Kesempatan Kedua

Kesempatan Kedua
BAB 65


__ADS_3

Satya yang mendapat kabar bahwa istrinya mengalami kecelakaan segera memacu mobilnya menuju rumah sakit yang di maksud.


Hati dan pikiran Satya sudah kacau balau. Panik, cemas, dan takut bercampur menjadi satu. Tak henti – hentinya ia melafazkan doa meminta keselamatan untuk istrinya.


Dengan nafas yang terengah – engah Satya berlari menyusuri koridor rumah sakit tempat Nia di selamatkan.


Tujuan utamanya adalah mencari tahu dimana Nia dirawat.


“Selamat siang, pasien kecelakaan mobil atas nama Nia Prameswari., dirawat dimana…??” tanya Satya pada petugas informasi.


Satya pun kembali berlari setelah mendapatkan informasi dimana kamar tempat Nia dirawat. Pandangan Satya tampak teliti melihat sekitar mencari nomor kamar Nia.


Tepat berada di depan kamar Nia dirawat, Satya berhenti sejenak mengatur nafas dan degup jantungnya.


Perlahan ia membuka pintu dan mendapati Nia yang sudah sadar duduk memandang keluar jendela.


“Sayang….” Ucap Satya.


Nia menolehkan kepalanya mendengar suara yang dirindukannya.


“Mas…” kata Nia seraya menelantangkan tangannya.


 Satya segera menghampiri Nia dan memeluknya lembut.


“Bagaimana keadaanmu sayang…??” tanya Satya yang menyentuh pelan kepala Nia yang dibalut perban.


“Alhamdulillah tidak ada luka serius mas… tadi dokter bilang hanya luka kecil dan hanya perlu dijahit sedikit.” Terang Nia.


“Benarkah….??? Alhamdulillah…. Syukurlah… Oh… ini sangat melegakan sayang…” ucap Satya.


“Tapi mas….”


“Kenapa sayang…??” kata Satya yang mendadak khawatir.


“Bagaimana keadaaan Clara mas…??? Waktu kecelakaan tadi kulihat dia langsung pingsan mas… aku khawatir mas… sampai saat ini aku belum mendengar tentang dia…” ucap Nia.


“Mas juga belum tahu bagaimana kondisi Clara karena tadi mas langsung menemuimu. Nanti mas akan cari tahu, ya…??! Sekarang istirahatlah dulu, mas harus mengabari Mama dan Bunda…” kata Satya.


Nia mengangguk patuh pada perintah Satya. Ia tadi memang ingin istirahat karena kepalanya masih terasa pusing. Namun ia merasa belum bisa tidur sebelum bertemu suaminya. Pikiran anehnya mengatakan ia akan tertidur selamanya dan tak terbangun lagi.


Sementara itu Satya sejenak keluar kamar meninggalkan Nia sendiri guna mengabari orangtua mereka dan juga melihat keadaan Clara.


Tak ingin berlama – lama meninggalkan Nia sendirian, Satya segera kembali ke kamar dengan sekantong buah – buahan dan juga minuman.


Dilihatnya sekilas Nia yang masih tertidur pulas. Setelah menaruh dan menata semua belanjaanya, Satya menarik kursi dan duduk di sisi Nia.


Menggenggam erat tangan Nia, pikiran Satya menerawang mengingat kembali pernyataan polisi yang sempat di temuinya sebelum kembali ke kamar Nia.


Pernyataan polisi yang mengatakan bahwa kejadian tersebut terjadi lantaran rem blong dari mobil box membuat Satya merasa sedikit aneh dan janggal.


Entah mengapa feelingnya berkata bahwa ini bukan sekedar kecelakaan biasa. Apalagi sopir mobil box itu selamat dan hanya luka gores karena melompat dari mobil sebelum tabrakan terjadi.


“Assalamu’alaikum….” Ucap Mama Dessy lirih saat membuka pintu kamar tempat Nia di rawat.


“Walaikumsalam…” ucap Satya menoleh ke sumber suara.


“Bagaimana kondisi Nia, Satya…??” tanya Mama Dessy yang melihat Nia masih tertidur pulas.

__ADS_1


Satya pun mengajak ibu mertuanya itu duduk di sofa dan menceritakan seluruh kronologi kejadiannya hngga kondisi ia saat ini.


“Syukurlah tidak ada yang serius…. Bagaimana pun ini adalah musibah Satya.. tidak ada yang menginginkan hal ini terjadi. Kita beruntung Nia baik – baik saja.” Ucap Mama Dessy.


“Iya ma…” jawab Satya walau dalam hatinya  ia merasa ada yang tidak beres dengan ini semua.


“Ma… Satya boleh minta tolong…??”


“Ada apa Satya…??”


“Satya titip Nia sebentar ma… Satya harus pulang sebentar untuk mengambil baju ganti dan beberapa barang yang dibutuhkan Nia.” Ucap Satya.


“Tentu saja, Satya. Pergilah, istirahatlah sebentar… Mama akan menjaga Nia disini.” Ucap Mama Dessy.


“Terimakasih ma…”


Satya pun beranjak keluar dari kamar Nia. Ada sesuatu hal yang harus ia selesaikan secepatnya, sebelum semuanya menghilang.


Satya tampak memencet sebuah nomor di ponselnya.


“Halo….. Ada sesuatu yang harus kamu cari tahu… saya tunggu di tempat biasa.” Ucap Satya pada seseorang dari ponselnya.


Satya pun berjalan menyusuri koridor rumah sakit menuju parkiran mobil.


