
Andre segera berganti pakaian dan membersihkan diri, lalu ia kembali beristirahat karena besok pagi mereka harus kembali lagi ke Jakarta.
Setelah ia selesai mengganti pakaiannya dengan baju santai, Andre kembali mengambil benda pipi yang tergeletak di atas meja nakas dan membuka-buka galeri yang berisi foto-foto dirinya dan sahabat-sahabatnya.
Di antara foto itu ada foto Kania dan Dira, Andre mulai mengamati wajah kedua wanita itu dari gambar yang berhasil di ambil lewat kamera teleponnya.
Ia mulai membanding-bandingkan antara Dira dan Kania secara fisik, emang ternyata gadis yang ada bersamanya saat ini tidak kalah menarik dari Kania.
"Dira cantik juga ternyata, namun sayang gue udah duluan jatuh hati sama Kania," ucapnya dalam hati.
"Bagaimana jika Dira tau kalau dia hanya aku pakai buat membalas sakit hatiku? Pasti gadis itu akan kecewa esok atau aku pura-pura mengatakan cinta saja kepada Dira supaya ia tidak kecewa? Alangkah jahatnya aku memberikan sebuah dusta kepada Dira? Pikiran Andre terus berputar memikirkan langkah buat ia dan Dira ke depan.
"Aku tidak boleh seperti seorang pecund*ng yang obral janji, haruskah aku mengatakan yang sesungguhnya terjadi?" pusing kepala Andre memikirkan kelanjutan kekonyolan yang sempat ia buat tadi.
Akhirnya setelah berpikir panjang Andre memutuskan untuk mengatakan ia mencintai Dira tetapi bukan untuk sebuah kepura-puraan melainkan ia akan belajar membuka hati untuk gadis itu.
Andre akan belajar menerima Dira dalam hatinya walaupun mungkin saat ini terasa sulit tetapi ia akan mencoba belajar mencintai gadis itu.
Seiring waktu cinta pasti bisa saling tumbuh lewat kebersamaan mereka.
Sebuah keputusan sudah bulat di dalam hatinya, semoga ia tidak mengecewakan Dira besok ketika ia bertemu.
Kelelahan memikirkan sebuah alasan untuk Dira membuat Andre tertidur.
Keesokan harinya Andre membukakan matanya ketika mendengar suara ketukan pintu, ia langsung bangun dan melangkah untuk melihat siapa yang datang.
Ternyata Dira datang menghampirinya untuk mengajak turun breakfast bersama keluarganya.
"Kak Andre baru bangun? Cepetan mandi kita breakfast yuk," ucap Dira.
"Tunggu sebentar ya, aku mandi dulu. Maaf aku bangun kesiangan," sahut Andre.
"Nyantai aja kak," balas Dira.
Andre buru-buru masuk kamar mandi untuk membersihkan diri dan setelah selesai ia menghampiri Dira di kamarnya untuk turun ke lantai bawah menuju tempat breakfast.
Mereka berdua berjalan berdampingan, seluruh kelurga sudah berkumpul untuk sarapan pagi.
"Pagi om dan tante," sapa Andre kepada orang tua Dira.
"Pagi juga opa," lanjutnya menyapa Dirga.
"Pagi nak Andre, sudah sarapan aja dulu," sahut Rudi sambil tersenyum.
__ADS_1
"Dira temenin Andre buat sarapan," kata Almira.
"Terima kasih om dan tante, maaf mengganggu," ucap Andre sambil berlalu dari hadapan keluarga Dira.
Dira dan Andre memilih menu sarapan di meja prasmanan yang sudah di siapkan pihak hotel dan setelah itu mereka memilih tempat duduk.
Mereka duduk berdua sambil memasukkan makanan ke dalam mulut mata Andre dan Dira memandang suasana sekeliling hotel yang di terletak di perbukitan.
Sejauh mata mata memandang banyak pohon Pinus yang memberi kesan hijau dan sejuk di tambah udara pagi yang menambah kesejukan berada di tempat ini.
"Kak Andre abis ini kita cabut atau kakak masih mau jalan dulu keliling melihat pemandangan sekitar sini?" tanya Dira.
"Kita kesana yuk," jawab Andre sambil menunjuk ke arah hutan Pinus dekat hotel.
"Baik kak, Dira temenin nanti kita kesana," sahut Dira.
Setelah beres sarapan mereka berdua pun langsung berjalan menuju hutan Pinus, pohon Pinus yang di taman berjejeran dan rapi milik keluarga Dira.
