
Terdengar riuh rendah dalam bus pariwisata yang membawa rombongan Anugrah Grup menuju ke puncak.
Mereka menyewa lima bus untuk membawa keluarga besar perusahaan tersebut.
Bu Sisil terlihat duduk di bangku belakang sopir, bersama sekretarisnya, sambil sesekali bercanda dengan kepala cabang daerah yang sederet dengannya.
Laura dan Winda duduk di deretan belakang bersama anak anak marketing. Di sana juga terlihat Alan dan Katrin. Mereka bernyanyi dan bercanda sepanjang jalan.
Tak jarang celetukan canda mereka terdengar, membuat deret depan yang ikut mendengarkan pun tertawa.
Rombongan mereka berangkat sekitar pukul delapan pagi. Butuh waktu sekitar tiga jam untuk menuju ke tempat tujuan mereka. Namun, karena menjelang akhir pekan, jalanan tolak ramai dari biasanya.
Dirga duduk bersama asistennya, Roy. Sebelum berangkat, Dirga meminum Antimo, supaya dapat tidur dengan nyenyak, karena semalam dia tidak dapat tidur dengan nyaman karena selalu dihantui mimpi aneh. Dan rasa sakit kepala hebat selalu menyerangnya. Kini, selama dalam perjalanan, Dirga tertidur dengan pulas.
Laura hanya dapat melihat kepala Dirga saja dari belakang. Sedangkan Roy, terkadang bercelatuk membalas candaan Katrin yang ada di deret belakang.
Roy, baru bekerja sekitar satu tahun. Namun, karena wajahnya yang tampan, dan tubuhnya yang gagah, efek rajin gym, membuat banyak karyawan perempuan yang menggodanya. Dia hanya tersenyum menanggapi godaan perempuan lain, katanya dia sudah punya kekasih. Namun, akhirnya dia membalas saat di goda karyawan lain, dengan candaan. Dirga yang mengajarkan hal itu. Itulah mengapa dia sering digoda habis habisan oleh Katrin.
Akhirnya setelah kira-kira lebih empat jam mereka sampai di tempat tujuan. Hotel milik Pak Anton, suami Bu Sisil berada di dekat area kebun teh. Pemandangan alam yang indah dan udara yang sejuk menyambut kedatangan mereka.
Hotel dengan konsep villa, dikelilingi oleh area perkebunan, memiliki area outbound dan area yang dapat digunakan untuk berbagai acara.
Laura dan karyawan lain segera turun dari bus menenteng tas bawaan mereka. Tampak Dirga menggeliat di tempat duduknya.
"Nyenyak tidurnya?" Tanya Laura sambil membenarkan tas ransel besarnya.
Dirga hanya mengangguk.
"Kamu sakit?" Tanya Laura lagi, sambil tangannya menyentuh kening Dirga.
__ADS_1
"Aku kurang tidur akhir akhir ini." Jawab Dirga.
"Ayo turun!" Ajak Laura, sambil berjalan menuju pintu bus. Dirga mengambil tas ranselnya, dan mengikuti Laura keluar dari bus.
Mereka berjalan mengikuti rombongan teman teman kerja mereka yang masuk ke area hotel.
Di depan hotel mereka telah di sambut oleh pegawai hotel, terdapat cemilan dan minuman telah disediakan di salah satu pojok lobi hotel. Para karyawan menyerbu hidangan membuka mereka, sebelum dibagi kelompok untuk kamar tidur mereka.
Laura, sekamar dengan Winda dan Katrin. Setelah pembagian kamar selesai, mereka menuju kamar mereka untuk meletakkan barang-barang. Mereka diberi waktu selama lima belas menit untuk meletakkan barang di kamar, selanjutnya acara makan siang di aula hotel.
Laura berjalan bersama Katrin dan Winda menuju kamar mereka. Dirga tampak berjalan di belakang mereka. Ia baru kali ini ke hotel milik Papanya. Bu Sisil mendapat kamar di dekat area aula, si bagian agak depan.
Laura berkhayal seandainya kebun teh di area itu adalah milik suami Nora, dan perkebunan sayur di dekat itu milik keluarga Nora, berarti dia dapat bertemu dengan Kakek Neneknya Gwen. Khayalan Laura pusat, setelah Katrin bersorak menemukan kamar mereka.
Dirga, Roy, Alan, dan beberapa karyawan lelaki lain menginap di sebelah kamar mereka yang berbentuk villa itu.
Mereka menikmati makan siang dengan hiburan band hotel itu. Menu komplit hidangan nusantara telah disediakan oleh pihak hotel untuk makan siang peserta gathering.