“Satya….!!!” Sapa Bunda Wike dari kejauhan.


“Apa yang terjadi Satya…?? Bagaimana kondisi Nia…??” tanya Bunda Wike.


“Ada mobil box yang menabrak mobil yang ditumpangi Nia, bunda…. Katanya karena rem blong…”


“Ya Tuhan…. Bagaimana kondisi Nia sekarang…??”


“Syukurlah kalau Nia baik – baik saja… Bunda sangat kaget mendengar kabar darimu tadi… Bunda segera kesini, ayah juga sedang dalam perjalanan dari kantor.”


“Terimakasih bunda….” Ucap Satya memeluk bundanya.


“Lalu sekarang, kamu mau kemana…??” tanya Bunda Wike.


“Satya harus kembali ke apartemen sebentar bunda, ada beberapa barang yang harus Satya ambil. Satya titip Nia sebentar ya, bunda…?? Ada Mama Dessy juga di dalam…  Satya tidak akan lama.”


“Iya sayang… Bunda akan menjaga Nia.”ucap Bunda Wike,


Satya pun pamit dan melanjutkan tujuannya, bertemu dengan seorang kenalannya.


Satya fokus menyetir mobilnya, walaupun pikirannya lebih fokus pada hal yang lain.


Mobil Satya berhenti di parkiran sebuah taman. Namun ia tak kunjung keluar dari mobil, ia justru menekan sebuah nomor dari ponselnya.


Belum sempat panggilannya tersambung, seseorang mengetuk kaca mobilnya lalu masuk dan duduk di samping Satya.


“Aku ingin minta bantuanmu…. Istriku mengalami kecelakaan disini..” ucap Satya sambil menyodorkan kertas bertuliskan sebuah alamat.


“Aku ingin tahu apakah ini benar – benar kecelakaan atau disengaja…” lanjutnya.


“Baik pak….” Ucap laki – laki berkacamata hitam itu seraya keluar dari mobil Satya.


Satya pun kembali melanjutkan perjalanannya ke apartemen untuk mengambil beberapa baju ganti untuk dirinya dan juga untuk Nia. Satya akan menemani Nia hingga ia diperbolehkan pulang.

__ADS_1


Akhirnya setelah 3 hari dirawat, Nia sudah diperbolehkan pulang karena kondisinya semakin membaik. Selama 3 hari terakhir ininpun dengan setia Satya selalu menemani Nia sepanjang hari, siang dan malam. Tak sedikit pun Satya beranjak dari kamar Nia, selain untuk mengurus administrasi atau melihat keadaan Clara.


Bahkan untuk urusan mandi, makan ataupun pekerjaan kantornya semua ia lakukan di dalam kamar rawat inap Nia. Satya bahkan sampai meminta ijin tidak mengajar di kampus.


“Mas Satya… kita pulang hari ini…??” tanya Nia.


“Iya sayang… kondisimu sudah membaik, selanjutnya kamu bisa beristirahat di rumah.”


“Lalu Clara… bagaimana dengan gegar otaknya…??”


“Ia juga semakin membaik… tapi ia masih harus menjalani perawatan intensif dari dokter….”


Nia mengangguk paham. Dalam hati ia juga bersyukur walaupun Clara mengalami gegar otak ringan, tapi keadaannya semakin hari semakin membaik. Tidak ada kondisi serius yang perlu di khawatirkan.


Sudah seminggu lebih Nia pulang ke apartemennya. Walau sebenarnya baik Mama Dessy ataupun Bunda Wike menawarinya utuk tinggal sementara waktu di rumah mereka.


Namun Nia bersikukuh ingin tetap pulang ke apartemennya. Ia tidak bisa memilih antara Mamanya atau Bundanya, lebih baik ia tinggal di apartemen saja, lebih adil untuk keduanya. Alhasil, setiap hari secara bergantian Mama Dessy dan Bunda Wike yang berkunjung ke apartemen Nia.


Seperti hari ini, giliran Bunda Wike yang datang berkunjung ke apartemen Nia.


“Ini sayang… minum dulu jusnya.” Ucap Bunda Wike yang membuat Nia segelas jus strawberry kesukaan Nia belakangan ini.


“Terimakasih Bunda…”


“Sama – sama sayang… bagaimana kondisimu sekarang…??” tanya Bunda Wike.


“Nia sudah baik – baik saja bun… kadang hanya sedikit pusing, tapi Nia baik – baik saja bunda…”


“Syukurlah kalau begitu.”


Bunda Wike kembali ke dapur untuk mengisi kulkas dengan berbagai barang yang dibelinya dalam perjalanan ke apartemen Nia.


Ting… tong….


Terdengar suara bel apartemen berbunyi. Nia yang sedang duduk di sofa dan Bunda Wike yang berada di dapur saling menatap dalam diam.


“Aneh sekali.. tidak biasanya ada yang bertamu Bun… Kira – kira siapa ya bunda..??” tanya Nia.


“Entahlah… coba Bunda lihat dulu… kamu tunggu disini ya…” kata Bunda Wike.


Bunda Wike pun bergegas ke ruang tamu untuk membuka pintu guna mengetahui siapa gerangan yang bertamu. Tidak mungkin itu Satya, ia tak perlu memncet bel untuk masuk ke apartemennya sendiri, bukan…??


Atau mungkin anggota keluarga yang lain….??


Dengan masih tanda tanya, Bunda Wike pun membuka pintu dan sangat terkejut melihat seseorang yang berdiri di balik pintu.


“Kamu….???!!!”


“Hai tante… selamat siang, lama tidak berjumpa…”


.


.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2