
“Saya langsung pulang ya, Nia. Maaf sudah membuatmu pulang agak terlambat. Aah, terimakasih juga atas traktirannya tadi.” Ucap Satya saat mobilnya sudah sampai di depan gerbang rumah Nia.
“Tidak pak. Saya yang berterimakasih karena bapak sudah membelikan saya ini.” Ucap Nia sambil menunjukkan kantong berisi buku-buku yang dipilih Nia tadi.
“ Sama-sama. Nanti jika kamu ada menemui kesulitan dalam materi atau tentang magangmu, kamu bisa hubungi saya kapan saja.”
Nia mengangguk, kembali tersenyum,” Sekali lagi terimakasih pak.”
Nia melepas seatbelt dan turun dari mobil Satya. Setelah berpamitan, mobil Satya melesat pergi meninggalkan Nia, yang masih berdiri di depan gerbang sampai mobil Satya menghilang dari pandangan.
“Assalamu’alaikum....”
“Walaikum salam...” jawab Tiara dan Mama Dessy yang sedang asyik bercengkerama di ruang tengah.
“Kok baru pulang,Nia...?” tanya Mama Dessy yang melihat jam sudah menunjukan pukul 21.00
“Iya ma, maaf.. tadi habis kelas, terus ada bimbingan buat magang, terus ke perpus dulu nyari buku, eee ternyata yang dicari gak ada, akhirnya mampir ke toko buku dulu deh ma..” jelas Nia panjang kali lebar antusias menceritakan kegiatannya hari ini.
Mama Dessy menautkan kedua alisnya,melirik kantong berisi banyak buku di tangan Nia, lantas tersenyum, ia merasa Nia sudah kembali menjadi Nia nya yang dahulu.
“Ya sudah, kalau gitu kamu ganti baju dulu, terus makan malam, nanti mama siapin.”
“Nia tadi sudah makan malam,Ma.” Jawab Nia cepat.
Mama Dessy kembali menautkan kedua alisnya, menandakan ada tanda tanya besar disana.
“Tadi di temenin beli buku ini, terus makan malam sekalian diantar pulang sama anaknya Tante Wike, ma.” Ucap Nia menjawab pertanyaan yang tersirat dari wajah mamanya.
“Anaknya Tante Wike...?? kirain mama kamu diantar pulang sama Niko..”
Nia tersenyum seraya menggeleng, kemudian naik ke kamarnya di lantai 2.
“Anaknya Jeng Wike....... nak Satya...??” batin Mama Dessy.
“Anaknya Tante Wike itu siapa ma..?? Kak Nia kelihatan seneng banget.” Tanya Tiara yang sejak tadi juga melihat perubahan pada kakaknya.
“Katanya sih dosen kakakmu di kampus.”
“Pak Satya..!! gebetan Kak Nia..!!!” batin Tiara.
Tiara bergegas bangkit dari sofa dan berlari naik ke lantai 2.
“Mau kemana Tiara..??”
“Interogasi Kak Nia, ma....” jawab Tiara semakin menghilang dibalik anak tangga.
Mama Dessy hanya menggeleng-geleng kepala melihat tingkah Tiara. Namun juga muncul kekhawatiran di dalam hati Mama Dessy melihat Nia. Mungkin ia harus kembali mencoba berbicara dengan suaminya perihal perjodohan itu,pikirnya
Tiara melangkahkan kakinya lebar – lebar. Menaiki dua anak tangga sekaligus untuk segera sampai ke kamar kakaknya.
Tanpa basa – basi Tiara langsung membuka pintu kamar kakaknya.
“Kakak..!!!” pekik Tiara
Nia yang sedang berganti baju sontak kaget hingga berjingkat.
__ADS_1
“Astaga Tiara... kalau masuk kamar ketok pintu dulu kek, salam dulu kek... kaget tau...!!”
Tanpa rasa bersalah Tiara hanya nyengir kuda, lalu kembali ke arah pintu kakaknya dan mengetuknya dari dalam.
“Tok.. tok.. assalamualaikum kak Nia, Tiara boleh masuk..??”
Nia mencebik melihat tingkah adik perempuan satu – satunya itu.
“Walaikumsalam.. lah itu sudah masuk..” jawab Nia.
Tiara langsung mendekat, duduk di atas ranjang kakaknya.
“Kak, abis jalan ama Pak Dosen ya...??? cie..cie... kok bisa sih...??” tanya Tiara kepo.
“Apaan sih...?? orang tadi tuh cuma kebetulan ketemu terus dianter pulang aja kok.”
“Oooh... gituu.. kebetulan dianter beli buku juga sih ya..?? terus kebetulan makan malam juga...??? waaah, kebetulan yang paaaaaaas banget.” Goda Tiara.
“Apaan sih dek..” ujar Nia yang sudah tersenyum malu – malu dengan raut wajah memerah
“Cieeeee... yang bahagiaaa.”
“Hush... sudah. Jangan aneh – aneh deh kamu. Pak Satya itu sudah punya tunangan, kak Nia juga bentar lagi mau tunangan ama Kak Niko. Gak usah pikiran macem – macem.”
