
Niko duduk bersebelahan dengan papanya yang mengemudikan mobil, meluncur melesat meninggalkan kediaman keluarga Wijaya.
Niko menekan layar benda pipih favoritnya. Tampak menghubungi sebuah nama yang tersimpan di dalam daftar kontaknya.
“Semua urusan saya sudah selesai.” Ucapnya pada seseorang yang dihubunginya.
Papa Niko, Pak Andrian melirik sekilas pada anak semata wayangnya itu.
“Kamu yakin dengan keputusanmu ini?”
“Yakin pa.” jawab Niko mantab.
“Tapi bukankah kamu menaruh hati pada Nia?” tanyanya kembali.
“Memang benar pa, Niko memang menyukai Nia. tapi hati Nia sudah memilih orang lain, dan orang lain itupun juga menyukai Nia. Justru Niko yang menjadi orang ketiga, bukan? Niko tidak mau jika kebahagiaan Nia yang dipertaruhkan pa. Lebih baik Niko yang melepasnya.” Jawab Niko lirih.
“Baiklah kalau itu sudah menjadi keputusanmu. Papa akan tetap mendukungmu.”
“Terimakasih pa.” ucap Niko tulus.
Sementara itu di kediaman Pak Wijaya, dengan tergopoh – gopoh bik Tini kembali menemui kedua majikannya yang sedang duduk bersantai di ruang tengah.
“Permisi pak, bu.. ada tamu di luar.” Ucap bik Tini.
Pak Wijaya dan Mama Dessy kembali saling menatap satu sama lain.
“Siapa bik?” tanya Mama Dessy.
“Duh, maaf bu. Tadi bibik lupa tanya namanya. Orangnya masih muda bu.”
Mama Dessy menautkan kedua alisnya.
“Laki – laki atau perempuan bik?” tanya Pak Wijaya kemudian.
“Laki – laki pak. Mana ganteng pisan pak! Tadi nyariin bapak sama ibu katanya.” Ucap bik Tini antusias.
“Ya sudah. Makasih ya bik.” Ucap Pak Wijaya.
“Iya pak.” Ucap bik Tini kemudian berlalu meninggalkan ruang tengah.
“Kira – kira siapa ma?” tanya Pak Wijaya penasaran.
“Mungkin rekan bisnis papa?” jawab Mama Dessy santai.
“Rekan bisnis mana ada yang datang tanpa menelpon atau janjian dulu ma..”
“Ya sudah, ayo kita ke depan! Kita lihat siapa yang bertamu.” Ajak Mama Dessy.
Mereka berdua pun beranjak dari ruang tengah dan menuju ke ruang tamu. Dilihatnya tamu yang di maksud tadi duduk di sofa ruang tamu membelakangi mereka.
“ Selamat siang.” sapa Pak Wijaya.
Pemuda yang dimaksud pun membalikkan badan dan memberikan salam.
“Selamat siang Pak Wijaya.” Ucapnya.
“Lho...!” Mama Dessy terkejut melihat siapa yang datang bertamu.
__ADS_1
“Selamat siang tante.” Ucap Satya seraya mencium takzim punggung tangan Mama Dessy.
“Nak Satya?” Mama Dessy masih terkejut mendapati kedatangan Satya yang tiba – tiba di rumahnya.
“Silakan duduk dulu nak Satya.” Ujar Pak Wijaya.
Satya pun kembali duduk di sofa. Begitu pula dengan Pak Wijaya dan Mama Dessy yang juga langsung duduk tepat dihadapan Satya.
“Ada keperluan apa nak Satya datang ke rumah tante? Tunggu.. tunggu.. nak Satya datang kesini sebagai dosennya Nia atau rekan kerja suami tante?” tanya Mama Dessy yang sudah penasaran.
Pak Wijaya menyenggol lengan istrinya. Mengode untuk diam dan mendengar penjelasan Satya terlebih dahulu.
“Jadi begini, sebelumnya saya minta maaf dengan kedatangan saya yang tiba – tiba. Saya datang kesini bertujuan untuk....” ucap Satya
Disisi lain, dengan sedikit terseok – seok Nia melangkah keluar dari perpustakaannya menuju dapur untuk mengisi kembali air minumnya yang habis.
Bik Tini yang sedang membereskan dapur membantu mengisi kembali gelas Nia yang kosong.
“Bik, Niko sama papanya belum pulang ya?” tanya Nia.
“Sudah Non.” Jawab bik Tini.
“Kok di depan kayak masih ada suara rame – rame bik?” tanya Nia kembali.
