
Dewa menyalakan laptopnya sambil membawa mug berisi kopi ke meja kerjanya.
Setelah dua hari menemani Lisa, ia mulai fokus kembali pada pekerjaannya.
Dewa masih mengingat kejadian kemarin. Mereka menikmati kebersamaan di pantai. Cerita Lisa mengenai keluarganya, lalu hubungan dengan Dirga yang naik turun, dan saat ini sedang dalam masa masa saling introspeksi.
Dewa berharap Lisa dapat memutuskan yang terbaik untuk dirinya. Ia juga merasa mendapat lampu hijau dari Lisa untuk mendekatinya. Ia sangat ingin menghubungi seseorang untuk mencurahkan isi hatinya ini. Seseorang yang dekat dengan Lisa dan mengenal dirinya, Laura.
Saat jam makan siang Lisa menghubunginya.
"Hai Dewa, maaf mengganggu." Sapa Lisa.
"Oh, tidak. Bagaimana?"
"Aku check out hotel hari ini ya, Wa. Mas Andre dan beberapa kru sudah sampai di Yogya. Ini aku sedang menunggu mereka, mau ke rumah tempat tinggal kami selama syuting di sini." Terang Lisa.
"Jadinya rumah yang kemarin?" Tanya Dewa.
"Entahlah, aku juga tidak tau, karena belum ke sana. Oya, nanti aku kabari jika aku sudah di sana ya. Aku share lokasi tempat tinggalnya. Kamu sudah makan?"
"Belum."
"Loh, kok belum? Nanti sakit loh?"
"Ga ada yang nemenin." Dewa pura pura mengeluh.
"Huh... Dasar gombal kamu Wa!" Ledek Lisa, kemudian mereka tertawa bersamaan.
"Ya sudah, kamu makan dulu sana. Nanti aku kabari lagi." Ucap Lisa pada Dewa.
"Nanti malam ada acara?" Tanya Dewa.
"Hhmmm... Belum tau." Jawab Lisa. Sejenak keduanya terdiam.
"Oke, ya sudah. Aku makan dulu, kamu juga jangan lupa makan. Dan jangan lupa kabari aku." Pinta Dewa kemudian, lalu keduanya menutup panggilan ponsel mereka.
"Hayoo... Telponan sama siapa!" Goda Joe, Kakak sepupu Dewa yang juga bekerja di sana.
"Sama teman kok." Jawab Dewa berbohong.
"Pacar juga ga apa apa kok. Ayo makan siang!" Ajak Joe, lalu Dewa beranjak dari kursinya, mengikuti sepupunya itu ke ruang pantri untuk mengambil jatah makan siang mereka.
****
Laura menyelesaikan semua laporannya dan menyerahkan kembali pada stafnya. Ia tak ingin lembur hari itu karena ingin menemani Radit untuk mencari kado untuk ulang tahun Alina dua hari lagi.
__ADS_1
Alina meminta dirayakan di rumah Oma buyut supaya semua keluarga dapat berkumpul di rumah besar milik Radit itu.
Jane menelpon Laura secara khusus, untuk membantunya menyiapkan pesta ulang tahun Alina yang ke-10 di rumah Oma. Laura dengan senang hati membantunya. Ia mulai dekat dengan keluarga besar Radit akhir akhir ini, setelah mengetahui masa lalu yang kelam tentang Laura.
"Laura, bisa tolong ke ruanganku!" Panggil Dirga melalui interkom kantor.
Laura menatap Winda yang juga mendengar suara Dirga terdengar gusar. Winda hanya menaikkan bahunya tidak mengerti.
Laura menghela napas dalam-dalam sebelum mendatangi ruang Dirga.
Ia beranjak dari tempatnya, menuju ke ruangan di lantai atas. Terlihat Rey sedang menelpon, ia hanya mengangguk sambil melayangkan senyum pada Laura saat hendak memasuki ruangan Dirga.
"Ada apa Ga?" Tanya Laura heran.
"Kamu bisa menghubungi Lisa?" Tanya Dirga dengan cemas.
"Bisa kok. Kenapa memangnya?"
"Tiap aku wa tidak langsung dibalas. Beberapa kali aku telpon ga pernah diangkat. Kadang wa dibacanya lama, atau kadang sudah dibaca tapi ga langsung dibalas. Sesibuk apa sih dia di sana? Tadi pagi aku telpon Mas Andre, katanya dia dan artisnya baru berangkat hari ini. Terus kemarin Lisa ngapain aja ke Yogya? Sama siapa?" Ucapnya dengan gusar.