“Pak Satya udah punya tunangan..?? yakin kak..?? kok Kak Nia tahu..??”
“Iya dulu kakak pernah liat Pak Satya makan bareng ama tunangannya.”
“Lagian masih tunangan ini. Kak, selama janur kuning belum melengkung...”
“Lagian nih ya kak, gak ada yang namanya kebetulan kayak gitu. Dianter beli buku, terus diajak makan malam juga. Itu sih modus kak, bukan kebetulan..!! Pak Satya pasti ada perasaan deh sama Kak Nia. Tiara yakin.” Ujar Tiara mantap.
Nia terdiam, benarkah yang dikatakan adiknya itu...??
“Udah.. udah.. bawel ihh.. sana kakak mau tidur. Capek ..” ucap Nia seraya mendorong tubuh Tiara keluar dari kamarnya.
Mama Dessy beranjak dari duduknya lantas melangkahkan kakinya ke arah dapur. Ia berinisiatif akan membicarakan dengan suaminya perihal perjodohan putrinya
Dengan secangkir teh panas di tangan, Mama Dessy menyusul suaminya yang berada di ruang kerja sejak selesai makan malam tadi.
Tok.. tok. .tok...
Mama Dessy masuk perlahan ke dalam ruang kerja suaminya. Ia melihat suaminya begitu serius dan fokus hingga tidak mendengar kedatangannya.
“Pa....masih sibuk ...??” Tanya Mama Dessy menyodorkan teh yang tadi di buatnya.
Pak Wijaya cukup terkejut karena istrinya tiba-tiba sudah berada di hadapannya.
Mama Dessy tersenyum seraya memutari meja dan berdiri di belakang suaminya yang masih duduk di kursi kebesarannya.
Mama Dessy melingkarkan tangannya ke leher Pak Wijaya, lebih mendekatkan wajahnya pada suaminya itu.
“Bagaimana kondisi perusahaan pa....??”
“Papa akan mengusahakan yang terbaik untuk perusahaan ma... untuk kita semua..”
__ADS_1
Mama Dessy mengambil nafas panjang, menghembuskannya perlahan.
“ Anak-anak kita terlihat bahagia banget ya, Pa..” ucap Mama Dessy melihat foto yang terpajang di atas meja, foto mereka berempat saat liburan ke jepang 2 tahun lalu.
Pak Wijaya menangkap ada maksud lain dengan arah pembicaraan istriya malam itu.
Segera ia menarik tangan istrinya, kemudian berbalik memutar kursinya menghadap istrinya dan mendudukkannya di pangkuannya, pose terfavorit istrinya itu.
“Ada apa ma...??”
“Mama ingin keluarga kita selalu bahagia pa..” ucap Mama Dessy melingkarkan tangannya kembali di leher suaminya.
“Papa akan selalu membahagiakan kalian semua, sayang.”
“Tapi anak kita sedang tidak baik-baik saja,pa...”
“Tentang perjodohan itu...??” ucap Pak Wijaya mengendurkan pelukan istrinya, menatapnya lebih intens.
“Perusahaan papa sekarang masih bisa bertahan karena bantuan Pak Andrian, ma... dan lagipula Niko menerima perjodohan itu, tidak mungkin papa membatalkannya.. cinta bisa datang kepada mereka setelah mereka menikah kelak.”
“Atau bisa juga menyakiti kedua nya.” Potong Mama Dessy cepat.
“Pernikahan yang dipaksakan dan tanpa cinta akan sangat menyakitkan pa..” Mama Dessy penuh penekanan di setiap katanya.
“Maksud mama...?? ada cinta yang lain di antara mereka...??” Tanya Pak Wijaya.
“Bagaimana jika cinta Nia bukan untuk Niko, apa Nia bisa bahagia jika menikah dengan Niko..?? apa Niko tidak terluka dan merasa bersalah dengan mengekang cinta Nia..?? Mama hanya tidak ingin kita tergesa – gesa dan salah mengambil keputusan.”
“Mama percaya papa tidak akan mengecewakan kita.. mama percaya papa pasti bisa mengatasi masalah kantor tanpa harus menggadaikan kebahagiaan keluarga kita. Mama juga yakin, Pak Andrian orang baik dan bijaksana. Dia pasti bisa memahaminya. Pa... papa pasti bisa, jangan menyerah ya.. ada mama disini, disamping papa.” Ucap Mama Dessy seraya mengelus lembut pipi suaminya.
Pak Wijaya terdiam mendengarkan penjelasan panjang istrinya.pikirannya kini berkecamuk, bercabang kemana-mana. Ada benarnya juga semua perkataan istrinya. Entahlah, dia terlalu lelah untuk berpikir sekarang.
.
.
.
.
.
.
.
Hai Readers, ini adalah karya pertama Author, mohon maaf jika masih agak kaku ya..
Jangan lupa like dan koment ya, supaya Author lebih bersemangat lagi dalam berkarya.
Terimakasih.
.
.
__ADS_1