Laura menikmati makan siangnya dengan lahap, karena memang lapar. Lalu dia mendekati band penghibur mereka, berbincang sejenak, lalu ia berdiri di belakang mik. Musik mulai dimainkan, lagu Menghapus Jejakmu dari Noah dibawakan oleh Laura dengan versinya.
Selesai membawakan lagu, terdengar tepuk tangan dari semua yang menyaksikan. Laura tersenyum sambil menundukkan tubuhnya memberi ucapan terima kasih.
"Lagi... Lagi.. lagi!!" Teriak teman teman Laura. Membuat ia melotot.
Lalu seorang pemain gitar berbisik padanya untuk memainkan sebuah lagu kembali.
Laura melihat ponselnya untuk mencari lirik lagu yang akan dinyanyikan olehnya. Lalu ia menunjukkan pada pemain band itu, mereka menganguk mengerti.
Laura menyanyikan lagu Sayang, dengan versi dangdut, membuat teman temannya ikut bergoyang dan mengikuti menyanyi liriknya. Suasana saat itu terlihat sangat seru. Bu Sisil tersenyum menatap Laura yang bisa menghibur teman temannya.
__ADS_1
Sejak dahulu ia sudah menyukai Laura. Meskipun terkadang ia lebih tertutup, namun Laura merupakan anak yang jujur, bekerja keras, dan baik. Ia telah mengenal keluarga dan Laura sendiri sejak ia masih kecil. Bahkan ia menjadi pahlawan untuk Dirga kala itu. Keberanian Laura menyelamatkan Dirga membuat keluarganya berhutang budi padanya.
Ketika kabar duka tentang Bapaknya, Bu Sisil melayat. Saat itu kebetulan ia sedang membangun usaha di Yogya, Laura mendapat tawaran bekerja paruh waktu di sana. Hingga saat ini, ia masih bekerja pada Bu Sisil.
Dirga tersenyum melihat Laura yang bernyanyi dan bergoyang menghibur rekan-rekannya. Ada perasaan aneh dalam dirinya saat melihat Laura. Ia masih ingat saat Laura dengan berani menyelamatkannya waktu itu.
Kejadian saat ia masih kecil, tak sengaja diculik orang, namun tak sengaja dilihat oleh Laura. Laura mengikuti Dirga dengan sepedanya. Dirga disekap selama dua hari, dan Laura berhasil menyelamatkannya, namun ia harus menerima beberapa luka yang dibuat oleh penjahat itu.
Sejak itu, selesai menamatkan SD di Yogya, ia pindah ke Jakarta. Dan tak mau lagi pergi ke Yogya karena trauma masa kecilnya itu. Namun, ada satu potong ingatannya seolah menghilang. Ia tak ingat setelah kuliah, dan bagaimana ia dapat ke Amerika.
Ingatannya pada saat ia tinggal di Amerika bersama Mbak Ayu, lalu setelah Mbak Ayu menikah dengan Pria Itali itu, membuat Eyang mengultimatum harus menikah dengan perempuan pribumi berdarah Jawa. Dan itu adalah Laura.
"Mas Dirga, mau nambah kopinya lagi tidak?" Tanya Roy mengejutkan Dirga.
"Oh, ga usah. Terima kasih." Jawab Dirga.
Ia keluar dari aula itu ingin mencari udara segar untuk membersihkan paru paru nya. Tapi sepertinya tidak membersihkan paru-paru, karena yang ia lakukan adalah menyulut sebatang rokok dan menghisapnya.
Ia teringat akan Lisa, gadis cantik yang selama ini mengisi hari harinya. Namun, akhir akhir ini terabaikan karena sakit kepala yang menyerangnya.
Ia mengambil ponsel dari sakunya, dan membuka wa, mencari chat bersama Lisa. Ia mengirim pesan padanya, dan mengucapkan maaf.
Ia membaca pesan sebelumnya dari Lisa. Betapa perhatiannya kekasihnya itu padanya. Dirga benar benar merasa sangat bersalah seketika. Seandainya Lisa berada di dekatnya, ia akan memeluk dan meminta maaf langsung padanya.
Selesai menyanyi Laura turun dari panggung. Ia mengambil sebotol air mineral, dan meneguknya hingga tinggal sepertiganya. Ekor matanya melihat sosok Dirga berada di halaman sambil menikmati sebatang rokok.
Ia ingin menghampiri, namun ia tak ingin ada gosip tak sedap tentangnya dengan Dirga. Maka ia mengurungkan niatnya.
Ia ingin menanyakan mengapa Dirga berubah akhir akhir ini pada Lisa. Laura tak rela, jika sahabatnya itu terluka karena sikap Dirga.
__ADS_1