"Semalam waktu Kakak nyanyi Dira sampai kaget suaranya bagus banget udah seperti seorang idol," ucap Dira di tengah perjalanan.
" Kamu memuji aku atau menyindir aku secara halus nih," sahut Andre sambil terkekeh.
"Dira serius kak, suara kakak bagus sekali banyak yang sampai terkagum-kagum," puji Dira.
"Terima kasih buat pujian kamu Dira," sahut Andre sambil tertawa.
"Emang kalau kamu mendengarnya gimana?" tanya balik Andre.
"Seperti sebuah ungkapan hati kak, sangat menyentuh," jawab Dira spontan.
"Oh ya?? Padahal aku menyanyikannya ngasal doang loh," sahut Andre pura-pura kaget sambil terus melangkah.
Padahal hatinya sudah mulai goyah, ia harus bisa menutupi perasaannya.
Jangan sampai Dira tau kalau ia sebenarnya sedang terluka.
Mereka sampai di hutan yang rimbun dengan pohon Pinus, Andre dan Dira duduk dengan bersandar pada batang pohon untuk melepas lelah setelah berjalan cukup lama.
"Kak Andre boleh Dira bertanya sesuatu?" tanya Dira tiba-tiba.
"Boleh gratis tidak bayar," jawab Andre sambil tertawa.
"Tapi janji kakak gak boleh marah," ucap Dira.
__ADS_1
"Mana bisa aku marah sama gadis secantik kamu," sahut Andre mulai menggombal.
"Kenapa semalam kakak mengakui Dira sebagai pacar di depan teman-teman kakak? Kenyataannya kita gak ada hubungan apapun," tanya Dira sambil menatap wajah Andre.
Andre hanya tersenyum melihat tatapan Dira, sungguh lelaki ini paling bisa menyembunyikan perasaannya. Aktor terbaik mungkin jatuh kepada Andre.
"Kamu mau gak jadi pacar aku Dira?" tanya Andre.
Deg... jantung Dira seperti berhenti sebentar lalu sejenak berdetak tanpa aturan.
Muka Dira memerah tidak tau harus menjawab apa, kenapa ia yang bertanya sekarang balik ia juga yang harus menjawab.
Dira hanya tertunduk memikirkan jawaban apa yang harus ia berikan, apakah begini rasanya di tembak seorang pria? Sulit untuk mengungkapkan perasaannya.
"Dira kenapa kamu diam? Kamu gak suka sama aku? Katanya dulu kamu ngefans sama aku?" tanya Andre beberapa saat kemudian.
"Dira gak tau mau menjawab apa kak, jujur aku pernah suka sama kakak tapi itu dulu. Bisa gak kita berteman baik dulu kak, sampai hati Dira yakin akan keseriusan kakak.
Dira belum yakin kakak serius mencintai aku sepenuhnya atau jangan-jangan aku hanya sebagai pelarian sesaat kak Andre," jawab Dira.
Andre yang mendengar jawaban Dira menjadi sedih, sebenarnya apa yang di ucapkan wanita itu benar adanya saat ini ia hanya butuh pelarian.
Ia berjanji dalam hati untuk membuka diri dan belajar mencintai Dira, karena bagaimana pun Dira tidak pantas di permainkan.
"Maaf kalau aku sudah lancang semalam Dira," ucap Andre dengan rasa bersalahnya.
"Gak apa-apa kakak, aku tetap akan membantu kakak menjadi pacar settingan di depan teman-teman kak Andre," balas Dira sambil tersenyum.
"Kamu gak pantes buat aku gituin Dira, kamu gadis baik dan aku minta maaf buat semuanya," sahut Andre sambil menggenggam tangan Dira.
"Tidak masalah kak, sampai hati kita bisa mantap menjalankan hubungan ini," kata Dira Lagi.
"Terima Kasih Dira sudah mau memahami aku," balas Andre lagi sedikit hatinya tersentuh dengan ketulusan Dira.
"Balik yuk kak, nanti kita kesiangan mau kembali ke Jakarta," ajak Dira.
"Ayo, kamu mau aku gendong?" tawar Andre.
"Terima kasih kak, aku masih punya kaki untuk berjalan," balas Dira sambil tertawa lepas.
Mereka berjalan kembali ke hotel dengan bergandengan tangan dan bersiap untuk kembali lagi ke Jakarta.
🌾🌾🌾🌾🌾🌾🌾
__ADS_1
Jangan lupa untuk like, komen dan vote ... happy reading.
Selamat berlibur bersama keluarga tercinta.