
Setelah sampai di villa, semua peserta dan panitia menuju ke kamar masing-masing untuk menaruh barang – barang mereka dan beristirahat sejenak sebelum disibukkan dengan berbagai acara hingga larut malam.
Ttokk... ttookk... ttokk..
Ayu membuka pintu kamarnya yang di ketok seseorang dari luar.
“Nia mana Ay??”tanya Niko pada Ayu yang sekamar dengan Nia.
“Masih sholat di dalam.”
“Ya udah, tolong ntar loe kasih ke Nia ya.” Niko memberikan segelas teh hangat yang dibawanya ke Ayu.
“Kok cuma satu doank sih?? buat gue mana??”
“Loe bikin aja sendiri.” Ejek Niko menjulurkan lidahnya berlalu dari kamar Ayu.
“Siapa Ay?” tanya Nia melipat mukena nya.
“Niko,ngasih loe ini.” Ayu menyodorkan teh yang dibawa Niko tadi.
Nia menghabiskannya dalam sekali teguk. Ramuan paling manjur untuk membuat perutnya kembali nyaman, setelah tadi sempat bergejolak.
“Nia, gue boleh tanya sesuatu??” tatap Ayu serius.
Nia menoleh lalu mengangguk.
“Anak temen bokap loe yang loe maksud itu Niko??”Tanya Ayu hati-hati.
Nia terdiam. Lalu kemudian ia mengangguk. Wajah nya kembali sendu.
“Dan loe bisa lihat sendiri bagaimana baiknya Niko sama gue. Tapi apapun itu, sayang gue ke Niko beda Ay... Niko sahabat gue dari kecil. Musuh gue dari kecil. Keluarga gue dari kecil.”
“Sedangkan loe juga tahu, cinta gue buat siapa. Walaupun Pak Satya mungkin juga sudah punya kekasih.” Sambung Nia.
“Tahu dari mana loe Pak Satya sudah punya pacar..??” tanya Ayu kepo. Karena sepertinya ia sudah ketinggalan banyak berita.
Nia pun mulai menceritakan seluruh kejadiannya bersama Satya. Wanita yang dilihatnya di cafe, magang yang membuatnya menjadi partner bisnis Satya. Juga jalan-jalannya di luar kota tempo hari.
“Wajar sih, kalau loe ngira Pak Satya juga suka sama loe.” Kata Ayu.
“See...?? betapa takdir mempermainkan gue.”
“Sabar Nia, berdoa dan yakin. Takdir pasti mempersiapkan kejutan yang cantik buat loe. Karena kita gak selamanya akan menangis. Percaya ama gue.” Yakin Ayu.
“Ogah gue percaya ama loe... Syirik!!!!” tawa mereka kembali tergelak bersama.
Nia merasa bebannya sedikit berkurang dengan bercerita pada Ayu. Di tengah kekalutannya, ia masih bersyukur karena memiliki sahabat yang selalu mendukungnya, mendengarkan keluh kesahnya.
Setelah selesai membereskan barang – barang mereka, keduanya segera menyusul teman – teman lainnya untuk mengambil jatah makan siang mereka, sebelum melanjutkan acara lainnya.
Mereka menuju taman belakang villa yang luas. Disana juga ada kolam renang dan hamparan rerumputan hijau yang terawat sangat apik. Nantinya berbagai acara akan diadakan disini.
“Kok malah duduk sih,Ni??” langkah Ayu terhenti karena melihat sahabatnya yang tiba – tiba saja duduk di salah satu sudut taman.
__ADS_1
“Loe duluan aja deh, gue nyusul ntar aja. Rame banget gitu. Ntar aja gantian.” Ucap Nia.
“Mau gue ambilin?? Loe tunggu disini aja.” Ujar Ayu menawarkan diri.
“Gak usah Ay, makasih. Lagian perut gue masih gak enak kalau harus diisi sekarang.”
“Ya udah, gue kesana dulu ya, laper gue.”
Nia hanya mengangguk lalu kembali menikmati duduk menyandarkan kepala sambil menutup matanya menghirup udara villa yang masih segar.
“Ehm!!”
Nia tidak bergeming, masih terhanyut menghirup dalam – dalam udara bersih yang tanpa polusi.
“Ehm!! Ehm!!”
Nia tersentak, sejurus kemudian membuka matanya. Dan semakin terkejut melihat Satya yang sudah berdiri di hadapannya.
“Fokus boleh, tapi jangan lupa makan dan jaga kesehatan.” Ucap Satya sambil menyodorkan sekotak nasi kepada Nia.
Nia masih duduk terdiam menatap pria di hadapannya. Otaknya masih berusaha mencerna bahwa apa yang dilihatnya kini adalah kenyataan bukanlah mimpi.
“Aduuh, tangan saya capek!” ucapnya lagi yang masih menyodorkan sekotak nasi.