“Oh itu ada tamu lain lagi,Non. Tamunya Bapak sama Ibu. Tapi masih muda Non, mana tinggi cakep lagi! Persis kayak artis luar gitu, Non!”
“Ih Bik Tini, ada- ada aja! Siapa sih bik? Nia jadi kepo.” Ucap Nia yang kemudian diam – diam berinisiatif untuk sedikit mengintip ke ruang tamu.
Dengan langkah pelan, Nia mendekat kearah ruang tamu. Nia sayup – sayup mendengar suara yang tidak asing di telinganya.
“Jadi begini, sebelumnya saya minta maaf dengan kedatangan saya yang tiba – tiba. Saya datang kesini bertujuan untuk melamar Nia.” ucap Satya mantab tanpa ragu.
“Ya....melamar. Saya berniat melamar Nia, menjadikannya istri saya.” Jawab Satya lugas.
PYAAAARRRR!!!!!
Gelas yang dibawa Nia tiba – tiba lepas dari genggamannya.
Sontak semua orang yang berada di ruang tamu melihat ke arah sumber suara.
Nia berdiri terpaku tepat di ujung ruang tamu. Mendengar dan menyaksikan sendiri apa yang baru saja terjadi.
“Pak Satya ngelamar gue???” batin Nia.
“Nia!! kamu tidak apa- apa sayang??” pekik Mama Dessy seraya menghampiri Nia.
Pak Wijaya serta Satya pun ikut terkejut hingga berdiri dari kursinya.
“Nia... Nia..!!” seru Mama Dessy menggoncang bahu Nia.
“i.. iya ma..” jawab Nia terbata.
“Ayo duduk dulu.” Ajak Mama Dessy.
Dan kini jadilah Nia duduk diapit oleh kedua orang tuanya, sedangkan Satya duduk tepat berhadapan dengan mereka.
“Ehem! Jadi bagaimana tadi nak Satya? Maaf terpotong.” Kata Pak Wijaya dengan tenang.
__ADS_1
“Saya datang kemari berniat untuk melamar putri Pak Wijaya, Nia.” Ucap Satya mengulangi kalimatnya.
“Apa nak Satya sudah yakin dan mengenal anak saya dengan baik?” tanya Pak Wijaya.
“Iya pak. Saya sudah yakin dan saya juga sudah cukup mengenal Nia.” jawabnya.
“Nia adalah putri sulung saya, beban yang harus dia tanggung juga cukup berat. Selain itu dia juga ceroboh, cerewet dan masih seperti anak kecil. Apa nak Satya masih bersedia untuk menjadikannya pendamping hidup?”
“Iya pak. Saya yakin.” Jawab Satya mantab.
“Apakah nak Satya benar – benar mencintai anak saya?”
Satya menarik nafasnya dalam – dalam.
“Iya pak. Saya mencintai Nia, putri bapak.” Jawab Satya dengan tatapannya yang lurus menatap Nia.
DEG!!
Nia hanya diam terpaku. Bahkan saat ini otaknya benar – benar tidak bisa berpikir apa – apa.
Pak Wijaya menghela nafasnya,
“Maafkan saya nak Satya....”
Serta merta Mama Dessy dan Nia menatap Pak Wijaya.
Satya terdiam, mendengarkan dengan seksama perkataan yang akan diucapkan oleh Pak Wijaya.
“Fakta bahwa nak Satya melamar putri saya tentu saja adalah kabar yang baik. Apalagi saya dan istri saya juga sudah cukup mengenal keluarga nak Satya. Tetapi jujur saja, saya merasa hal ini cukup mendadak. Kami butuh waktu untuk membicarakan ini. Bahkan Nia juga tidak pernah bercerita tentang nak Satya kepada saya.” Ucap Pak Wijaya.
“Datanglah kembali besok malam. Ikutlah makan malam dengan kami. Saya pastikan akan memberi jawaban atas lamaran nak Satya kepada putri saya.” Imbuhnya.
Satya pun mengerti dan memahami keinginan Pak Wijaya.
Ia pun memutuskan untuk berpamitan dan berjanji akan kembali lagi besok malam.
Setelah mengantar Satya hingga ke halaman depan, Nia beserta kedua orang tuanya kembali duduk di ruang tengah.
Nia masih terdiam dan berusaha mencerna apa yang terjadi.
“Jadi bagaimana Nia?” tanya Pak Wijaya.
Nia tampak berpikir, “ Niko????”
.
.
.
.
.
.
.Bakalan di terima atau di tolak ya readers?? tunggu kelanjutannya ya. silakan like dan komentar dulu ya, supaya Author lebih semangat ngehalu. Terimakasih.
__ADS_1
.
.