Kesempatan Kedua

Kesempatan Kedua
Teka Teki


__ADS_3

Laura masih menekuni laporan keuangan yang harus di sampaikan pada Bu Sisil untuk meeting bulanan. Sambil membuka file file lama, ia baru menyadari, jika laptop yang dipakainya adalah baru.


"Win, laptop gue ini udah jadul kali ya, lelet!" Keluh Laura, berakting untuk mencari tau usia laptopnya, supaya Winda tidak curiga.


"Enak aja, laptop Lo itu termasuk baru. Dulu kita pake komputer pc, tapi data datanya sudah dipindah semua ke laptop, kata Pak Bagus IT." Jawab Winda.


"Ini gue udah selesai, tar gue email, tolong Lo print ya, buat Bu Sisil meeting nanti abis makan siang." Ucap Laura pada salah satu staff.


"Baik Mbak." Jawabnya dengan ramah.


Laura mencoba mencari file keuangan sepuluh tahun ke belakang, mencari data keuangan saat ia ke luar negeri.


Laura menghembus napas dalam dalam dan menghempaskan tubuhnya bersandar pada sandaran kursi kerjanya. Ia memejamkan matanya, lalu melepaskan kacamata yang dikenakan.


Lalu ia hanya menatap kembali layar monitor sambil kedua tangannya menopang dagu.


Winda melihat dengan heran rekan kerjanya itu, jarang sekali Laura akan terlihat stress menatap monitornya.


"Kenapa La?" Tanya Winda sambil mendekati meja Laura.


"Gue cari laporan keuangan, yang lama, sudah ga ada." Ucap Laura dengan pasrah.


"Buat apa?" Tanya Winda sambil mengerutkan keningnya.


"Cuma buat analisis aja, buat perbandingan saja." Jawab Laura mencari alasan. Karena tidak mungkin ia mengatakan yang sesungguhnya pada Winda.


"Coba dibuka. Biasanya file lama akan kita sembunyikan, biar ga keliatan banyak atau numpuk gitu." Jawab Winda.


Mata Laura langsung berbinar mendengar jawaban Winda.


"Astaga, kenapa gue jadi lelet begini ya! Makasih Win." Ucap Laura sambil tersenyum lebar pada Winda.


"Udah ah, tuh, Alan sudah menuju ke sini. Alamat kita ga boleh telat. Soalnya meeting bulan ini sebagai besar buat acara ulang tahun dan gathering." Ujar Winda.


Laura menutup laptopnya, lalu mengambil buku catatannya, dan ponsel. Lalu menuju ke ruang meeting.

__ADS_1


Laura mengambil posisi berseberangan dengan Dirga, yang duduk berdampingan bersama Mamanya. Satu persatu karyawan telah masuk ke ruang meeting itu.


Bu Sisil menatap sekelilingnya memastikan seluruhnya hadir pada meeting kali ini.


"Baiklah, terima kasih atas kehadiran semuanya. Berdasarkan laporan keuangan sebulan kemarin, kita mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Pembelian dari e-commerce dan aplikasi perusahaan sangat meningkat. Saya bangga dengan kerja keras semuanya. Terutama untuk team Persada Swalayan dan cafenya." Ucap Bu Sisil membuka meeting kali itu.


Terdengar tepuk tangan dari beberapa orang, lalu semuanya memberi tepuk tangan untuk keberhasilan kali itu.


Lalu Dirga memberikan presentasi untuk review hasil kerja selama sebulan yang lalu. Ia menggerakkan pointer laser pada layar sambil menerangkan tabel angka angka yang ada di sana.


Saat menatap Dirga, kepala Laura terbayang foto fotonya ala foto box bersama Dirga. Foto mereka sedang berciuman. Semua seolah-olah terbayang di kepala Laura. Ia tidak begitu jelas mendengar yang dikatakan oleh Dirga. Yang ia lakukan hanya menatap Dirga.


"Bagaimana Laura? La..!" Suara Dirga menyadarkan lamunannya.


"Eh..ya.. Ya.. semua baik." Jawab Laura sambil nyengir menatap Dirga dan Bu Sisil.


"Bagaimana menurutmu untuk acara ulang tahun besok?" Ulang Dirga.


"Semuanya sepertinya sudah siap. Alan sudah mengaturnya dengan baik. Besok saya coba cek ulang kembali di lapangan." Jawab Laura berusaha kembali fokus.