“Ah! Iya pak. Terimakasih.” Nia yang tersadar segera meraih kotak nasi itu dari tangan Satya.
Nia merasa seperti de javu.
Satya tersenyum, “ Makanlah!”
Satya menautkan kedua alisnya.
“Bapak sudah makan??” tanya Nia kembali. Karena melihat Satya yang hanya membawa 1 kotak nasi.
“Oh itu! Saya bisa mengambil lagi. Sudah, makanlah! Jangan banyak bertanya.” Ucap Satya kemudian beralih pergi meninggalkan Nia.
Nia kembali tersenyum seraya mengangguk hormat kepada dosennya itu.
Disisi lain, Ayu yang sedang membawa 2 kotak nasi berdiri terdiam melihat kedekatan Satya dan Nia dari jauh. Senyum terukir di bibirnya.
Segera ia membalikkan badan, berniat untuk mengembalikan nasi kotak yang sengaja ia ambil untuk Nia, karena sepertinya sudah ada yang mendahului niatnya itu.
Saat akan membalikkan badan, Ayu kembali terdiam melihat Niko yang berdiri melihat Nia dan Satya dari salah satu sudut taman.
Sorot matanya menyiratkan kemarahan dan kekecewaan, namun entah mengapa raut wajahnya justru terihat sendu.
Ayu hanya mampu tertunduk lesu melihat salah satu sahabatnya itu. Walau ia belum pernah mengalaminya, namun ia tahu sakit hati karena cinta memang sesakit itu.
Siang hari mereka lewati dengan berbagai kegiatan yang menarik games – games yang sudah disusun apik oleh panitia memang sengaja diperuntukkan untuk para maba agar semakin lebih dekat dsan saling mengenal satu sama lain.
Para maba bahkan seluruh panitia pun membaur menjadi satu tanpa ada kecanggungan senioritas diantara mereka.
Semua tampak riuh senang bergembira menikmati acara malam keakraban yang memang sudah menjadi urban legend disana, bahwa setiap acara makrab akan melahirkan setidaknya satu pasangan baru.
__ADS_1
Acara baru selesai saat hari menjelang sore. Para maba dan panitia membubarkan diri untuk beristirahat sebelum melanjutkan acara puncaknya nanti malam.
Nia yang baru saja selesai mandi, berniat untuk berjalan – jalan sebentar di taman belakang villa. Nia melangkahkan kakinya menuju ayunan yang terletak di sisi paling belakang villa yang langsung menghadap ke jalan yang berada di bawahnya.
Villa yang mereka tempati memang berada di tempat yang lumayan tinggi. Sehingga Nia bisa melihat pemandangan rumah - rumah penduduk dan villa lainnya dari tempatnya duduk saat ini.
Cukup lama Nia duduk menikmati senja sendiri. Sinar mentari yang perlahan meredup, melabuhkan diri kembali ke peraduan diiringi dengan hembusan angin yang semakin lama semakin menusuk hati.
Nia yang duduk menyendiri kembali merasakan kekalutan di dalam dirinya. Bagaimana ia harus menata hatinya saat melihat pria yang di cintainya bersamaan dengan pria yang di jodohkan untuknya.
Ingin rasanya ia ikut bersembunyi seperti mentari yang kini mulai meninggalkan langit. Walaupun ia tahu, sekuat dan selama apapun ia bersembunyi, tetap mentari akan kembali bersinar esok hari.
Nia menyudahi kegalauannya, beranjak untuk kembali ke kamarnya. Tanpa ia sadari sekumpulan maba sedang berlarian menggoda para maba lainnya.
Nia yang sedang berjalan tepat disisi kolam renang tersentak kaget dan tidak dapat menjaga keseimbangannya.
“Akkh...!!!”
HAAPP!!! (gak ngerti gimana bunyinya, pokonya gitu ajalah lah ya)
Dengan sigap Niko menarik lengan Nia, menjatuhkannya ke dalam pelukannya.
Cukup lama Nia terdiam dalam pelukan Niko, berusaha mencerna apa yang terjadi.
“Loe tuh ya, kebiasaan deh! Kalau jalan fokus donk Nia! udah cakep gini masak mau nyebur kolam lagi loe.” Ucap Niko mengendurkan pelukannya.
“Thanks Nik, gue fokus kok, gue cuma kaget aja tadi.”
“ Ya udah, ayo masuk! Udah mulai malam.” Ajak Niko yang masih merangkul bahu Nia.
Dari sudut taman lainnya ada sepasang mata yang menatap Nia dan Niko dengan sorot mata yang amat tajam dan dingin. Atau mungkin, justru sorot mata cemburu???
.
.
.
.
.
.
.
.
Hayo...hayo... siapa tuh yang cemburu????
Terimakasih banyak ya untuk readers setia yang selalu support dan menunggu kelanjutan cerita mereka.
Jangan lupa like dan koment ya, supaya Author lebih semangat lagi nge halu..
__ADS_1
.