang luas, tak terbatas.
Ia terus berjalan meski tak tahu tujuannya kemana, tubuhnya seakan ringan, melayang-layang bagai kapas. Ia merasa sangat bahagia.
****
Tubuh Laura ditemukan siang, esok hari. Ditemukan oleh petani yang hendak ke ladang, ia menemukan tubuh Laura yang bersimbah darah, penuh luka. Petani itu mengira itu adalah mayat korban kecelakaan, yang terjadi semalam.
Saat beberapa warga tiba, bersama tenaga medis dan polisi yang masih menyusuri lokasi mencari tubuh Laura. Akhirnya memeriksanya. Masih ada denyut nadi, namun sangat lemah.
Tenaga medis segera memberi pertolongan pada Laura dan membawanya segera ke rumah sakit.
Seminggu sudah berlalu, Laura masih terbaring koma di ranjang rumah sakit. Tubuhnya terhubung dengan infus dan peralatan medis lain. Ibu dan Dewa pun datang ke Jakarta untuk menjaga Laura.
Radit setiap hari menunggunya, setiap malam menemani Laura dan menunggunya.
Keluarga dan sahabat berkumpul dan berdoa untuk kesembuhan Laura, supaya dia kembali lagi.
Lisa sangat sedih melihat keadaan Laura, ia menceritakan semuanya pada Ben, saat mereka mengunjungi makam Gwen. Lisa menceritakan bahwa setelah kecelakaan itu, jiwa Gwen masuk dalam tubuh Laura.
Betapa terkejutnya, Ben mendengar semuanya. Antara percaya dan tak percaya. Tapi, Gwen telah memilih Radit setelah itu. Ia pun hanya berharap, Gwen atau pun Laura segera siuman.
Malam itu Radit menunggu Laura bersama Lisa dan Dewa. Ibu beristirahat di rumah.
Dewa sedang keluar untuk mencari kopi. Sedang Radit sedang keluar untuk merokok.
Lisa duduk di samping ranjang Laura/Gwen.
"Gwen gue tau Lo masih di sana! Jika Lo bisa denger, bangun! Siapa pun yang masuk ke dalam tubuh Laura, tolong, berikan nyawa untuk tubuh ini! Gwen, gue berharap kali ini Lo bener bener hidup lagi, Nek. Maaf gue cerita semua sama Ben. Terserah nantinya kalian akan bagaimana. Gue mau Lo bangun!" Cerocos Lisa sambil memegang punggung tangan Sahabatnya itu.
"Denger ya! Kali ini gue ga akan kucing kucingan sama wartawan tentang hubungan gue sama Dewa. Terserah mereka mau nulis apa, gue udah ga peduli. Kalo Lo kaga bangun, gue bakal nikah duluan sama Dewa.
Radit tiap malam nungguin Lo. Semua teman teman mendoakan Lo, Nek. Bangunlah!"
***
Gwen merasa mendengar suara Lisa memanggil namanya dan menyebut namanya.
"Lisa... Lisa... Lisa...!"
Tubuh Gwen seakan terhisap akan dimensi lain dan secepat kilat terjatuh di suatu tempat.
Ia membuka matanya perlahan. Ia melihat Radit duduk sambil tertidur di kursi di sampingnya, lalu ia melihat Lisa di sisi satunya membelakanginya sambil mengobrol dengan Dewa.
Saat melihat Laura bergerak, Dewa dan Lisa langsung mendekat, dan Radit terbangun.
Senyum mengembang di wajah Laura.
"Masih ingat gue?" Tanya Lisa sambil menatap Laura.
Ia ingin tahu, yang kembali kali ini adalah Gwen atau Laura.
"Gue masih ingat Lo, Nek!" Sahut Laura sambil tersenyum.
Terlebih ia sangat bahagia bisa menatap wajah Radit kembali.
********** TAMAT ***********
Terima kasih untuk para pembaca yang telah setia mengikuti selama ini.
Mohon maaf jika ada kekurangan dan kesalahan di sana sini.
Ikuti terus karya saya yang lain.
__ADS_1
❤️❤️