"Semua sudah oke. Hotel sudah beres, lalu untuk acara, kita akan memakai eo dari hotel saja. Untuk acara jalan jalan, rencananya kita akan ke kebun teh yang letaknya, tidak jauh dari hotel." Jawab Katrin sambil berdiri.


"Untuk pengisi acara sudah oke?" Tanya Dirga.


"Menurut voting terbanyak, mengundang komika saja, dan untuk acara hiburan, mungkin teman teman yang memiliki kemampuan menyanyi boleh unjuk gigi di acara itu." Lanjut Katrin.


Ya, Katrin! Laura menatap Katrin sambil tersenyum. Ia teringat Katrin pernah bercerita, mengirim foto Laura pada Dirga. Katrin dan Laura bekerja di Anugrah Grup hampir bersamaan, lalu ada Ben juga. Baru setelah beberapa tahun kemudian, Winda masuk menjadi rekan Laura. Ia berencana mencari tau dari Katrin.


Meeting berlangsung hampir dua jam. Lalu setelah ada kesepakatan dan beberapa hal yang harus direvisi kembali. Bu Sisil menyudahi meeting hari itu.


Laura dan Winda kembali ke ruangan mereka dan melanjutkan pekerjaan kembali.


Laura kembali memeriksa data lama dengan membuka laman yang tersembunyi.


Betapa terkejutnya ia, saat ada satu file, berisi foto-foto wisata ke Amerika.

__ADS_1


Terlihat ada Bu Sisil, Ben, Laura, Katrin, Manager bagian lain, dan beberapa orang lain yang sudah keluar dari perusahaan.


Ben dan Katrin juga ada? Ataukah dulu sebelum bersama diriku-Gwen, Ben menjalin hubungan dengan Katrin. Mengingat, Alan pernah bercerita, Katrin pernah bercinta dengan Ben, setelah bertemu di bar, selepas kematian Gwen.


Laura menurunkan kursor mousenya, tampak foto foto dirinya bersama Dirga. Hanya berdua. Yang lain di mana? Lalu ia melihat sebuah rumah, alamatnya sama dengan alamat Radit. Lalu ia melihat sebuah foto, Radit bersama seorang perempuan sedang berpelukan.


Laura menyalin file itu ke dalam flashdisk, untuk dipindahkan pada laptop miliknya di rumah. Jangan jangan dalam laptop itu ada file tersembunyi juga.


Hari itu Laura sangat tidak fokus bekerja, pikirannya ke mana mana. Radit bersama perempuan lain, dan Laura bersama Dirga. Apa yang sebenarnya terjadi? Atau harus bertanya pada Ben? Atau Katrin?


Saat jam kerja telah selesai. Laura membereskan meja kerjanya, lalu mengembalikan semua file pada posisi semula, menutup file tersembunyi itu. Winda dan staff telah pulang duluan.


Laura masih membereskan beberapa file pekerjaan dan mengirim pada staff lain melalui email untuk dikerjakan keesokan hari.


Laura menutup pintu ruangannya, tepat saat itu Dirga benda pulang juga.


"Mau pulang?" Tanya Dirga.


"Ya. Kenapa?" Tanya Laura.


"Terima kasih untuk semua bantuanmu selama menjalankan anak perusahaan ini. Aku benar-benar terbantu dengan adanya kamu La." Ucap Dirga.


"Sama sama Ga." Jawab Laura pelan.


"Kamu sakit?" Tanya Dirga, tangannya menyentuh kening Laura.


"Nggak, ga apa apa. Aku hanya lelah saja." Jawab Laura menepis tangan Dirga.


Dirga masih terlihat mencemaskan Laura.


"Sudah, aku bisa pulang sendiri. Hari masih terang. Makasih." Lanjut Laura sambil berlalu.


"La, aku antar saja ya? Kalo ada apa apa ribet. Kerjaan bakal banyak yang terpending." Tawar Dirga.


Laura terdiam. Memikirkan banyak kemungkinan. Dia akan bertanya pada Dirga mengenai masa lalunya.

__ADS_1


Dirga masih menunggu jawaban Laura. Akhirnya, Laura menganguk. Ia menuju ruang sopir perusahaan, untuk menitipkan mobilnya di kantor hari itu, dan pulang bersama Dirga.


__ADS_2