"Bukannya kalian sedang break? Mungkin dia sedang refreshing, menenangkan diri sendiri, berlibur sejenak sebelum mulai syuting film.
Dirga, jika kamu bersikap posesif seperti ini pada Lisa, dia bakal takut padamu. Bisa bisa jadi pertimbangan untuk benar benar putus denganmu." Saran Laura.
"Posesif? Aku posesif?"
Dirga menatap Laura, lalu ia mengusap usap wajahnya dengan tangan.
"Biarkan saja dulu dia sendiri. Mungkin saat ini, itu yang baik buat dirinya dan dirimu. Fokus kerjaan saja saat ini. Aku juga sedang sibuk, selain persiapan buat cabang Yogya, juga urusan ulang tahun Alina." Laura menggelengkan kepalanya.
"Alina?" Dirga heran.
"Putrinya Jane. Dia mau ulang tahun di rumah Radit, supaya bisa dirayakan sama sama. Kamu mau datang juga?" Laura menawari Dirga.
"Lah aku ngapain ke sana, kenal nggak?" Tolak Dirga.
"Ya kamu bantuin aku, buat dekorasi, daripada bengong. Ayolah Ga! Tar aku bilang ke Radit." Rayu Laura.
"Kapan?" Tanya Dirga malas.
"Lusa perayaannya. Jika kamu mau bantuin, nanti aku bilang ke Radit. Jujur sebenarnya kami juga memerlukan tenaga bantuan untuk perayaan besok." Ucap Laura sambil berbisik dan mengedipkan sebelah matanya.
Dirga tersenyum, entah mengapa, jika telah curhat dengan Laura, selalu saja merasa lebih baik.
"Sudah selesai? Bolehkan aku kembali keruang untuk menyelesaikan pekerjaanku."
__ADS_1
"Silahkan." Jawab Dirga.
Laura membalikkan tubuhnya menuju pintu.
"La.." panggil Dirga.
"Ya?" Laura kembali menoleh.
"Terima kasih."
"Sama sama." Jawab Laura sambil tersenyum.
****
Laura menunggu di lobi kantor Radit sambil memainkan ponselnya. Ia melihat story Dewa dengan beberapa foto pantai. Ia berhenti dan tertegun pada satu foto, terlihat syal berkibar tertiup angin dalam sebuah foto. Laura mengenali syal itu. Itu milik Lisa, tidak salah lagi. Itu syal rajut buatan Mamanya. Laura - Gwen mengenalinya.
"Semoga mereka tidak berbuat yang macam macam." Gumam Laura.
"Hai La, maaf menunggu lama." Ucap Radit, yang terlihat berantakan.
"Kenapa denganmu?" Tanya Laura sambil merapikan rambut Radit.
"Kepalaku rasanya mau pecah menyelesaikan ini. Aku rasa butuh orang seperti Dewa di kantor ini." Keluh Radit.
"Seperti Dewa?" Ulang Laura.
"Ya, aku butuh karyawan dengan kemampuan seperti Dewa, adikmu." Jawab Radit.
"Rekrut lagi karyawan baru." Laura memberi saran.
"Ya, rencananya. Setelah menyelesaikan pekerjaan di Yogya dan Jawa Tengah. Aku akan merekrut karyawan baru kembali. Kemungkinan Dewa akan aku tarik ke sini, selama masa training anak baru." Radit menceritakan rencananya.
"Baiklah. Oya, apakah kita memerlukan tenaga tambahan untuk acara besok?" Tanya Laura mengalihkan pembicaraan.
"Sebenarnya iya. Dan akupun akan sangat senang, jika ada yang membantu kita. Jane benar benar keterlaluan, dia tak mau memakai jasa EO saja untuk acara seperti ini." Keluh Radit.
"Dirga bisa membantu kita."
"Hah..??!" Radit terkejut dan langsung menatap Laura tak percaya.
Laura menganguk dengan tatapan serius.
"Dia dan Lisa sedang break. Dan kini Lisa sedang di Yogya untuk syuting film. Kini, Dirga selalu uring uringan ga jelas. Maka aku ajak saja dia untuk membantu kita besok. Dia setuju. Jika kamu tidak masalah, akan aku hubungi dia untuk membantu kita."
Radit hanya mengangguk pasrah, karena dia pun telah lelah mengurus pekerjaannya.
__ADS_1
Lalu mereka pun berlalu untuk mencari kado dan perlengkapan pesta untuk dekorasi pesta untuk ulang tahun Alina.